Rabu, 26 September 2018

LAFADZ SYAHADAT SEORANG KAFIR DI PENGHUJUNG MAUT


9 April 1991 (minggu ketiga bulan Ramadhan), pukul 07:00 WIB di RSU Abdoel Moeloek Tanjung Karang. Didalam ruang ICU, ia sedang menjadi seorang pesakitan. Dia telah menjajaki berbagai rumah sakit untuk terus berjuang bersama kanker payudara yang sudah berhasil membuat sebelah payudaranya terangkat. Dengan ditemani oleh suami dan puteri sulungnya, sudah dua pekan ia menjadi penghuni ruangan dengan berbagai alat medis dan aroma obat yang sangat menyengat. Ah itu semua sudah sangat akrab dengan dirinya.

Kemarin saat dokter memberikan hasil lab pada puteri sulungnya, sang dokter mengatakan : “Ibu sudah tidak memiliki pantangan makanan apapun. Berikan apapun yang ingin beliau makan.”
“Apakah itu artinya ibu saya sudah sembuh dokter ?” tanya sang puteri sulung. Dokter hanya menghela nafas : “Saya selaku team medis hanya berusaha, kesembuhan milik Tuhan.” begitu ujarnya sambil tersenyum datar dan pergi. Sang puteri sulung yang juga seorang tenaga medis, bisa membaca hasil dari lab tersebut. Namun ia tetap menguatkan dalam hati bahwa ada zat yang maha ajaib dengan segala kemukjizatanNYA bila berkehendak. Walau disudut matanya menggenang cairan bening, melihat sesosok wanita yang ia panggil ibu masih tergolek lemah diatas ranjang rumah sakit. Teringat dalam ingatannya beberapa bulan yang lalu, saat datang keluarga calon suaminya untuk melamar dia pada orang tuanya. Ia sempat mendengar sang ibu yang kini tergolek diranjang itu berusaha meyakinkan pada ayahnya bahwa calon menantu adalah pria bertanggung jawab.

“Iya bu, ayah tahu dia laki-laki bertanggung jawab, tapi ayah ini majelis gereja, apa kata orang gereja kalau kita memiliki menantu Islam ?”
“Lusi yang akan menjalani yah, sudahlah Islam ataupun Katolik yang penting Lusi bahagia. Dulu kan aku juga dari keluarga Islam.”
“Tapi kan aku tidak memaksamu untuk masuk Katolik !”
“Iyaaa…. Tapi dalam Islam, menikah dengan bapak secara Katolik sama saja menjadikan aku Katolik.”
“Sudahlah bu, kita nggak lagi bahas diri kita, tapi kita lagi bahas Lusi !”
“Iyaaa… biarkan Lusi hidup dengan pilihannya. Ibu mau Lusi bahagia !”
“Bagaimana kalau nanti Lusi malah jadi Islam ?”
“Sama saja toh ? dulu juga aku Islam sekarang jadi Katolik ?”
“Ya beda bu… dalam Yesus ada keselamatan, dalam Islam tidak !”
“Ya sudah begini saja. Bukankah di Katolik ada pernikahan dispensasi yang bisa menikahkan pasangan yang berbeda agama ? kita minta Lusi menikah dispensasi di gereja.” Akhirnya ayah setuju dengan usulan ibu. Lamaranpun berlangsung dengan lancar. Puteri sulung bahagia, namun kebahagiaan itu harus sejenak di interupsi oleh kondisi ibunya yang makin lama makin memburuk. Keluarga calon suami tinggal di Tanjung Karang, sering datang menjenguk ibunya yang sedang sakit. Karena mereka selalu datang dengan menggunakan busana muslim, suster dan dokter di rumah sakit itu mengira bahwa mereka adalah keluarga muslim. Ah biarlah.

Diranjang sang bunda melihat ada sesosok entahlah siapa dia seolah menaruh sebuah layar didepan wajahnya. Dengan suara lemah ia berusaha memanggil puteri sulungnya.
“Lus… siapa dia ?”
“Siapa bu ?”
“Itu dia kasih layar seperti mau setel sesuatu.”
“Yang mana ?” sang anak bingung dengan yang ditunjuk oleh ibunya. Dia sama sekali tidak melihat apapun. Namun sang bunda tiba-tiba terdiam. Ada tetesan-tetesan bening mengalir di sudut matanya.
“Itu saat dulu waktu kecil ibu belajar mengaji dengan teman-teman.” Sang puteri sulung hanya mendengarkan saja apa yang dikatakan ibunya.
“Itu dulu waktu ibu lulus dari akper panti rapih.”
“Itu dulu pertama kalinya ibu pulang dan ngobatin simbahmu.”
“Itu dulu waktu pertama kali ibu menolong orang melahirkan. Mereka sangat miskin, ibu nggak tega bicara soal bayaran.”
“Itu dulu waktu ibu menikah dengan ayahmu.”
“Itu saat ibu bikin pelatihan untuk dukun-dukun beranak didesa.”
“Masya Allah… itu juga ada waktu ibu hujan-hujan tengah malam, dijemput pakai sepeda tolong orang melahirkan di desa yang dekat hutan itu !” sang anak sebenarnya sungguh bingung mendengarkan ibunya meracau sendiri. Namun tetap ia dengarkan.
“Itu orang yang rumahnya kebakaran dan ibu tampung di rumah kita ! lihat kan Lus ?” Sang anak tetap tidak bisa menjawab. Tangannya terus menggenggam tangan ibunya, air matanya makin deras mengalir. “Ada apa dengan ibuku ya Tuhan !”
“Itu anak bu Imam yang kecelakaan dan kita rawat di rumah kita.”
“Itu orang-orang yang dulu pernah ibu gratiskan waktu melahirkan. Ya Allah anak-anaknya sudah mulai besar !”
“Itu masjid ! iyaa… ibu pernah kasih uang untuk pembangunan masjid itu !”
“Itu orang-orang yang pernah ibu bebaskan hutangnya.” Ibunya terdiam dari meracau.

Si puteri sulung melihat ayahnya mendekat ke ranjang ibunya. Sang ibu gelisah sambil berteriak : “Pergi ! pergi ! ayah pergi saja sana !”
“Bu… tenang bu… ayah hanya mau lihat kondisi ibu.” Si puteri sulung berusaha menenangkan ibunya. Tapi sang ibu terus saja berteriak mengusir sang ayah. Hingga akhirnya, ibu minta makan. Mau makan nasi padang katanya. Akhirnya ayah mengalah. Pergi untuk membeli nasi padang yang diminta ibu. Baru beberapa menit ayah pergi, ibu kembali meracau.
“Lus… itu rumah siapa ? halamannya bagus sekali !”
“Yang mana bu ?” lagi-lagi puteri sulungnya dibuat bingung. Tiba-tiba si puteri sulung melihat nafas ibunya terpatah-patah, bola matanya mendelik melihat keatas. Si puteri sulung panik. Ia berusaha mengejar ayahnya, namun ternyata sang ayah sudah tidak terlihat. Ia berlari lagi ke kamar ibunya. Suster berhijab lewat.
“Suster ! Tolong ibu saya suster !” sang suster bergegas masuk ke kamar ibunya. Ibunya masih dalam kondisi tadi. Nafasnya tersengal patah-patah, bola matanya mendelik keatas. Suster mendekati ibu dan menuntunnya mengucapkan : “La Illahaillallah” masya Allah… sang ibu mengikutinya dengan sangat lancar, kemudian nafasnya berhenti. Suster menutup matanya sambil berucap : “Innalillahi wa’inaillaihi roji’un.”

Cerita diatas langsung dituturkan oleh kakak sulung saya. Saat kutanyakan pada seorang kiyai : “Bagaimana mungkin seorang yang sempat Islam, kemudian menjadi kafir, Allah perkenankan untuk mengambil kembali ke-Islamannya justru pada saat sakaratul maut ? bukankah banyak orang, bahkan tidak semua muslim mampu melafadzkan syahadat pada saat sakratul mautnya ?” Pak kiyai hanya menjawab dengan cerita ini :

Pada suatu hari, datanglah iblis menghadap Nabi Yahya as dan berkata sebagaimana berikut terangkum dalam dialog.

Iblis : "Wahai Nabi Yahya, aku ingin memberimu nasehat."
Nabi Yahya as : "Kamu bohong. Kamu jangan menasehati aku, tetapi beritahukan kepadaku tentang anak cucu Nabi Adam as."
Iblis : "Anak cucu Adam itu menurut asal ada tiga golongan, yaitu:
1. Golongan yang paling keras terhadap golongan kami. Bila aku menemukan kesempatan untuk menggodanya, maka kesempatan itu tidak bisa aku manfaatkan sehingga kami tidak memperoleh apa-apa dari mereka.
2. Golongan yang kami kuasai. Mereka ini ditangan kami tidak ubahnya seperti bola di tangan para anak-anak kami yang kapan saja bisa dimainkan. Kami puas atas mereka ini.
3. Golongan orang-orang seperti Anda. Mereka ini oleh Allah SWT dilindungi sehingga aku tidak dapat menembus mereka.
Nabi Yahya as : "Kalau begitu, apakah kamu mampu menggoda aku?"
Iblis : "Tidak. Tapi hanya sekali saja aku mampu menggodamu. Yaitu ketika menghadapi makanan, lalu makan sekenyang-kenyangnya sampai tertidur pada waktu itu. Saat itu kamu tidak melakukan shalat malam seperti pada malam-malam sebelumnya." (riwayat dari Abdullah bin Al Imam Ahmad Hambal dari Tsabit Al Bannani). Karena Iblis tidak mampu menggoda Nabi Yahya as, maka iblis pun pergi untuk kembali nanti. Iblis berfikir, mungkin di kesempatan lain bisa menggoda NabiYahya as.

Dilain kesempatan, Iblis mendatangi Nabi Yahya as lagi, dan kali ini iblis tengah memperlihatkan dirinya dengan beberapa barang yang tergantung, dan terjadilah dialog lagi sebagaimana berikut.
Nabi Yahya as : "Apakah barang-barang yang tergantung itu, wahai Iblis laknatullah?"
Iblis : "Ini adalah beberapa syahwat yang aku dapat dari anak Adam.
Nabi Yahya as : "Apakah aku juga ada (syahwat)?"
Iblis : "Kadang-kadang kamu kebanyakan makan (maksudnya sekali itu saja hingga Beliau tertidur), lalu kamu berat untuk menjalankan shalat dan dzikir kepada Allah SWT."
Nabi Yahya as : "Apakah ada yang lain?"
Iblis : "Tidak ada. Wallahi tidak ada."
(Ini menunjukkan bahwa para Nabi dan Rasul itu benar-benar dilindungi oleh Allah SWT dari perbuatan dosa).
Nabi Yahya as : "Ketahuilah wahai Iblis, sesungguhnya Allah SWT tidak akan memenuhkan perutku dari berbagai makanan."
Iblis : "Aku rasa demikian. Aku pun juga begitu, aku tidak akan memberi nasehat kepada anak cucu Adam."

Diriwayatkan dari Ibnu Abid Dunya dari Abdullah. Saat itu, Iblis mendatangi Nabi Yahya as ketiga kalinya, dan dialogpun terjadi lagi.
Nabi Yahya as : "Wahai Iblis, tolong beritahu aku apakah yang paling engkau sukai dari manusia? Dan apakah yang paling engkau benci dari manusia."
Iblis : "Orang yang paling aku sukai adalah orang mukmin yang bakhil. Sedangkan orang yang paling aku benci adalah orang kafir tetapi dermawan."
Nabi Yahya as : "Mengapa bisa begitu?"
Iblis : "Orang mukmin yang bakhil itu menurut aku sudah cukup (untuk digoda amalnya karena kecintaannya pada dunia dan selalu berhitung harta pada Allah). Tetapi kalau orang kafir yang suka bersedekah, aku khawatir kalau kedermawananya itu diketahui oleh Allah SWT lalu diterima amalnya, itu berarti aku tidak punya teman di neraka nanti."
Kemudian Iblis pergi dari hadapan Nabi Yahya as sambil berkata, "Kalau kamu bukan Yahya UtusanNya, tentu aku tidak akan memberitahu tentang masalah ini."

Sebelum menutup cerita ini pak kiyai berkata : “Allah itu maha adil dan maha teliti dalam berhitung. Allah juga maha pemurah. Allah akan tetap hitung setiap sedekah yang diberikan untuk hamba-hamba Allah dan digunakan dijalan Allah walau diberikan dari tangan seorang kafir ataupun tangan seorang pezinah sekalipun. Maka bila kau menyayangi dirimu dan hartamu, jangan pernah berhitung harta pada Allah ! Jangan pernah berhitung ilmu pada Allah ! Jangan pernah berhitung waktu pada Allah ! sebab Allah mampu mengganti semua itu dengan ampunan yang lebih luas dari samudera dunia !”

Aku mulai merenung. Ibuku yang seorang kafir, dapat kembali pada Islam justru disaat berhadapan dengan sakratul maut karena sedekahnya. Sungguh disayangkan bila masih ada orang mukmin yang sudah lakasanakan sholat, puasa, mengaji, namun masih berat untuk berzakat dan ber-infaq. Masih berhitung : “Ah sudahlah, cukup sedekah di masjid dekat rumah saja. Ah sudahlah, cukup sedekah ke anak yatim dekat rumah saja. Mengapa mencukupkan satu pintu saja untuk sedekah ? tidakkah ingin ada banyak tangan yang bisa menarikmu ke surga nanti ?

Menulis sebagai bahan renungan diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HANYA BUTUH TAAT DAN ISTIQOMAH

(Nama & tempat dirahasiakan, agar tidak menjadi riya) Dulu saat saya jadi wanita karier, seolah tidak masalah sedikit-sedikit nabra...

Postingan Populer