Rabu, 04 Juli 2018

TEGURAN ATAU UJIAN

Manusia seringkali GeeR setiap tertimpa masalah selalu bilang *"ini ujian dari Allah, saya harus terima, karena sudah takdir !"*Benarkah ? Pernyataan diatas kerap kali membuat kita lengah, sehingga selalu gagal instrospeksi  diri.

Bagaimana tidak gagal introspeksi diri karena tidak pernah bisa melakukannya. Manusia tidak akan pernah tahu kesalahannya karena ia tidak pernah tahu kebenaran yang sebenarnya.
Satu-satunya cara untuk tahu kebenaran yang sebenarnya adalah dengan terus pelajari hukum Allah !

*HIJRAH - ISTIQOMAH - KAFAH*
*"Paksakan diri _Sami'na wa ato'na_*


● Bagaimana mau bisa introspeksi diri kalo sudah PeDe dan merasa cukup hanya dg sholat 5 waktu


● Bagaimana mau instrospeksi diri, saat ada dalil yang mengingatkan tentang tata cara dan aturan ibadah yang benar sudah meradang dengan mengatakan

*"Tidak semuanya harus pakai dalil !"*
*"Jangan suka mem- _bid'ah_ kan orang !"*


● Saat ada seruan larangan riba, dengan sok pinternya berdalih :

*"Kalo ga KPR, gimana mau dapet rumah !?"*
*"Kalo ga kredit leasing, gimana mau punya kendaraan !?"*
*"Kalo ga boleh ini itu, gimana bisa punya sesuatu ?!"*
*"Beragama itu nggak usah ribet !"*

Sebenarnya beragama itu memang nggak pake ribet, yang ribet itu banyaknya keinginan manusia.
Parahnya manusia tidak pernah sadar bahwa _syahwat dunia_ itu lebih bikin capek, lebih bikin ribet daripada aturan agama.


● Diminta bersedekah, akan keluar alasan ini :

*"Bersedekah itu tidak perlu dipaksa, kalau nggak ikhlas sedekahnya jadi percuma !"*
Padahal perintahNYA sudah jelas
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” *(QS. Al Munafiqqun:10)*

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” *(QS. Al Baqarah:195)*

“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. *(QS. Al Baqarah:215)*

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan serta melapangkan (rejeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” *(QS. Al Baqarah:245)*

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui.” *(QS. Al Baqarah:261)*

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” *(QS. Al Baqarah:267)*

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” *(QS. Al Baqarah:271)*

*(Simak juga QS. Al Baqarah: 272, 273,274. QS. Ali Imran: 133-134, QS. An Nisa:114. QS. Al Lail:5-8)*


● Sebuah gengsi dan ambisi yang dianggap benar :

*"Saya butuh biaya untuk sekolah anak saya, karena disana kualitasnya bagus. Memang mahal, tapi bila berprestasi akan di kirim ke luar negeri, maka saya tetap berusaha, walau harus berhutang supaya anak saya bisa pintar dan paham agama, tidak bodoh seperti orang tuanya."*
Berkualitas dimata manusia, apakah berkualitas juga dimata Allah ?
Ingin menjadikan anak pintar dan paham agama, haruskah berhutang ?

Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

"Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutanh" (HR. Muslim)

Dari Abu Qatadah radhiallahuanhu bahwasanya Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam pernah berdiri di tengah-tengah para shahabat, lalu beliau mengingatkan mereka bahwa jihad di jalan Allah dan iman kepada-Nya adalah amalan yang paling afdhal. Kemudian berdirilah seorang shababat, lalu bertanya. “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku gugur di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan terhapus dariku?” Maka jawab Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam kepadanya, “Ya, jika engkau gugur di jalan Allah dalam keadaan sabar dalam mengharapkan pahala, maju pantang melarikan diri.” Kemudian Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Kecuali hutang, karena sesungguhnya Jibril menyampaikan hal itu kepadaku.”

*Mati Syahid Tidak Menghapus Hak Bani Adam, Tapi Menghapus Hak Allah*


Mengomentari hadits diatas, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani berkata, “Orang mati syahid itu diampuni seluruh dosanya kecuali hutang. Dapat diambil pelajaran bahwa mati syahid itu tidak dapat menghapus hak orang. Sedangkan adanya hak orang pada dirinya, tidak menghalanginya mendapatkan derajat syahadah/syahid. Tidak ada makna syahadah melainkan bahwa Allah memberikan kepada orang yang mendapatkan syahadah dengan pahala khusus. Dimuliakan dengan kemuliaan yang berlebih. Sungguh dalam hadits telah diterangkan bahwa Allah mengampuni (semua dosa) kecuali ada sangkutan (hak manusia). Jika orang yang mati syahid itu mempunyai amalan-amalan saleh, dan syahadah dapat menghapuskan kejelekan selain dari sangkutan (hak). Maka amalan-amalan saleh akan bermanfaat dalam timbangan (untuk menghapus) sangkutan (hak). Sehingga derajat syahadah akan tetap (diperoleh) sempurna. Jika tidak mempunyai amalan saleh, maka itu tergantung (keputusan Allah). Wallahu’alam.” Fathul Bari, 10/193.

Oleh karena itu, seseorang hendaknya berpikir: “Mampukah saya melunasi hutang tersebut dan mendesakkah saya berhutang?” Karena ingatlah hutang pada manusia tidak bisa dilunasi hanya dengan istighfar.


● Dan masih ada banyak yang belum bisa tersebutkan diatas. Bahkan ada ritual puasa weton (hari lahir sesuai kalender jawa, katanya agar watak anak bisa dilembutkan). Ini namanya apa ? Apakah ibadah ini dibenarkan dalam Islam ?


Bila masih merasa benar, maka sampai kapanpun tidak akan pernah bisa introspeksi diri. Saat ada masalah akan bilang : *"Ini ujian !"*

Subhanallah...!!! Apakah keshalihan anda sudah setara nabi Yusuf dan nabi Ayub ? sehingga saat masalah datang selalu merasa itu adalah ujian ? Bukan teguran ? Lupakah bahwa ada klasifikasi halal, haram, wajib, sunnah, makruh, sebab Allah ciptakan kehidupan ini lengkap dengan hubungan sebab akibat ?

Nah untuk bisa tahu mana yang petunjuk dan mana yang ujian hanya melalui :

*"INTROSPEKSI DIRI DENGAN BENAR"*

Untuk bisa introspeksi diri dengan benar, *Pelajari Islam secara kafah* tanpa tapi, tanpa nanti, tanpa gimana.

*"Saat hidupmu penuh masalah sejatinya hubunganmu dengan Allah sedang bermasalah"*

Allahualam bishowab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HANYA BUTUH TAAT DAN ISTIQOMAH

(Nama & tempat dirahasiakan, agar tidak menjadi riya) Dulu saat saya jadi wanita karier, seolah tidak masalah sedikit-sedikit nabra...

Postingan Populer