Selasa, 26 Juni 2018

SEKOLAH TERBAIK UNTUK ANAKKU

Aku adalah ibu dari 2 orang anak laki-laki. Satu tahun yang lalu anak sulungku sudah lulus Sekolah Menengah Pertama. Aku ingin ia menjadi hafidz. Maka sejak dia SD aku sudah hunting dan browsing seluruh pondok pesantren di wilayah propinsiku. Aku berharap anakku bisa memasuki salah satu pondok pesantren terbaik, terbagus, terfavorite, kalau perlu terkeren di kotaku. Kalaupun tidak ada dikotaku, aku berharap dia bisa masuk di salah satu ponpes favorite bergengsi yang dikenal banyak orang bahwa ponpes itu berkualitas bagus.

Persyaratan setiap ponpes itu hampir sama. Biayanyapun hampir sama, tidak bisa dikatakan murah. Saat itu kupikir wajar saja bila ponpes tersebut memasang biaya yang cukup tinggi, karena memang harus ada harga yang dibayar dari sebuah kualitas. Aku begitu percaya dengan pendapat bahwa "Uang ada matanya" astaghfirullah...

Hingga tiba saatnya puteraku lulus SMP. Tabungan kami di rekening tidak lebih dari 2 juta. Aku dan suami saling pandang, "Kita tidak akan bisa memasukkan abang ke ponpes manapun ayah," ujarku sambil menatap suamiku. Suamiku menghela nafas. "Sabar bunda, tidak mungkin Allah tidak memberi jalan karena kita ingin menjadikan anak kita seorang hafidz."

"Tapi tabungan kita tidak cukup ayah, tidak sampai 2 juta. Itupun masih ada uang untuk kehidupan sehari-hari didalamnya. Mana ada ponpes bagus dengan biaya masuk dibawah 1 juta !"

"Ada bunda, inshaa Allah ada. Jangankan biaya masuk dibawah 1 juta, bila Allah berkehendak, gratispun bisa kita dapat."

Kutatap lekat mata suamiku. Dia begitu yakin. Dia ini sedang bicara apa ?

"Ayah sedang berbicara tentang keajaiban. Mungkinkah ayah ? atau hanya sekedar khayalan ? keajaiban kerap kali datang menghampiri para nabi, kita ini siapa ? yaa.. bolehlah memiliki keyakinan, tapi bila berkeyakinan pada sesuatu yang tidak mungkin, yang tidak bisa diterima akal, mungkinkah ? Sudahlah ayah, artinya kita harus sekolahkan si sulung di sekolah umum yang biayanya terjangkau. Yah sambil kita didik pelajaran agama semampu kita."

"Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah bunda. Percayalah ! Mulai nanti malam kita sholat malam sama-sama untuk mohon petunjuk pada Allah !" aku hanya diam dalam keraguan. Walau masih dalam kebimbangan, tanpa keyakinan, ketidak percayaan, aku tetap patuh saat suamiku membangunkan tidurku di 1/3 malam. Aku tidak menghitung, berapa hari atau berapa minggu kami melakukannya. Bermunajat bersama untuk si sulung kami. Hingga suatu hari suamiku mengatakan akan mengantar abah ketua DKM ke sebuah ponpes. Sekitar jam 1 pagi dinihari suamiku baru pulang. Aku belum sempat memejamkan mata, entah mengapa aku gelisah menunggu kepulangannya.


"Kita tidak bisa sholat malam ayah. Kita belum tidur, syarat tahajud, kita harus tidur."

"Bunda, sholat malam tidak harus tahajud. Kita bisa sholat tasbih. Ini waktu spesial, dimana Allah turun dari atas arsyNYA di 1/3 malam, khusus mendatangi hambanya yang bermunajat penuh harap. Ayuk kita sholat tasbih !" Lagi-lagi aku menurut, tak kuasa membantah perintah suamiku.

Esok hari seusai sholat subuh, suamiku mengatakan pada si sulung untuk bersiap pergi ke pesantren.

"Abang, siap-siap ya setelah sarapan nanti ikut ayah dan bunda ke pondok pesantren !" Aku langsung menoleh pada suamiku. Suamiku tidak bicara apa-apa padaku. Pondok Pesantren mana yang ia maksud ?

"Ayah sudah menemukan ponpes untuk abang ? kok ayah semalam tidak bicara apa-apa dengan bunda ?"

"Nanti bunda ikut saja ya ?" jawab suamiku sambil tersenyum.

Perjalanan menuju ponpes yang dimaksud suamiku tidaklah terlalu jauh dari tempat tinggal kami. hanya berjarak sekitar 30 km. Suasana ponpes itu begitu asri, masuk di pelosok desa. Ada gubug-gubug kecil. Aku melihat seluruh santri disana tidak banyak bicara. Mereka bersuara hanya untuk mengucap salam dan menjawab salam, selebihnya mereka hanya saling senyum dan membaca kitab. Ponpes apa ini ? Sunyi sekali. Tidak ada namanya. Suamiku mengajak kami bertemu dengan pimpinan ponpes tersebut, seorang kiyai dengan wajah yang sangat ramah dan jernih menerima kami. Suamiku mengutarakan maksud kedatangan kami. Pak kiyai tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah suamiku selesai bicara, pak kiyai menoleh pada putra sulungku.

"Kemari nak, mendekatlah." Panggil pak kiyai. Putraku datang mendekat.

"Bapak bertanya, apakah kamu serius ingin menggali ilmu disini ?"

"Ya kiyai."

"Baiklah, dengarkan nak. Ponpes ini tidak bersedia menerima bayaran dari orang tuamu. Kamu sendiri yang harus membayarnya. Apakah kamu sanggup ?" Pak kiyai menatap lekat wajah putraku. Kulihat anakku tampak bingung untuk menjawab. Akupun bingung arah permintaan kiyai ini.

"Saya tidak punya uang kiyai. Saya belum bekerja."

"Saya tidak butuh uangmu. Pesantren inipun tidak butuh uangmu. Disini kamu akan kami persiapkan untuk mampu bekerja untuk Allah dan mensyukuri setiap gaji yang Allah berikan. Namun untuk menjadi santri disini kamu harus memenuhi seluruh persyaratan sebagai nilai tukarnya."

"Apa syaratnya kiyai ?"

"Datanglah kemari dengan menggunakan pakaian terbaikmu untuk sholat. Kamu tidak diperkenankan membawa apapun, kecuali dirimu dan pakaian terbaik yang melekat ditubuhmu itu. Setelah itu, kamu harus mulai berpuasa selama 11 hari, sahur dan berbuka hanya dengan air. Tidak boleh satu kalipun kamu tinggalkan shalat jama'ah. Bila satu kali saja kamu tinggalkan shalat jama'ah, maka kami akan pulangkan kamu. Kamu harus menanam sendiri bila kamu ingin makan. Kamu bisa menanam cabai, tomat, umbi-umbian dan sayuran lain. Kamu tidak makan nasi disini. Pengganti nasi adalah umbi-umbian itu. Cabai dan tomat bisa kamu buat sambal untuk melengkapi menu sayuranmu. Bila tidak menanam apapun, kamu tidak akan bisa makan. Tugasmu adalah menyelesaikan 10 juz dalam 1 hari. Artinya kamu harus membaca 2 juzz setiap kali selesai shalat fardhu. Bila semua itu berhasil kamu lakukan, kamu resmi menjadi santri disini dan siap menerima pelajaran dari guru-gurumu disini."

Mendengar persyaratan itu aku melongo. Kupandang suamiku. Suamiku tersenyum tenang ke arahku. Kutengok wajah putraku, dia tersenyum. Aku tidak tahu arti senyumnya. Aku yang sedari tadi diam memberanikan diri untuk bertanya.

"Apakah harus sekarang kiyai ?"

"Tidak harus sekarang. Pulanglah dulu, lakukan istikharah, mantapkan keyakinan." Ada sedikit kelegaan dalam hatiku mendengar jawaban dari sang kiyai.

Dalam perjalanan pulang aku lebih banyak diam. Masih terngiang jelas persyaratan yang diajukan oleh sang kiyai pada anakku. Apakah anakku sanggup ? Apakah anakku kuat ? Bagaimana kalau dia sakit ? ah berbagai macam pertanyaan kekhawatiran melintas hilir mudik didalam kepalaku. Kutengok suamiku tenang-tenang saja mengemudikan mobil. Kutengok putraku justru sedang bercanda dengan adiknya. Kok sepertinya cuma aku yang galau ? Di dalam mobil aku masih saja berselancar internet mencari ponpes berbayar untuk putraku. Dalam hati aku masih berharap ada ponpes favorite seperti yang aku inginkan, namun terjangkau oleh kondisi finansialku saat itu.

Sesampainya dirumah, suamiku memegang tanganku sambil berkata : "Bunda, hilangkan keraguan dengan istikharah. Silahkan bunda teruskan mencari ponpes terbaik menurut bunda namun jangan ubah do'a kita." Aku hanya diam menatap suamiku. Kulakukan istikharah seusai sholat isya. Masih kuteruskan sholat malam, baik itu tahajud ataupu sholat tasbih. Aku masih terus mencari pilihan ponpes lain. Sebagaimana pesan suamiku, aku tidak mengubah do'aku.

"Ya Allah, tunjukkan pondok pesantren mana yang Kau inginkan untuk puteraku. Mantapkan aku untuk mengikuti apa yang KAU inginkan, bukan memaksaMU untuk mengikuti yang aku inginkan."

Hari demi hari tidak kulihat uang kami bertambah untuk bisa memasukkan anakku ke salah satu ponpes favorite menurutku. Hingga Ponpes-ponpes itu sudah mulai tutup pendaftaran. Aku memanggil puteraku.

"Nak, apakah kamu siap memasuki ponpes yang gratis itu ?'
"Inshaa Allah siap bunda." jawabnya mantap
"Apakah kamu sudah istikharah ?"
"Alhamdulillah sudah bunda."
"Kamu yakin bisa memenuhi persyaratan dari pak kiyai ?"
"Inshaa Allah bunda. Aku hanya butuh do'a ayah dan bunda agar aku kuat."

Aku menghela nafas dalam-dalam. Kutemui suamiku diruang tengah.

"Ayah, inshaa Allah aku ikhlas melepas putera kita ke ponpes itu." Suamiku menghela nafas dalam-dalam menatapku. Dengan lembut dia menggenggam tanganku.

"Kita akan saling menguatkan bunda. Demi masa depan putera kita dan demi masa depan kita juga. Yakinlah, Allah akan menjaganya disana." tiba-tiba kepalaku jatuh di dada suamiku. Air mataku menetes dalam diam. Suamiku mengusap kepalaku sesaat.

"Eeeehhh bunda, nggak boleh cengeng begitu dong..." Aku buru-buru bangun mengusap air mataku. Suamiku memanggil anakku.

"Kapan kamu siap untuk ayah antar kesana ?"
"Inshaa Allah besok siap ayah." Jawabnya mantap. Suamiku menepuk bahunya lalu memeluknya cukup lama sambil berbisik : "Dengarkan nak, ini adalah keputusan terberat yang harus kami lakukan. Demi sebuah kehidupan kekal kelak, karena yang satu kali itu bukan hidup, melainkan mati. Tidak akan ada kematian lagi setelah kehidupan kedua kita nanti di alam akherat. Saat kau kejar akheratmu, inshaa Allah duniapun akan mengejarmu. Kami mengirimmu kesana untuk mendekat pada Allah. Untuk menjadi kekasih Allah. Untuk mendapatkan cinta Allah. Bukan yang lain. Kamu paham nak ?"
"Inshaa Allah paham ayah." Matanya mantap menatap ayahnya dengan senyum yang mengembang. Tidak ada tanda-tanda ketakutan ataupun kegelisahan.

Esok harinya kami melepas putera sulung kami dengan penuh air mata. Berkali-kali aku mengusap air mata. Berkali-kali suamiku berbisik : "Ikhlaskan bunda, hentikan tangisan."

Satu tahun kini berlalu. Sungguh tak kusangka, kini dihadapanku ada sesosok pemuda berusia 16 tahun yang mengajari aku dan suamiku mengaji dengan tartil yang bagus. Di 1/3 malam kami kerap kali mendengar alunan ayat-ayat suci dengan suara merdu membangunkan tidur lelap kami, seolah menawarkan kenikmatan lain yang menyejukkan di dinginnya malam.

Masya Allah...ponpes yang aku ragukan karena GRATIS. Ponpes yang tak kupercaya kualitasnya karena GRATIS. Ponpes yang tidak memiliki website seperti ponpes favorite lain. Ponpes yang mengajukan syarat tak masuk akal logikaku sebagai manusia yang sok tahu. Kini aku pahami, mengapa saat itu Allah tidak cukupkan uang kami untuk menbayar salah satu ponpes favorite yang dimataku berkualitas. Mata Allah memang sejeli-jeli mata yang paling jeli.

Kita kerap kali berdoa dan meminta Allah, bahkan hingga memaksa Allah untuk mengikuti yang kita mau. Tanpa kita mau memahami apa yang Allah mau. Kita kerap kali sok pinter, memaksakan diri memasukkan anak kita ke sekolah unggulan menurut kita, ke sekolah favorite menurut tetangga kita, ke sekolah berkualitas menurut kaca mata kita, hingga kita rela berhutang, meminjam uang hanya demi sebuah kata "Sekolah Unggulan". Tanpa kita tahu, begitu banyak anak stres di sekolah yang kita paksakan, atau justru orang tuanya yang stres karena pusing dengan biaya yang mahal tidak sesuai kemampuan. Begitu banyak orang tua yang merasa pengorbanannya sia-sia, sudah banyak biaya yang dikeluarkan, namun hasil yang didapat tidak sesuai expectasi.

Allah sudah menempatkan setiap orang sesuai porsinya. Terbaik bagi orang lain, belum tentu terbaik untuk kita.

Bagi yang ingin tahu ponpes yang saya ceritakan diatas terletak di Ciomas, Padarincang, Serang, Banten. Atau bisa googling dengan kata kunci "alamat pondok pesantren kyai mufasir banten". Pondok tersebut hanya menerima maksimal 40 orang santri putera, namun kenyataannya santri disana tidak pernah mencapai 40 orang. Bila ternyata putera anda tidak lolos seleksi pondok tersebut, pastilah Allah sudah siapkan tempat terbaik lain diatas bumi Allah ini.

Silahkan bila ingin mengikuti ikhtiar kami dan cara-cara pendekatan kami pada Allah. Pesan saya : "PAHAMI APA YANG ALLAH MAU" jangan memaksa Allah untuk mengikuti yang kita mau. Posisi Allah itu sangat tinggi. Jangan pernah memaksa Allah mengikuti ambisi kita. Allah adalah dzat yang tidak bisa dipaksa. Saat kita berusaha memaksa Allah, maka dengan kekuatanNYA Allah akan memaksa kita untuk mengikuti kehendakNYA. Bila kita menghindar, maka jangan mengeluh saat tidak pernah terlihat jalan keluar.

Wallahualam bishowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HANYA BUTUH TAAT DAN ISTIQOMAH

(Nama & tempat dirahasiakan, agar tidak menjadi riya) Dulu saat saya jadi wanita karier, seolah tidak masalah sedikit-sedikit nabra...

Postingan Populer