Senin, 23 April 2018

KEMBALILAH PADA SISTEM

Kami adalah pasangan PNS dan memiliki jabatan bagus dikantor. Namun suami saya tetap memiliki jabatan lebih tinggi dibanding saya. Suami saya sebenarnya tidaklah terlalu tampan, tapi dia rapih, bersih, bicaranya tegas dan berwibawa. Mungkin itulah yang membuat banyak wanita suka. Suami saya dekat dengan wanita-wanita muda dan cantik. Saya sempat memergoki chatingan mesra dia dg bbrp wanita itu. Saya juga sempat melihat foto mesum seorang wanita yg dikirim ke wa suami saya. Saya bahkan pernah membuka laptop suami saya yg ternyata isinya byk foto anak-anak dan wanita-wanita cantik. Semua wanita itu saya kenal. Mereka semua juga PNS. Memang mbak, setiap kali saya mencium gelagat tidak beres, saya pasti langsung datangi wanita itu, tapi saya tidak labrak, saya bicara baik-baik. Saya hanya takut image suami jadi hancur, karena kami sama-sama PNS. Tapi wanita-wanita itu selalu ngadu ke suami dengan omongan yg dilebih-lebihkankan, akhirnya kami jadi bertengkar. Lama-lama suami seperti kesal dengan saya dan sekarang tidak mau lagi tidur dengan saya. Sudah 4 tahun mba kami tidak tidur sekamar. Suami saya itu rajin ibadah, selalu sholat 5 waktu di masjid, puasa sunah senin - kamis, tapi mengapa masih suka maksiat ? Sebenarnya harusnya bagaimana mba ? Hindari maksiat maka sholat akan bener atau sholat bener dulu maka akan terhindar maksiat ? Saya harus gimana mba menghadapi ini semua ?
******************************
Membaca curhatan itu jujur saya bingung. Bagaimana ini bisa terjadi ? Ahli ibadah sekaligus ahli maksiat ? Pasti ada yang salah. Saking bingungnya saya minta bantuan seseorang yg paham dalil untuk menjawab curhatan itu. Inilah jawabannya :
********************************
Soal rajin ibadah itu mutlak hubungan antara Individu dengan Allah, tapi dampaknya (hasilnya nyata dalam hubungan muamalah /antar manusia (khususnya rumah tangga)
Seperti pada pernyataan terakhir hindari maksiat berarti shalatnya bener atau benerin shalat maka terhindar dari maksiat?
Jawabannya adalah, *benerin shalat* maka maksiat bisa dihindari.

Ayat nya jelas. Mengenai shalat, seperti saya sebut di atas adalah mutlak Hubungan individu dg Allah.
Makanya *"membetulkan shalat"* bukan hanya dalam hal bentuk lahiriyah, tapi menyeluruh (holistik), termasuk *apa yg dimakan (asal usul dan cara)* juga bagian dari itu.

Tetapi karena persoalan yang muncul berhubungan dengan *"Muamalah"*/ hub.antar manusia (rumah-tangga), maka berlaku pula hukum Allah atasnya terhadap masalah itu, sehingga sebagaimana yang sering kita diskusi semua kembali ke hukum *munakahat/ perkawinan dan hukum keluarga* bagaimana Islam (hukum) mengatur nya
Kalau saya, karena pernikahan itu bagian dari "pelaksanaan hukum Islam"yangg ada kaitannya dengan "hak dan kewajiban" menurut ketentuan syara' , ketika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya melanggar batas-batas hukum, maka pernikahan itu berarti telah rusak (fasakh), dan akan bisa kembali ketika sebab-sebab yg merusakkan itu hilang.

=> Si ibu ingin suaminya menjauh dari perempuan2 itu dan suaminya kembali mesra seperti dulu.

Nah..kalau itu yang diinginkan, maka jalan keluarnya adalah kembali pada *"kesadaran"* untuk memahami bahwa "menikah/ berumah tangga" adalah bagian dari *"melaksanakan hukum Allah"*, baik dengang terpaksa atau sukarela karena (sudah) adanya ikatan tersebut.

Sapi Betina (Al-Baqarah) : 231
Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, *maka rujukilah mereka dengan cara yang ma'ruf*, atau *ceraikanlah mereka dengan cara yang ma'ruf (pula).*
*Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan,* karena dengan demikian kamu menganiaya mereka.
Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.
*Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan,* dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah).
Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu.
Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Sebenarnya banyak ayat-ayat, tentang hukum Allah menyangkut pernikahan (ayat-ayatnya panjang), mungkin karena pentingnya persoalan itu.
Kuncinya, ketika semua mau *kembali* kepada hukum Allah, selesai sudah persoalan dengan saling memaafkan.
Tapi kalau sudah menyangkut *"hawa nafsu/ syahwat"*..maka cerita akan lain..๐Ÿ˜Š


Yang bertekuk lutut (Al-Jฤthiyah) : 23
Maka pernahkah kamu melihat orang yang *menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya* dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah *mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?*
Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Secara teknis jika ingin menyelesaikan masalah rumah tangga sebenarnya sederhana jika mengikuti *"Hukum Allah"* (Al Qur'an)..
Seperti contoh di bawah ini :๐Ÿ‘‡๐Ÿผ๐Ÿ‘‡๐Ÿผ


Wanita (An-Nisฤ') : 35
Dan jika kamu khawatirkan *ada persengketaan* antara keduanya, maka *kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan.*
Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. 
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.


=> Hakam itu maksudnya perwakilan kah ustad ?
Ya..bisa dibilang begitu tapi beda konsep.
Wakil itu juga bahasa Arab (artinya tempat memasrahkan sesuatu).
Tapi kenapa kok di ayat tsb gunakan kata "hakam" (juru pengadil)..?

Artinya bahwa wakil yang ditunjuk oleh keluarga (baik laki-laki atau perempuan) yang memiliki sifat-sifat adil (tidak berat sebelah) sehingga memandang persoalan yang dihadapi murni bersasarkan keadilan menurut hukum Allah.
Oleh karena itu jika "hakam" dari kluarga laki-laki atau perempuan ternyata tidak didapat (karena masing-masing keluarga ngotot ingin menang sendiri) maka "hakam" yang dimaksud adalah orang yangg ditunjuk (bisa ahli hukum /pengadilan (PA) atau lembaga Penasehat Perkawinan (LPP) formal) untuk *"membantu"* menyelesaikan dengan cara yang adil.

Barangkali paparan di bawah ini bisa mbantu penjelasan :
Keberadaan hakam disyariatkan dalam firman Allah SWT (artinya) : 
*“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan.*

Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu.” 
(QS An-Nisaa` [4] : 35).


*Hakam adalah orang yang ditetapkan oleh hakim (qadhi) dalam peradilan Islam.*
Jadi, hakam bukan ditetapkan sendiri oleh suami atau isteri tanpa melibatkan peradilan Islam.
Imam Ibnu Bathal berkata, ”Ulama sepakat bahwa mukhathab (pihak yang menjadi objek seruan) dari ayat ‘Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya’ adalah para penguasa (al-hukkam).” 
(Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, IX/403; Faishal bin Abdul Aziz Aal Mubarak, Risalah fi Jawaz Khulu` Al-Qadhi li Al-Zaujah, hlm. 3).


Disyaratkan dua hakam itu haruslah : laki-laki, adil (bukan fasik), betul-betul mengetahui (khabir) terhadap apa yang harus dilakukannya dalam menjalankan tugasnya sebagai hakam. 
Disunnahkan dua hakam itu *berasal dari keluarga suami dan dari keluarga isteri,* sesuai nash QS An-Nisaa` : 35 di atas.

Namun jika tak ada hakam dari kedua belah pihak keluarga, hakim (qadhi) berhak mengutus dua orang laki-laki ajnabi (bukan pihak keluarga) sebagai hakam, yang sebaiknya tetap berasal dari tetangga suami-isteri itu yang betul-betul mengetahui keadaan keduanya dan berkemampuan untuk mendamaikan keduanya. (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, IX/469).
Jika kedua hakam itu berhasil mendamaikan kedua suami-isteri, itulah yang diharapkan. 
Namun jika tak berhasil mendamaikan, apakah kedua hakam berhak memisahkan (tafriq) suami-isteri?


Di sini terdapatkhilafiah di antara fuqaha.

*Pendapat pertama* 
Kedua hakam tak berhak memisahkan. 
Ini menurut Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i (dalam salah satu pendapatnya), juga menurut Imam Ahmad (dalam salah riwayatnya).

Menurut mereka, hakam hanya wakil, tak berhak memisahkan kecuali dengan kerelaan suami isteri.

*Pendapat kedua,* 
Hakam berhak memisahkan. 
Demikian menurut Imam Malik, Imam Auza’i, Imam Syafi’i (dalam salah satu pendapatnya), juga menurut Imam Ahmad (dalam salah satu riwayatnya). 
Menurut pendapat kedua ini, hakam bukan wakil, tapi qadhi dari penguasa (haakim) yang berhak memisahkan suami isteri walau tanpa kerelaan suami isteri. 
(Abdul Fattah ‘Amar, As-Siyasah Al-Syar’iyah fi Al-Ahwal Al-Syakhshiyah, hlm. 227).

Menurut kami, yang *rajih adalah pendapat kedua,* sebab dalam ayat QS An-Nisaa` : 35 jelas sekali disebut istilah *hakam, bukan wakil.* 
Maka hakam berhak memisahkan suami isteri sebagai keputusan dari qadhi yang bersifat mengikat/memaksa (‘ala sabil al-ilzam). (Ibnul Qayyim, Zadul Ma’ad, IV/42). Wallahu a’lam.

=> Tapi mereka tidak mau orang yg mengenal mereka tahu masalah mereka ustad
Nah itu persoalannya (hampir semua keluarga Muslim begitu kecuali beberapa).
Sebagian takut dengan "penilain" orang (manusia), tapi abai dengan "ketentuan syariat (Islam)", yang berlaku sebagai " hudaan" (petunjuk)

Sapi Betina (Al-Baqarah) : 85
Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. *Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain?*
Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.

Ayat di atas memang bicara soal "kelakuan" bani Israil, tapi krn ini adalah utk *"panduan"* holistik umat Islam maka berlaku juga *"kaidah hukumnya"* yaitu kalimat yg saya tebali pada terjemah di atas
*Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain?*
Artinya kalau saat menikah juga disaksikan orang banyak (khususnya kluarga besar) mengapa saat bermasalah juga enggan melibatkan orang-orang yangg dipercaya dan amanah melaksanakan hukum-hukum Allah?
Sama halnya dengan mengimani sebagian hukum Allah kemudian mengingkari sebagian yg lain


Dan konsep *"Keluarga"* menurut pendapat Sayyid Quthb, bahwa *"Sungguh orang beriman adalah bersaudara"*, maka inilah yang seharusnya terpatri pada setiap Muslim untuk "Ta'aawanuu 'Alal birri wat-taqwa", saling menolong dalam kebaikan dan taqwa, bukan " ta'aawanuu 'alal itsmi wal 'udwaan" saling menolong dalam dosa dan kekejian.
Dan konsep pernikahan adalah sebuah "al birru wat taqwa", maka seyogyanya jika ada persoalan, kluarga Muslim (hakam) ikut membantu dan yang mempunyai persoalan juga faham bahwa ketika ia menikah kemudian ada persoalan, ia pun berada dalam " hukum² Allah", yang harus ditunaikan menurut Allah, bukan ala "perasaan" sendiri, baik (keinginan/logika) laki-laki maupun (perasaan) perempuan.
Allahualam bishowab


Ditulis oleh : Irene Radjiman
Dalil oleh : ust. Sjamsu Hudaja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HANYA BUTUH TAAT DAN ISTIQOMAH

(Nama & tempat dirahasiakan, agar tidak menjadi riya) Dulu saat saya jadi wanita karier, seolah tidak masalah sedikit-sedikit nabra...

Postingan Populer