Selasa, 24 April 2018

BUNGA KEJORA


Aku mengenalnya di social media. Tulisan-tulisan yang penuh makna, membuat aku ingin tahu siapa dia sebenarnya. Aku tak pernah melihat wajahnya. Single kah dia ? sudahkah dia menikah ? atau… ahh.. aku hanya bisa menerka, kira-kira seperti apa dirinya ? tulisannya selalu mampu menyihirku. Hari-hariku hanya membayangkan dirinya. Sesosok yang telah mampu membuatku terpana tanpa pernah mengenalnya. Sama sekali aku tidak memiliki bayangan apapun tentang dirinya. Namun aku selalu mencari kehadirannya. Bila akunnya sepi, hatiku pun turut sepi. Ahh ini benar-benar tidak enak dirasa. Nama yang ia cantumkan di social media pun aku tahu itu hanya nama udara. Bukan nama sebenarnya. Kucoba mencari profilenya, dimana ia tinggal. Minim informasi. Tak kutemukan apa-apa. Bunga Kejora, hanya itu nama yang kutahu ada.

 Dikampus aku mengenal Zaenab. Anak kiyai pimpinan sebuah pondok pesantren tempat aku biasa mengaji. Dia temanku satu fakultas. Kami sama-sama belajar di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan program study Pendidikan Agama Islam. Cantik, anggun, sholeha, menjadi buah bibir ikhwan dikampusku. Siapa yang tak kenal Zaenab. Sosok bersahaja dengan kecantikan alami yang selalu menundukkan kepala saat sedang berjalan. Aku selalu berpikir : “Siapa kelak yang akan meminang Zaenab ? “ ah… andai saja aku… ah aku tak sanggup membayangkan begitu banyak saingan yang harus aku lewati. Bisa jadi dia sudah ada yang mengkhitbah. Terkadang aku membayangkan, mungkinkah Zaenab sang penulis sosmed idolaku itu ? mungkinkah dia sosok Bunga Kejora ? tapi sepertinya Zaenab bukan tipe gadis yang suka bersosmed. Tapi… ah entahlah..
Kami masuk dalam wadah organisasi yang sama. Saat itu ketua organisasi memberitahukan akan ada dialog terbuka antar mahasiswa soal kerukunan antar umat beragama. Undangan dialog itu dari Mahasiswa Katolik. Aku dan Zaenab masuk dalam satu team penggodokan materi yang akan dipresentasikan. Ini adalah pertama kalinya aku dan Zaenab terlibat dalam suatu diskusi. Semakin menambah kekagumanku, bukan hanya cantik tapi cerdas. Aku dan Zaenab dinobatkan oleh teman-teman untuk menjadi juru bicara dalam dialog itu.

Sampailah pada hari H acara dialog dilaksanakan disebuah Gedung Serba Guna dikota kami. Dialog ini sangat seru. Poligami adalah wacana yang sangat empuk untuk dijadikan bulan-bulanan menyerang Islam. Ada salah seorang mahasiswi dari pihak seberang yang sangat sangat getol menyerang kami khususnya Zaenab, dia bernama Elizabeth Veronica. Nama yang sangat kental dengan ke-Katolikannya. Rambutnya yang pirang panjang sebahu menambah kontras dengan kulitnya yang putih seperti porselen dan mata sipitnya semakin mempertegas dia berasal dari etnis mana. Aku agak gregetan juga sama cewek satu ini, cantik sih, kitis tapi ngeyelan. Apa mungkin karena dia terus-terusan menyerang Zaenab maka aku jadi gregetan. Mata sipit tapi dengan aksen jawa yang sangat kentara, membuat orang dengan mudah menebak latar belakang sukunya.
Akhirnya berakhir juga acara dialog itu. Sebenarnya sih acara itu lebih pas disebut dengan debat terbuka antar agama. Tapi biarlah, mungkin biar terkesan lebih adem disebutnya dialog. Acara yang diakhiri dengan saling bersalaman dan ditutup dengan kata-kata klasik “Bhineka Tunggal Ika.” Aku keluarkan sepeda motorku. Dari kejauhan aku lihat si pirang ngeyelan itu lagi sibuk nyetater motor, tapi sepertinya si motor enggan meraung. Kuhentikan motorku tepat disampingnya.
“Kenapa mbak ?”
“Nggak tahu nih mas, mogok !” katanya bingung
“Boleh saya bantu mbak ?”
“Boleh mas.” Aku mendekat kearah dia berdiri bersama motornya.
“Mbak, silahkan tunggu disana dulu, biar saya lihat motornya. Maaf saya nggak konsentrasi kalau mbak ada disini.” Kataku agak sungkan sambil tersenyum kikuk, karena aku akan berjongkok memeriksa busi motornya. Bila dia terus-terusan berdiri disampingku, aku khawatir tidak bisa menjaga pandanganku karena saat itu dia mengenakan rok berpilin 2 cm diatas lutut. Terbayang kan kulit porselennya akan terpampang jelas dimataku. Maka aku minta dia untuk minggir. Alhamdulillah dia menurut. Benar saja dugaanku, businya bermasalah. Aku bersihkan businya, kupasang lagi. Alhamdulillah..motornya menyala. Dia berlari mendekat. Tersenyum senang.

“Terima kasih ya mas.” Ucapnya riang.
“Sama-sama mbak. Itu tadi Cuma karena businya aja kotor.” Kataku menerangkan sambil mengibas-ngibaskan tanganku yang kotor.
“Oh iya, ini saya ada tissue basah. Bisa untuk membersihkan tangan mas.” Katanya sambil menyodorkan tissue padaku.
“Oh iya terima kasih.” Aku menerimanya. Kulihat dia masih berdiri disitu belum beranjak pergi hingga aku selesai membersihkan tanganku.
“Tambah lagi tissuenya ?” dia menawari lagi sambil menyodorkan tissuenya.
“Nggak usah mbak, cukup, terima kasih.” Jawabku sambil menolak.
“Oh ya mas kenalkan namaku Vero, Veronica,” katanya sambil mengulurkan tangan.
“Oh iya, namaku Hasanudin.” Jawabku tapi dengan mengatupkan kedua tanganku. Vero paham, dia langsung menarik tangannya kembali.
“Oh iya, saya pulang dulu ya mas, terima kasih sudah dibantu.”
“Iya mbak sama-sama, hati-hati dijalan.”
Esoknya dikampus heboh membicarakan Zaenab yang sudah dikhitbah oleh seorang mahasiswa Cairo. Deg ! ada rasa… entah rasa apa ini gemuruh didalam dada mendengar berita itu. Kabarnya Zaenab dan calon suami akan melaksanakan pernikahan 1 bulan lagi. Huffhh pupus sudah. Ahhh tapi siapalah aku, dari keluarga biasa, hafalan pun belum seberapa, bermimpi meminang Zaenab, laksana pungguk merindukan bulan. Aku pakasakan tersenyum menanggapi teman-temanku yang sedang membicarakan Zaenab.
Sepulang kuliah, kulihat ibuku sedang memasak. Kupeluk beliau dari belakang.
“Mandi sana ! bau asem !” kata ibuku. Aku bergegas menuju kamar mandi sambal terkekeh-kekeh. Seusai mandi, aku masih melihat ibuku bergelut di dapur.
“Emang banyak pesenan bu ?”
“Iya, nanti mau ada selamatan 7 bulanan bu Ida.” Kata ibuku menerangkan. Ibuku memang pengusaha catering. Tangan ibuku sudah terkenal pencipta makanan lezat dikampungku.
“Apa yang perlu aku bantu bu?”
“Bungkusin itu sambel goreng kentangnya.” Aku menurut. Dengan sigap kulakukan instruksi ibuku.
“Bu, cariin aku jodoh sih !” sejenak ibuku menghentikan aktivitasnya kemudian menatapku.
“Kamu udah kebelet kawin ?” tanya beliau dengan mimik wajah lucu. Aku menyambutnya dengan tawa.


“Lho nikah kan sunah tho bu ?”
“Iya sih… tapi serius kamu mau ibu yang pilihkan ?”
“Seriuslah bu, nggak apa-apa cantik yang penting sholeha.” Jawabku sambil tertawa terbahak menggoda ibuku. Ibuku langsung menatapku dengan mimik wajah yang lucu sambil berucap.
“Yoo akeh tunggale San..San.. (Ya… banyak yang mau San San).” Aku kembali terkekeh mendengar jawaban ibuku.
“Bu, tadi aku lihat diujung jalan sebelum masuk gapura kampung kita, seperti ada rumah baru dibangun ya ? rumah siapa sih itu bu ?”
“Ibu juga nggak tahu. Kabarnya sih ada orang kota yang mau cari suasana pegunungan, makanya pindah ke desa kita.”
“Aneh-aneh aja orang kota itu ya bu ?”

Sudah 3 hari aku tidak melihat Zaenab dikampus. Ingin bertanya tapi aku malu. Kudengar dari pembicaraan teman-teman Zaenab sedang mempersiapkan pernikahan. Entah mengapa aku begitu lesu mendengar berita itu. Suasana siang dihari itu kurasakan seperti suasana berkabung. Kuambil sepeda motorku, aku menaikinya dengan gontai. Entah mengapa masih terpikir Zaenab. Zaenab pasti sangat cantik bila nanti berhias sebagai pengantin. Akankah aku datang dihari pernikahannya ? lho kenapa aku udah GeeR duluan, kayak bakal diundang aja. Kukendarai motorku dengan pelan. Ketika akan memasuki gapura kampungku, aku melihat aktivitas orang pindah rumah kerumah baru itu. Rumah itu rumah paling mewah dikampungku saat ini. Siapa ya pemilik rumah itu ? aku melihat ada seorang lelaki seumuran alm. ayahku diatas kursi roda, kemudian seorang wanita yang kira-kira usianya terpaut beberapa tahun diatasku, kurasa wanita itu adalah anak dari sibapak yang ada dikursi roda itu. Dari wajahnya mereka seperti etnis Tionghoa, tapi aksen bahasa mereka seperti logat Jawa. Dugaan kuatku mereka keluarga Cina Jawa. Kulihat satu lagi ada laki-laki yang sepertinya terpaut beberapa tahun usianya diatasku. Mungkin itu suami dari wanita itu, pikirku, tapi pria itu berwajah pribumi. Hemmm.. ya sudahlah biarkan saja. Mereka akan jadi satu-satunya etnis Tionghoa di kampungku. Semoga mereka bisa menyesuaikan diri dengan baik.
Sesampainya dirumah, aku lihat ibuku sibuk membuat nasi kuning dan kue-kue. Dibantu dengan beberapa tetangga yang juga merupakan team catering ibu.
“Siapa yang hajatan bu ?”
“Itu pak Hermawan yang rumahnya diujung jalan deket gapura.”
“Yang rumah baru itu ?”
“Iya yang rumah baru itu. Mau selametan nempatin rumah baru. Tadi pagi isterinya kesini pesan makanan ini semua sama ibu. Nanti katanya ba’da isya semua orang kampung suruh kesana. Kamu datang yo San.” Kata ibu sambil terus meracik makanan untuk dibungkusi.
“Iya bu, aku mau mandi dulu ya bu.” Bergegas aku masuk kamar mengambil handuk untuk mandi.

Sekitar pukul 5 sore ibu memintaku untuk mengantarkan seluruh makanan yang dipesan oleh pak Hermawan. Butuh waktu 4 kali bolak balik dengan menggunakan motorku. Mereka ternyata keluarga Tionghoa yang ramah. Baru kutahu yang bernama pak Hermawan ternyata adalah satu-satunya pria pribumi yang kulihat tadi. Isterinya Cina Semarang. Sementara yang duduk dikursi roda itu adalah ayah mertua pak Hermawan. Ba’da isya aku segera pergi untuk memenuhi undangan keluarga Hermawan. Saat hendak memasuki halaman rumah yang luas itu, aku seperti melihat sosok yang sempat aku kenal sedang mempersilahkan tamu masuk. Tapi dia mengenakan pakaian yang sopan dan berkerudung, walau tidak berhijab. Dia si pirang yang kemarin motornya mogok, yang menyerang Zaenab habis-habisan saat dialog itu. Iyaa.. benar tidak salah lagi. Lho ngapain dia disini ya ?
“Selamat malam.” Aku mengucapkan salam karena dia membelakangiku. Dia langsung menoleh
“Iya..silah.. hey kamu ! kok ada kamu disini ?”
“Lho kamu sendiri juga ada disini ?”
“Ya iyalah.. ini kan rumah kakakku. Ayo masuk.” Katanya ramah. 

Di dalam aku lihat sudah ada beberapa bapak-bapak dan anak muda dikampungku. Pak Hermawan langsung menyuruhku masuk. Disebelah pak Hermawan ada isterinya yang selalu tersenyum menyambut setiap tamu yang datang. Isteri pak Hermawan berhijab. Jadi sebenarnya mereka ini beragama apa ? ah biarlah, ini urusan muamalah. Ternyata pak Hermawan dan isteri beragama Islam, sementara mertuanya beragama Katolik. Baru kutahu pak Hermawan dan isterinya baru 1 minggu menikah, isterinya mualaf. Ooohh pantas. Tiba-tiba aku membayangkan wajah si pirang tengil itu bila berhijab seperti kakaknya. Seperti apa ya ? ah aku jadi senyum-senyum sendiri membayangkannya. Malam itu acara pengajian dirumah pak Hermawan Alhamdulillah berjalan lancar. Kami mulai berpamitan pulang. Saat aku akan mengambil sandalku diteras rumah, tiba-tiba ada yang menyapaku
“Hey, rumahmu dimana ?” hem si pirang itu lagi.
“Masuk kedalam.” Sahutku singkat.
“Ooohh…kapan-kapan aku boleh main ?” katanya menggoda
“Main aja, ada ibuku kok dirumah.” Jawabku santai
“Lho maksudnya aku mau main ngobrol-ngobrol sama kamu.” Katanya masih dengan gaya centilnya.
“Nggak boleh.” Jawabku tegas
“Lho kenapa nggak boleh ?” dia bingung. Tiba-tiba kulihat isteri pak Hermawan keluar.
“Vero, dalam Islam, laki dan perempuan yang tidak ada hubungan darah ataupun belum menjadi suami isteri nggak boleh sembarangan ngobrol berdua.” Ucapannya halus dan lembut. Beda banget sama adiknya yang centil.
“Lho, aku bukan mau ngobrol sembarangan, aku Cuma main ke rumah…eh lupa siapa nama kamu ?”
“Udin.” Jawabku sekenanya.
“Iyaaa..aku Cuma mau main kerumah Udin. Masa’ nggak boleh. Jadul ih !” kakaknya hanya tersenyum menggelengkan kepala.
“Maaf ya mas Udin, adik saya belum paham.” Katanya tersenyum.
“Iya bu nggak apa-apa.”
“Panggil saja saya Felis. Nama saya Felisia.” Katanya seraya mengatupkan tangan
“Oh iya mbak Felis, saya permisi pulang.” Pamitku
“Oh iya, silahkan…salam untuk ibu ya, terimakasih tambahan kuenya tadi.” Ucapnya lembut.
Aku mengangguk seraya mengucapkan salam.

Didalam kamar aku kembali bergulat dengan gadgetku, seperti biasa aku mencari Bunga Kejora. Ah nggak aktif. Masih tulisan 3 hari yang lalu postingan terakhirnya. Kemana kau Bunga Kejora ? apakah kau Zaenab ? Tapi Zaenab memiliki akun sosmed sendiri. Untuk apa dia memiliki 2 akun ? kubuka-buka akun Bunga Kejora, hanya kulihat foto-foto suatu daerah. Atau foto seorang wanita yang membelakangi kamera dengan background keindahan benua Eropa. Apakah itu fotonya ? aku juga tidak tahu. Pernah kukirim inbox padanya, namun tidak terbalas. Ya sudahlah. Biarlah aku hanya mengagumi tanpa perlu mengetahui. Malam ini dalam benakku ada bayangan berganti-ganti, Bunga Kejora yang aku tidak tahu siapa dia, Zaenab yang sedang mempersiapkan pernikahan, dan si pirang centil itu.
Aaahhh..sungguh tak bermanfaat memikirkan semua itu. Aku ambil wudhu dan melakukan sholat Sunnah kemudian mengaji. “Ya Allah… bila Kau ijinkan, sekali saja aku ingin menatap Bunga Kejora.”

“Kala kubaca kalam Illahi, tangisku tak mampu berhenti. Ya Rabb…aku baru mengenalmu beberapa hari. Namun anugerahmu nyata pada diri ini. Dosa yang lalu, kau hembus bersama angin dingin. Martabat Kau angkat, aib Kau tutup rapat. Siapalah diri ini yang berakhir luruh menjadi pengikut sang Nabi.”
Bunga Kejora telah kembali. Kulihat update status dari postingannya pukul 03:11 am. Artinya, ia terbangun di sepertiga malam dan langsung menulis kata-kata itu. Siapakah kau Bunga Kejora ? Bidadari dari planet manakah dirimu ? entah mengapa aku begitu mengaguminya. Padahal aku tak pernah tahu ia berkata apa. Namun aku menikmati keindahan kata-katanya. Jumlah followernyapun tidak seberapa. Bahkan setiap status yang terupdate, jarang diberi komentar oleh teman-teman sosmednya. Tapi mengapa aku begitu tergila-gila dengan dia ? padahal aku tak pernah tahu seperti apa rupanya.

Pagi yang cerah. Ada semangat baru setelah membaca postingan Bunga Kejora. Selalu begitu. Padahal baru postingannya. Lantas bagaimana bila sosoknya sungguh-sungguh ada didepan mataku ? apakah aku akan pingsan ? hahaha benar-benar lebay kau Hasanudin. Kupacu motorku perlahan, menikmati sejuknya pagi. Tiba-tiba kudengar ada yang memanggilku
“Udiiiinnn !!!” aku menoleh. Aduh sipirang itu. Mau apa dia ? dia berlari menghampiriku.
“Udin, nebeng dong sampe kampus. Motornya lagi dipakai kak Felis, trus mobilku juga lagi dibengkel.” Katanya langsung naik dibelakangku.
“Kalau sampai kampus itu namanya bukan nebeng, tapi nganterin. Kampus kamu itu lebih jauh dari kampusku !” kataku sambil memasukkan gigi untuk melaju.
“Yaudah deh terserah. Dianggep ngojek juga boleh.” Kudiamkan saja celotehnya. Aku kemudikan motorku perlahan.
“Udin, kamu ini nggak bisa ngebut ya ? atau takut ngebut ?” bawel banget sih ni si pirang.
“Heh, kamu tu udah numpang, bawel lagi, turun aja deh !”
“Hiiihhh gitu aja ngambek… iya udah sorry sorry. Lanjut maanngg.” Huh memang dasar si hantu pirang. Sesampainya di Kampus, aku mendapat undangan untuk menghadiri resepsi pernikahan Zaenab 2 minggu lagi. Tapi kini tidak ada lagi yang berdesir dalam dada. Semua sudah terasa biasa. Entah mengapa tiba-tiba bisa seperti itu. Ketika aku hendak pulang dari kampus, kulihat didepan gerbang kampusku, ada wanita berambut pirang berdiri. Hah…dia lagi. Pasti mau nebeng pulang. Benar saja dugaanku.
“Udin ! nebeng pulang ya !” aku diam saja, namun kuhentikan laju motorku didekatnya. Tanpa diberi aba-aba dia langsung naik.
“Kamu tuh jadi cowok kok sombong bener sih !”
“Udah dikasih tebengan, ngomongin sombong. Aku turunin juga nih !”
“adudududuh.. galak bener ! iyaaa maaf…!!” akhirnya dia terdiam. Tapi nggak lama.
“Eh Udin, cowok jutek kayak kamu itu punya pacar nggak ?” kudiamkan saja celotehannya.
“Udin, kamu kenapa sih ditanya diem aja ?! ngeselin banget !” aku menahan senyum.
“Ya… pastinya nggak akan ada lah cewek yang mau sama cowok jutek kayak kamu.” Tetap kudiamkan saja dia ngomong sendiri. Akhirnya bosan dia nyanyi-nyanyi. Yah itu lebih baik. Tapi emang dasar bawel, nggak betah kayaknya kalau nggak ngomong.
“Eh Udin, kamu kalau naik motor emang biasa pelan ya ?”
“Emang kenapa ? kalo kamu mau cepet naik pesawat terbang sana !”
“Yeee… bisa ngelucu juga.” Hahahaha…
“Nggak ngelucu kok, beneran nyuruh. Sana naik pesawat terbang !”
“Nggak ah, males..enakkan naik motor kamu, berasa naik andong jalannya pelan-pelan.” Hahahaha. Dasar nenek lampir rambut pirang. Disamainnya motorku sama andong. Dia pikir aku kuda apa ? akhirnya sampai juga dirumahnya. Tapi kok dia nggak turun-turun.
“Udah sampe tuh ! Turun !”
“Nggak mau, aku mau main kerumah kamu. Aku mau belajar masak sama ibu kamu. Soalnya kemaren waktu selametan rumah, masakannya enak.” Huuuhhh aneh-aneh aja sih ini bocah. Akhirnya sambil menghela nafas dalam, aku kembali melajukan motorku. Akhirnya sampai juga dirumahku bertepatan dengan adzan dhuhur.
“Assalamualaikum…. Bude..!!” kaget juga aku mendengar dia mengucap salam.
“Wa’alaikumsalam… eehh mbak Veronika. Sama siapa ?” ibuku membenahi letak jilbabnya menyambut Veronika. Ibu memang selalu ramah pada siapapun yang datang bertamu.
“Tuh sama anak bude yang lagi sakit gigi.” Matanya menunjuk kearahku.
“Kamu sakit gigi San ?” Ibuku bertanya
“Nggak !”
“Lho tadi kata mbak Vero..” Ibuku bingung. Kulihat Vero terkikik kikik melihat kebingungan ibuku.
“Habis daritadi dijalan diem aja. Kirain sakit gigi.” Ibuku tersenyum menanggapi ucapan Vero.
“Ayok sini masuk mbak Vero, mau minum apa ?”
“Vero kesini mau belajar masak sama bude.”
“Waahhh hari ini lagi ga ada pesenan apa-apa. Besok aja kesini lagi, besok mbak Vero bisa bantuin bude bikin kue buat arisan.”
“Serius bude ? Asiiikkk… yaudah besok Vero kesini lagi.”
“Udiiinn…anterin aku pulang dong !” Vero menggedor pintu kamarku. Huh sungguh mengganggu orang yang sedang khusyuk sholat. Ada yang mendorong pintu kamarku perlahan, kemudian menutupnya lagi.
“Hasanudin lagi sholat. Tunggu aja sebentar, nanti kalau sudah selesai bude minta dia antar mbak Vero pulang ya.”
“Iya bude.” Kudengar suara Vero menjawab. Selesai aku sholat, sengaja aku tidak keluar kamar. Biar saja tuh si pirang centil pulang sendiri. Mungkin karena menunggu aku lama tidak keluar, akhirnya ibuku kembali membuka pintu kamarku.
“San, tolong antarkan dulu mbak Vero.” Kalau ibuku yang sudah menyuruh, aku tidak bisa menolak. Akupun bangun dari tidurku. Kukenakan kaos dan jaket, lalu keluar. Kulihat Vero tertidur di sofa ruang tamu. Dasar bocah geblek, bertamu dirumah orang bisa-bisanya tidur. Kuambil koran bekas yang ada dibawah meja ruang tamu. Aku kibaskan ke kakinya.
“Vero ! Bangun ! Mau pulang nggak kamu !?” kulihat dia terkaget.
“Lho kok aku ada disini ?” Nggak tahu beneran bingung atau pura-pura bingung
“Udah nggak usah pura-pura bingung, ayok pulang !” kulihat dia menggeliat, masih belum beranjak dari duduknya.
“Mau pulang nggak ?! Kalo nggak jadi pulang, aku masuk kamar lagi nih, mau tidur !”
“Idiiihhh… jadi cowok judes banget sih ! udah kayak genderuwo !”
“Emang genderuwo judes ?”
“Yaa nggak tahu, iya kali.”
“Udah cepetan naik !”
“Iya sabaaarrr… bude… Vero pamit pulang dulu ya…”
“Iyaaa mbak Vero, hati-hati, besok jadi kan bantuin bude ?”
“Jadi dong bude..” katanya sambil mengacungkan jempol
“Ayooo buruan !”
“Iyaa sabarr…ihh judes banget sih !”
Sejak hari itu Vero sering sekali main kerumahku. Tapi dia sudah tidak pernah menggodaku lagi. Dia benar-benar fokus pada kegiatan memasaknya. Sepertinya dia memiliki hobby yang sama dengan ibuku.

2 minggu berlalu. Besok aku akan menghadiri resepsi pernikahan Zaenab. Hari ini aku tidak ke kampus. Didapur kudengar Vero berisik bertanya ini dan itu pada ibuku. Sesekali kudengar ibu dan Vero bercanda.
“Bude, si Udin itu pacarnya siapa ?”
“Isshh Hasanudin nggak pernah pacaran, dan nggak boleh pacaran juga.” Sahut ibuku
“Lho kenapa bude ?”
“Pacaran itu tidak baik. Baiknya langsung nikah saja.” Kata ibuku tertawa.
“Iya juga ya bude, pacarannya kalau udah nikah, hihihi.” Mereka tertawa bersama. Kompak bener kedengerannya.
“Trus bude udah punya calon belum buat Udin ?”
“Bude sih belum ada. Nggak tahu kalo Udin diem-diem udah punya calon sendiri. Atau Vero mau jadi calonnya Udin ?”
“Ih nggak ah bude. Si Udin judes, jutek kalo sama Vero. Lagian kan Vero nggak pinter ngaji dan nggak bisa sholat.”
“Yah nggak apa-apa, nanti biar diajarin sholat dan ngaji sama Hasanudin.”
“Mana dia mau bude, ntar dia bilang, nggak boleh bukan mahromnya berdua-dua.”
“Iya memang nggak boleh.” Sahut ibuku
“Trus gimana ngajarinnya kalo nggak boleh berdua dua, masa’ suruh jauh jauhan orang belajar.”
“Yaaa makanya jadi suami isteri dulu baru diajarin Hasanudin sholat dan mengaji.” Ibuku mulai menggoda Vero. Vero langsung tertawa.
“Trus Vero nanti langsung pake jilbab deh kayak kak Felis. Nggak mau ahh… panas.”
“Kalau sudah biasa pakai jilbab nggak panas kok, cari bahan jilbab yang adem.”
“Iiihh bude pantang menyerah deh. Emang mau punya menantu kayak Vero ?”
“Lho mau dapat menantu cantik masa’ nggak mau.”
“Emang Vero cantik bude ?”
“Cantiklah, semua perempuan itu cantik sebagaimana adanya.”
“Ih bude bahasanya keren lho… bude bikin aku kangen sama mama, dulu mama juga pinter masak kayak bude, tapi aku nggak pernah mau belajar masak. Sekarang aku mau belajar masak, supaya kalau lagi kangen masakan mama bisa masak sendiri. Biar papa juga terus bisa ngerasain masakan mama walau mama sudah tidak ada.”
Dari dalam kamar kasihan juga aku mendengar curhatan Vero. Oohh pantas saja kalau selama ini selalu menggelendot manja dan dekat-dekat dengan ibuku, sepertinya dia sedang merindukan sosok seorang ibu.



Hari ini aku menghadiri ijab qobul sekaligus resepsi pernikahan Zaenab. Benar saja, Zaenab bikin pangling semua orang, cantik sekali. Aku tidak berani memandanginya berlama-lama, dia isteri orang, dia bukan mahromku. Selesai acara makan-makan dan foto-foto aku bergegas pulang. Sesampainya dirumah, aku langsung rebah menuju kamarku yang nyaman. Aku kembali membuka sosmed, mencari Bunga Kejora. Dia sedang melakukan siaran langsung, aku langsung menontonnya. Ternyata dia hanya menyoroti keindahan bangunan Masjid di Eropa. Dia menyoroti dan mengomentari setiap shoot kamera. Rasa-rasanya aku mengenal suara itu, tapi suara siapa ya ? aku berusaha mengingat suara teman-temanku, ahh…tidak ada yang seperti itu. Tapi aku seperti pernah mendengar nada suara seperti itu. Aduh suara siapa ya ? aku benar-benar lupa…

Hari ahad ini, entah mengapa aku seperti gelisah. Seperti akan terjadi sesuatu. Tapi apa ? tadinya berencana ingin pergi ke toko buku, tapi kok malas. Kulihat ibu sedang menonton TV sendiri.
“Bu, kok hari ini rasanya kayak suasana orang meninggal ya bu.”
“Iya, ibu juga merasa kayak gimana gitu lho San.”
Hari itu aku sempat melihat jam pukul 11:00 am. Terdengar bunyi kresek-kresek seperti mic masjid bergerak, bertanda ingin mengumumkan sesuatu.
“Innalillahi wa’inalillahi roji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah sepasang suami isteri yaitu bapak Hermawan dan ibu Felisia yang bertempat tinggal di Jl. Sentul Rt 08 / Rw 02 karena kecelakaan yang terjadi tadi pagi saat mobil yang membawa mereka dari bandara menuju ke rumah bertabrakan dengan bis antar kota. Saat ini jenazah sudah sampai dirumah duka. Kami persilahkan bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian untuk turut serta mengurus proses pemakamannya. Wassalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh”
Aku dan ibu tersentak kaget. Itukan mas Hermawan dan mbak Felis kakaknya Vero. Ya Allah… aku langsung bergegas mengambil motor, ibu bergegas berganti pakaian, secepat kilat kami meluncur menuju rumah Vero. Disana sudah berkumpul banyak orang. Sudah dibuat 2 tenda berbeda untuk proses memandikan jenazah. Bapak-bapak dan ibu-ibu dikampungku memang sigap bila menghadapi kejadian dukacita seperti ini. Inilah yang membuatku bangga pada kampungku. Vero langsung berlari memeluk ibuku, menangis sejadi-jadinya.
‘Budeee…Vero udah nggak punya keluarga. Mas Her dan mbak Felis adalah orang tua Vero, papa udah nggak bisa apa-apa dikursi roda. Tapi sekarang, Tuhan panggil mas Her dan mbak Felis. Vero nggak punya siapa-siapa lagi budeee…”
“Hussshhh nggak boleh ngomong gitu. Disini kita semua keluarga, kita bukan orang lain. Yang sabar, do’akan saja mas Her dan mbak Felis mendapat tempat yang bagus disana. Mbak Vero harus tabah yaaa..” ibuku terus menangkan Vero.
Dari para pelayat kudengar, ternyata pak Hermawan dan mbak Felis baru saja pulang dari bulan madu. Namun malang, mobil yang beliau tumpangi dari bandara menuju kerumah mengalami kecelakaan.
Jenazah sudah selesai dimandikan. Siap untuk dibalut kain kafan. Ada beberapa orang datang mendekati Vero untuk menanyakan nama lengkap pak Hermawan dan mbak Felis untuk dituliskan dibatu nisan. Vero menyebut : FELISIA BUNGA KEJORA BINTI ANDREAS SENTAUSA. Aku terkaget, ada nama yang aku kenal jelas. Tanpa sadar, aku ikut bertanya :
“Siapa Vero ?”
“Felisia Bunga Kejora binti Andreas Sentausa.” Vero mengulangi
“Bunga Kejora ?” aku mengulangi nama itu serasa detak jantungku berhenti
“Iya… itu nama lengkap mbak Felis. Bunga Kejora itu nama pemberian almarhumah mama. Mama menambahkannya karena saat akan melahirkan mbak Felis, mama melihat ada bintang jatuh yang bentuknya seperti bunga. Maka mama menamainya Bunga Kejora.”
Darahku serasa berhenti mengalir, jantungku serasa berhenti berdegup. Seluruh persendianku terasa lemah lunglai. Susah payah kutahan air mata yang menggenang. Sakit ini begitu menyayat. Kupandang jenazah mbak Felis yang sudah dikafani. Bunga Kejora ? Felisia Bunga Kejora ? artinya siaran langsung 2 hari yang lalu ?! Masya Allah…!!! Mataku terpejam menahan genangan air mata. Teringat kembali do’aku dimalam itu : “Ya Allah berilah aku kesempatan untuk bisa melihat Bunga Kejora walau hanya satu kali !” Subhanallah ! IA kabulkan permohonanku.

Proses pemakaman telah usai. Kudekati Vero.
“Apakah benar ini sosmednya mba Felis ?” Vero meliriknya.
“Iya benar.” Kembali kupejamkan mataku. Degup jantung ini serasa belum berhenti bertabuh.
“Ada apa Din ? kenapa ? sepertinya kamu ikut terpukul dengan kepergian mbak Felis.”
“Suatu saat akan aku ceritakan padamu Ver. Tapi tidak sekarang.”
Sesampainya dirumah, aku langsung masuk kamar dan kembali membuka akun Bunga Kejora. Kulihat kembali semua postingan-postingannya. Aku menangis bagai seorang wanita. Bagaimana mungkin bisa, aku menaruh hati pada dia yang belum kukenal rupanya ! duh Gusti ! rasa apa sebenarnya ini ?! bagaimana mungkin aku bisa terpesona oleh rangkaian kata. Hati tersemat dalam deretan kalimat. Dia yang aku puja, baru kulihat rupanya, diambang pintu saat menghadap sang pencipta. Untukmu Bunga Kejora, ingin kuanggap rasa ini tak pernah ada.


Inilah ceritaku isteriku. Kau bukan pelarianku, aku menikahimu karena Allah, sebab melalui istikharah engkau makin mendekat, seiring restu ibu yang kudapat. Menjadi imammu inshaa Allah akan menjadi jalan surga bagiku khususnya, dan tentunya bagi kita berdua juga. Aku tersanjung karena Allah menunjukku untuk menggenggam tanganmu, inshaa Allah hingga Jannah-NYA. Di tanggal ini (25 April 2018) 1 tahun yang lalu, kau ucap 2 kalimah syahadat dan kuserahkan seperangkat alat sholat serta ijab qobul sebagi pengikat. Kini kau semat hijab, tanda kau mulai taat, karena rambut pirangmu hanya aku yang bisa melihat. Allah menghadirkanmu untuk mengubah hidupku yang kaku. Engaku membawa warna baru dalam hatiku. Ketahuilah wahai isteriku, Elizabeth Veronika, aku sangat mencintaimu. Ternyata aku tidak jutek kan ? aku bisa romantis juga kan ? Jelaslah, karena aku meminta seseorang merangkai kata terindah khusus untukmu. Bukankah kau bilang aku terlalu kaku ? namun aku mampu memberikan dunia baru dalam hidupmu, lihatlah bukankah kini kau bahagia ada sebuah kehidupan baru didalam rahimmu ? Sehatlah selalu cintaku.


وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)


Catatan dari penulis : Allah selalu memberikan yang terbaik dalam hidup setiap hambaNYA yanga mampu Sami’na wa Ato’na. Menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, karena hidup adalah keindahan bagi mereka yang memahami bahwa sumber kebahagiaan hanyalah dari sikap taqwa. Hanya ini rangkaian kata yang bisa kutulis, untukmu akhi. Serangkaian kata yang ingin kau persembahkan bagi isterimu yang kau cinta.

(Akun Bunga Kejora sudah di private oleh isteri narasumber, agar tidak selalu menimbulkan fitnah dan luka. Kode etik penulis untuk menjaga privacy narasumber)



DILARANG MENGAMBIL IDE CERITA INI UNTUK TUJUAN KOMERSIL, TANPA SEIJIN PENULIS

BAGI YANG INGIN COPAS TULISAN KE DALAM BLOG PRIBADINYA ATAU KE DALAM SOSMEDNYA, HARAP UNTUK MENCANTUMKAN LINK BLOG INI SEBAGAI SUMBER ASLI IDE CERITA

1 komentar:

  1. Seperti pernah mendengar cerita nyata ini..indaaahnya taqwa

    BalasHapus

HANYA BUTUH TAAT DAN ISTIQOMAH

(Nama & tempat dirahasiakan, agar tidak menjadi riya) Dulu saat saya jadi wanita karier, seolah tidak masalah sedikit-sedikit nabra...

Postingan Populer