Senin, 23 April 2018

AKU BUKAN YANG DULU


Klutik… seperti ada sebuah benda terjatuh dari sela-sela tumpukan buku didalam rak. Ah, sebuah foto saat aku melaksanakan pre-wedding dengan suamiku dulu. Kuambil foto usang itu, kuperhatikan wajahku yang dulu ayu, bentuk tubuhku yang masih memperlihatkan lekuk indah, sempurna ! tanpa sadar aku menoleh pada cermin disudut kamar. Kini semua telah berubah, wajah melebar, lengan membesar, pinggul melebar, perut membesar. Masya Allah…

15 tahun yang lalu aku lulus dengan prestasi cumlaude program study farmasi di salah satu universitas negeri di Indonesia. Saat itu atas rekomendasi pamanku, aku bisa bekerja di salah satu perusahaan farmasi ternama dikotaku. Aku dikenal gadis yang sangat lincah dan energik. Aku memiliki penghasilan yang cukup besar pada masa itu.

Suatu hari aku hadir dalam sebuah acara reuni SMA ku. Itulah awal mula pertemuanku dengan suamiku. Dia adalah kakak kelas 1 tingkat diatasku. Tidak banyak yang istimewa, namun kami merasa seperti ada semacam kecocokan saat kami saling berbincang. Padahal dulu kami sama-sama tidak saling mengenal. Aku memang tidak terkenal saat SMA. Prestasiku mulai melejit saat aku kuliah. Suamikupun dulu juga tidak dikenal. Maka saat kami berjumpa lagi pada acara reuni SMA itu seperti pertemuan pertama bagi kami. Yang kuingat dulu sosoknya sangat biasa. Namun kini sangat berbeda, wajahnya rupawan, cara bicara yang sopan, cara berjalan yang gagah, cara berpakaian yang trendy. Sempurna ! seperti laki-laki idamanku. Kami saling bertukar nomor telepon. Jujur sebenarnya saat itu aku sudah menaruh rasa padanya. Entahlah bagaimana dengan dia. Aku sangat senang ternyata dia bekerja satu kota denganku, hanya saja memang kedudukan dia dikantornya tidak seperti aku. Tapi bagiku itu tidak masalah.




Pulang dari acara reuani, dia mengantarku pulang sampai rumah. Dirumah dia berbincang dengan ibuku sebentar. Sejak saat itu kami sering sekali bertemu. Entah itu nonton bioskop, atau hanya sekedar jalan-jalan dan makan berdua. Entahlah, aku tidak tahu, dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya padaku. Dia hanya menunjukkan sikapnya yang selalu lembut dan sopan padaku. Suatu hari dia mengatakan ingin sekali bisa kuliah S1, agar bisa naik posisi dikantornya dan punya bekal untuk menjadi PNS. Tapi apa daya dia adalah tulang punggung bagi keluarganya. Kutawarkan padanya, aku bersedia membiayai kuliahnya. Awalnya dia menolak, “tidak enak” katanya. Masa’ laki-laki kuliah dibiayai perempuan. Kemudian kukatakan padanya. “Ya sudah kalau tidak enak, anggap saja hutang. Saat kamu sudah bekerja nanti kamu bisa cicil bayar.” Akhirnya dia setuju. Hubungan kami makin lama makin dekat. Ibunya pun sempat beberapa kali datang kerumahku sekedar untuk berbincang dengan ibuku.

Suatu hari, ibuku bertanya kepadaku : “Santi, apakah kamu berpacaran dengan Zaki ? sudah sejauh mana hubungan kalian ?” aku bingung menjawabnya. Ingin berkata iya, tapi Zaki belum pernah menyatakan cintanya padaku. Mau berkata tidak, rasanya tidak rela membohongi hati ini betapa makin hari perasaanku makin mendalam pada Zaki. Aku sendiri tidak tahu seperti apa pandangan ibu tentang Zaki.
“Aku tidak tahu bu, Zaki belum bicara apa-apa padaku.” Akhirnya keluarlah jawaban itu.
“Lho selama ini kalau kalian sering jalan itu kemana saja ?”
“Ya… jalan-jalan saja bu, sambal menengok ayahnya Zaki. Ada apa bu ?”
“Kemarin ibunya Zaki meminjam uang pada ibu, katanya mereka butuh biaya untuk pengobatan ayah Zaki di Rumah Sakit, karena ibu kasihan yaaa ibu berikan. Sekarang ibu mau tanya sama kamu Santi, apakah kamu suka dengan Zaki ?” aku terdiam sesaat dan kemudian mengangguk ragu. Ibu hanya menghela nafas.
“Jujur entah kenapa ibu merasa kurang sreg dengan Zaki, tapi bila kamu suka yaaa terserah kamu. Ibu sebenarnya tidak terlalu suka kamu sering pergi dengan Zaki dan terlalu dekat dengan dia.” Aku hanya diam. Namun dalam hati aku berkata, “Ibu akan aku buktikan bahwa Zaki akan bisa menyenangkan ibu.


Walau kini aku tahu bagaimana pandangan ibu pada Zaki, tetap saja tidak mengurangi frekuensi pertemuanku dengan Zaki. Bahkan semakin sering, walau Zaki sebenarnya sudah merasa ada perubahan dari sikap ibu pada dirinya.
“Ibumu sepertinya mulai tidak suka dengan aku. Apa karena aku bukan dari kalangan keluarga berada ?” Tanya Zaki suatu hari padaku.
“Nggak usah terlalu sensi deh, ibu hanya belum tahu saja siapa kamu.” Jawabku menenangkan.
Walau Zaki tak pernah mengucapkan kata cinta untukku, tapi entah mengapa aku begitu yakin Zaki menyukaiku. Hubunganku dengannya semakin dekat. Kami sudah melupakan batas-batas hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya. Hingga suatu ketika aku terlambat datang bulan. Aku berusaha untuk tenang, semoga ini hanya siklus menstruasi yang berubah saja, walau ada sedikit kekhawatiran. Satu bulan sudah. Aku mulai merasakan mual-mual, badan tidak enak. Ya Tuhan…!!! jangan sampai aku hamil…!! Aku belum siap !! aku beranikan diri untuk membeli testpack. Keesokan paginya aku test. 2 garis !!! tapi aku masih menenangkan diriku. Ah coba kucoba sekali lagi besok. Ternyata masih 2 garis !!! ya Tuhan..!! aku hamil tapi aku belum menikah !!! ooohhh teringat ucapan ibu yang tidak suka dengan Zaki !! bagaimana aku bicara pada orang tuaku ?! tapi aku harus bicara dulu pada Zaki.
“Hamil ? kamu yakin ? coba besok kita ke dokter kandungan !” keesokan harinya kami ke dokter kandungan. Benar saja, aku hamil. Masih diteras praktek dokter kandungan, kulihat Zaki begitu galau dan gamang.
“Kenapa kamu nggak pakai kontrasepsi ? kamu kan tahu kita belum menikah !”
“Kok kamu jadi nyalahin aku ? kamu pikir aku sudah terbiasa lakukan ini ? Aku melakukan pertama kalinya dengan kamu !”
“Tapi kan kamu tahu, keadaanku belum siap ! aku baru susun skripsi ! apa kamu mau aku gagal kuliah ?”
“Kamu kan masih bisa kuliah walau kita menikah !”
“Tapi kan nanti saat kamu hamil besar dan melahirkan, kamu nggak bisa kerja. Harus urus anak, darimana aku dapat uang ?!”
Aku menatap Zaki tak percaya dengan ucapannya. Jadi selama ini dia hanya butuh uangku ?! ada rasa sesal mulai merayapi hatiku. Merasa tolol dan bodoh tak mampu mawas diri dan menjaga diri.
“Trus sekarang maumu apa ?” tanyaku
“Gimana kalau kita gugurkan saja dia. Kita mulai dari awal, kita perbaiki lagi hubungan kita, jangan sampai kecolongan lagi kayak gini.” Ucapannya datar namun menusuk.
“Aku tidak mau !! ini anakku !!”
“Kalau begitu jangan minta aku bertanggung jawab ! ini kesalahanmu !”
“Apa kamu bilang ?! kesalahanku ?! apakah aku bisa hamil kalau bukan karena kamu ?!” aku mulai menangis
“Aku belum siap menikah Santi ! aku belum siap punya anak !”
“Aku akan membuatmu siap !” kutinggalkan Zaki begitu saja. Aku pergi dengan membawa tangisan dan kesedihan. Aku seperti melihat Zaki yang berbeda.

Sesampainya dirumah, aku langsung masuk kamar. Merebahkan tubuh diatas kasur. Mataku menerawang menatap langit-langit kamar. Ya Tuhan !! apa yang harus aku lakukan !!
Rasa mual ini makin hari makin bertambah. Zaki masih menghubungiku, mungkin karena ia masih butuh uangku untuk biaya kuliahnya. Tapi ia sama sekali tidak pernah bertanya soal kandunganku. Aku lelah, aku capek. Tidak tahu harus bagaimana. Akhirnya, aku memberanikan diri bicara pada orang tuaku. Ayahku marah besar !! tamparan keras 2x singgah dipipiku.
“Mana laki-laki itu ! suruh dia datang menghadap ayah malam ini !” aku masih menangis tergugu. Hingga ayahku membentak kedua kalinya.
“Santi ! telepon laki-laki itu ! ayah mau bicara !”
Dengan langkah gemetar, aku berjalan menuju kamar untuk mengambil handphone. aku kembali lagi dihadapan ayah.
“Telepon dia ! ayah mau bicara !” aku segera memanggil no Zaki.
“Datang kerumah ! sekarang !” Hanya itu yang ayah ucapkan. Aku tidak tahu bagaimana jawaban Zaki di seberang sana. 30 menit kemudian Zaki datang ke rumah. Ayah minta Zaki untuk datang bersama orang tuanya melamar aku. Keesokan harinya Zaki datang kerumahku bersama dengan ibunya. Pada pertemuan itu diputuskan kami harus mempersiapkaan administrasi pernikahan selama 1 minggu, kemudian mempersiapkan resepsi sederhana mengundang tetangga dan kerabat. Semua berjalan begitu cepat. Kulihat Zaki seperti orang yang pasrah menerima keadaan, hanya menurut saja, tidak ada komentar atau ide apapun, termasuk saat mencetak undangan dan memilih pakaian pengantin. Aku tidak perduli, yang penting anak dalam kandunganku memiliki ayah, dan dia adalah laki-laki yang aku suka.

Tibalah hari itu aku syah menjadi nyonya Zaki. Aku bahagia, akhirnya menikah dengan lelaki yang aku cinta. Namun kulihat wajah Zaki datar-datar saja. Ah biarlah, aku tidak perduli, mungkin dia masih tegang, mungkin dia masih galau dengan kuliahnya, ah sudahlah, nanti juga setelah anaknya lahir, akan tumbuh rasa sayang dari dalam hatinya. Kami bermalam selama seminggu dirumah orang tuaku, hingga akhirnya Zaki memintaku untuk tinggal dirumah orang tuanya. Alasannya dia butuh konsentrasi untuk menulis skripsi, dirumahku dia canggung, apalagi dia belum memiliki pekerjaan yang bisa mencukupi kebutuhanku. Aku menurut. Akhirnya pindahlah kami ke rumah orang tua Zaki.
Tahun-tahun pertama aku tinggal bersama mertua dan adik-adik iparku, tidak ada masalah apa-apa. Mungkin karena aku masih bekerja, aku selalu memberi uang belanja untuk ibu mertuaku setiap bulan. Hingga saat aku melahirkan anak pertama. Alhamdulillah anakku laki-laki, tampan seperti ayahnya. Aku cuti 3 bulan karena melahirkan. Setelah itu aku kembali bekerja. Anakku diasuh oleh ibu mertuaku dan dibantu oleh adik iparku. Hingga aku melahirkan anak pertamaku, aku merasa sikap Zaki masih saja datar. Aku tidak perduli, yang terpenting dia selalu ada bersamaku. Hingga di suatu hari Zaki memberi tahu kelulusannya dan hari wisudanya. Wahhh tak terkira bahagiaku. Usahaku membiayai suamiku tidak sia-sia. Hanya di hari itulah aku melihat suamiku begitu sumringah dan selalu tersenyum kepadaku. Dengan berbekal ijazah S1 yang sudah ia miliki, 3 bulan kemudian posisi suamiku naik. 6 bulan berikutnya aku hamil lagi anak kedua. Lagi-lagi suamiku tidak senang dengan kehamilanku yang kedua ini.
“Kamu kok beranak terus sih ! KB kenapa ! 1 anak aja udah ngeribetin, ini belum gede udah hamil lagi !” aku terperangah mendengar ucapannya yang kasar.
“Kok kamu ngomongnya gitu sih ?”
“Lha iya, kamu itu jadi isteri kebangetan banget, nggak ngertiin kerepotan suaminya. Kamu kan tahu dari awal aku ini tulang punggung keluarga, aku belum siap nikah ! aku nikah sama kamu itu terpaksa ! karena kamu sudah hamil ! dan itu juga karena kecerobohanmu yang nggak pakai kontrasepsi !” aku bagaikan ditampar berkali-kali mendengar kata-kata suamiku. Sungguh aku tidak menyangka. Aku hanya bisa lari kekamar dan menangis. Kulihat putraku yang tampan. Masya Allah… ayahnya hanya mau menyentuh saat meng-adzani dia. Selebihnya sungguh-sungguh tidak perduli. Aku peluk puteraku yang masih terlelap tidur. Wajahnya begitu damai. Tiba-tiba aku merasa bersalah telah melahirkannya. Tapi… andaikan dulu dia aku gugurkan… ah aku tidak sanggup membayangkannya. 

Suamiku semakin acuh tak acuh padaku dan juga pada putera sulungku. Aku berusaha menahan diri. Keluarga mertuaku pun juga bersikap sama seperti suamiku. Aku seperti terasing dirumah itu. Bahkan saat aku coba memberikan uang bulanan pada ibu mertuaku, beliau menerimanya dengan ucapan “terima kasih” yang datar. Aku tidak tahu, mengapa kehamilanku yang kedua ini mereka anggap sebuah kesalahan ? aku merasa tertekan, aku stress, hingga aku tidak memperhatikan perkembangan janinku. Pelampiasanku saat stress adalah pada makanan. Dikantor aku hobi sekali ngemil, hingga berat badanku over. Dokter kandungan sudah memberi warning, jangan terlalu gemuk, nanti akan berpengaruh pada janin, sehingga tidak bisa melahirkan normal. Namun aku sudah tidak tahu lagi harus melampiaskan pada siapa ? untuk kembali pulang ke rumah orang tua, aku malu. Makananlah tempat pelarianku. Hingga suamiku berkomentar : “kamu kok tambah gemuk sih, tambah jelek” sakit rasanya, tapi kudiamkan saja. Hingga suatu ketika, aku mengalami kontraksi, tapi aku merasa sepertinya kandunganku belum cukup umur untuk melahirkan. Aku telepon suamiku, diseberang sana dia menjawab : “Cari taxi ! nggak usah manja ! kamu punya uang kan ?” masya Allah… lagi-lagi dengan sedih aku harus pergi sendiri ke rumah sakit. 

Ternyata bayiku harus segera dikeluarkan dengan operasi sesar, dokter butuh tanda tangan suamiku. Dari rumah sakit kutelepon kembali suamiku, dia bilang tidak bisa datang, hingga telepon aku serahkan pada dokter supaya menjelaskan keadaanku, akhirnya suamiku bersedia datang tapi tidak bisa cepat karena banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan, begitu katanya. Persiapan mondok di rumah sakitpun dilakukan. Aku akan menjalani operasi sesar besok pagi dan sudah harus mulai puasa nanti malam. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku malam itu, yang aku tahu aku tidak pernah melihat suamiku datang menjenguk ke kamarku. Untung ada teman-teman kantorku yang datang menjenguk, sedikit mengobati rasa hatiku. Aku kembali mendapatkan seorang putera. Dia sama tampannya seperti ayah dan abangnya. Selama 3 hari di rumah sakit, suamiku sama sekali tidak datang menjenguk, begitupun dengan keluarganya. Bahkan saat orang tuaku datang menjenguk, mereka menanyakan “dimana suamiku” aku selalu berbohong, kukatakan baru saja pulang, karena banyak kerjaan. Padahal dalam hati aku menangis, tidak ada satupun dari mereka yang menjengukku. Saat aku harus kembali pulang kerumah, aku menyelesaikan urusan administrasi sendiri sambil menggendong bayiku. Rasa iri menyergap saat aku melihat pasangan muda, seorang suami yang begitu bahagia menggandeng isterinya yang sedang mendekap penuh kasih bayi mereka. Sedangkan aku ? kemana suamiku ? aku menahan tangis yang menggenang dipelupuk mataku. Aku segera bergegas menyelesaikan administrasiku dan pergi.

Sesampainya dirumah mertua, tidak ada yang mendatangi bayiku. Satu-satunya orang yang mendatangiku hanyalah ibu mertuaku. Itupun untuk mengucapkan kata-kata ini :
“San, ibu nggak sanggup kalau harus mengurus 2 orang anakmu. Lebih baik kamu menggaji baby sitter saja untuk mengurus anakmu.” Aku tercekat. Tak bisa berkata apa-apa. Aku berpikir keras, bagaimana caraanya agar aku tetap bekerja, tapi anak-anakku tetap terurus. Dengan dibantu oleh teman kantorku, aku mencari seorang baby sitter. Walau aku harus membayarnya separuh dari gajiku, ya sudahlah, tak apa yang terpenting anak-anakku terurus. Baby sitter itu 10 tahun lebih muda usianya dibanding ibuku. Dia sepertinya sudah berpengalaman mengurus anak. Terbukti putera sulungku langsung akrab padanya. Untungnya rumah mertuaku cukup besar, masih ada 1 kamar lagi yang bisa digunakan oleh bibik baby sitter itu. Hampir 3 tahun ia merawat anakku. Anak-anakku tumbuh sehat dan lincah. Selama itu pula sikap suamiku berubah-ubah. Terkadang baik dan romantic (biasanya kalau habis kubelikan sesuatu), terkadang dingin sedingin es dan aku harus dibuat bingung untuk mencari tahu dimanakah kesalahanku. Hingga suatu hari aku mendengar dari salah seorang temanku, kalau suamiku memiliki hubungan dengan teman sekantornya. Aku diperlihatkan sosmed perempuan itu. Di sosmed itu berisi foto-foto mesra mereka. Aku meradang… aku marah… aku tidak terima !!! selama ini aku diam ! selama ini aku berusaha bertahan ! namun ternyata suamiku keterlaluan !! aku save semua foto-foto mesranya. Aku upload kembali di sosmedku dengan caption yang besar dan huruf tebal “PELAKOR”. Tak cukup sampai disitu, aku muntah di sosmed, aku kalap di sosmed, karena aku tidak tahu lagi kemana aku harus mengamuk !! aku ingin dunia tahu bahwa AKU MARAH !! Aku isteri yang telah mebiayai suaminya kuliah ! aku isteri yang telah mencukupi kehidupan rumah tanggaku beserta keluarganya ! semua keluarrr !! tumpah ruah bagaikan larva panas muntahan gunung merapi. Tiap jam aku update status. Bahkan seluruh teman-teman suamiku aku tag, agar mereka tahu seperti apa suamiku. Suamiku yang tahu perbuatanku marah besar.
“Gue bakal ceraiin elu ! gue nggak terima diginiin !” itu kata-kata pertama gue-elu yang keluar dari mulut suamiku.
“Elu suami yang nggak tahu diri ! udah gue biayain kuliah, nggak ada terima kasihnya, malah selingkuh !”
“Heh ! gue nggak pernah minta elu biayain. Elunya aja yang kegatelan sama gue. Terus-terusan mepet-mepet gue. Elu pikir lu udah kecakepan apa ? ngaca sono ! lihat muka lu sekarang, nggak jauh beda sama babu ! lihat badan lu sekarang, nggak jauh beda sama b*b* !”
Aku meradang, aku makin mengamuk. Aku ambil hand phonenya aku banting didepan wajahnya. Dia tampar wajahku, plak ! plak !
“Gue udah nggak tahan hidup sama elu !” kata suamiku sambal memungut HP nya yang kubanting kemudian pergi meninggalkanku. Aku menangis meraung-raung dikamarku. Teringat kembali kata-kata ibuku yang merasa tidak sreg dengan suamiku. Inikah hasilnya ?

Sejak hari itu, aku selalu memata-matai suamiku dikantornya. Aku sering tiba-tiba datang kekantornya. Walau suamiku terlihat tidak suka, aku tidak perduli. Aku hanya ingin tunjukkan pada wanita dikantor itu kalau pria ini adalah suamiku dan dia sudah beristeri.
Sementara dirumah mertuaku, kekacauan lain datang. Ayah mertuaku berselingkuh dengan baby sitterku. Ibu mertuaku langsung mengusirnya tanpa bicara dulu padaku. Saat pulang kerja, aku dapati anak-anakku menangis : “Mama… bibik diusir nenek…!” aku berusaha menghibur anak-anakku sebisaku. Malamnya suamiku bicara :
“Lebih baik kamu resign saja. Urus anak-anak dirumah. Lagian kamu kerja malah jadi kurang ajar sama suami.”
“Aku nggak mau resign. Kalau aku resign, siapa yang membiayai kehidupanku dan anak-anakku.”
“Kamu sepelekan aku ? kamu pikir aku tidak sanggup membiayai hidup kalian ? nanti kubayar hutang-hutang biaya kuliahku, kamu bisa hidup dari situ.”
“Nggak, aku tetep nggak mau resign.”
“Sekarang kamu tahu kan susahnya ngurus anak. Harusnya dulu anak-anak itu nggak perlu kamu lahirkan. Kalau dulu kamu ikuti saranku, kamu nggak akan kerepotan seperti ini sekarang.”
“Kamu ini ayah macam apa ? dimana-mana seorang ayah akan sayang dengan anak-anaknya, tapi kamu ini aneh, seperti kelainan jiwa !”
“Iya, tapi bukan yang dilahirkan dari ibu macam kamu !”
“Memangnya apa salahku ?”
“Bukan salahmu, tapi salahku. Bisa-bisanya dulu aku dekat dengan perempuan macam kamu !”
“Memangnya aku perempuan macam apa ?”
“Perempuan jelek yang gatal dan tidak tahu malu.”
“Kalau aku jelek, kenapa kamu menghamiliku ?”
“Karena aku khilaf.”
“Cuma karena khilaf ?”
“Iya. Kamu pikir aku mencintai kamu ? heh asal kamu tahu, kamu bukan tipeku. Aku bisa mencari perempuan yang lebih cantik dari kamu. Apalagi sekarang, lihat diri kamu ? sudah gendut seperti b*b*, muka kayak babu.” Dia ulangi lagi kata-kata itu. Aku meradang, namun tidak bisa berkata apa-apa. Aku menangis, namun dia tidak perduli.


Sejak bibik baby sitter tidak ada si bungsuku sering sakit-sakitan. Beberapa kali mengigau memanggil bibik. Aku berusaha mencari pengganti si bibik, namun setiap kali aku dapat, ibu mertuaku tidak pernah setuju, khawatir kejadian yang dulu terulang lagi. Aku berusaha membujuk suamiku untuk pindah rumah, namun suamiku tidak perduli. Akhirnya aku sering bekerja sambil membawa anak-anakku, aku titipkan di kantin tempatku bekerja. Entah karena kelelahan atau apa, anak-anakku berganti-gantian masuk rumah sakit. Karena begitu repotnya aku membagi waktu antara bekerja dan mengurus anak, maka akhirnya aku mengalah dan aku putuskan untuk resign. Sebelumnya aku mengadakan perjanjian dulu dengan suamiku tentang jatah tiap bulan yang aku terima. Entah sedang kemasukan malaikat atau apa, suamiku setuju untuk membiayai hidupku dan anak-anakku. Hanya 3 bulan suamiku memenuhi janjinya, setelah itu perilakunya lebih parah lagi. Dia tidak pernah lagi mau menyentuhku. Setiap malam dia selalu pergi untuk berkumpul dengan teman-temannya. Bila aku tanya “Mau kemana ?” “Bukan urusan lu,” begitu jawabnya.
Setiap kali aku minta jatah bulananku, dia selalu bilang : “Duit gue tuh gue bagi-bagi, bukan Cuma buat elu doang. Kan lu dari dulu udah tahu, kalo keluarga gue juga ague yang biayain.”
“Tapi kan, itu jumlah yang sudah disepakati. Anak-anak kita juga punya kebutuhan !”
“Anak-anak kita lu bilang ? anak-anak lu aja kali… kan elu sendiri yang mau melahirkan mereka.” Jawabannya benar-benar membuatku sedih. Ternyata dengan darah dagingnyapun dia tidak memiliki hati.
“Anak-anak itu nggak bersalah. Kenapa kamu begitu benci dengan mereka ?”
“Mereka salah. Cuma satu kesalahan mereka, punya ibu kayak elu !”
“Sepertinya kok kamu benci sekali sama aku ? memangnya apa salahku ?”
“Salah lu banyak. Puncaknya saat lu ember di sosmed ngomongin temen gue pelakor. Trus lu tagin semua temen-temen gue dari status-status ember lu yang nggak bermutu !”
“Lah itukan karena kamu bikin gara-gara, selingkuh ! sementara aku dan anak-anakmu nggak kamu perdulikan !”
“Elu aja yang ngotot ! udah tahu gue udah males sama elu dan anak-anak lu ngapain juga kalian masih tetep aja ada di kehidupan gue. Denger ya… mulai sekarang, jangan urusin hidup gue, kita hidup masing-masing, gue akan berubah, tapi bukan sama lu. Gue akan memperbaiki semuanya dengan seseorang yang lebih gue cintai yang akan melahirkan anak-anak yang gue pengenin ! paham lu !” aku tidak tahu lagi bagaimana aku harus bersikap. Sudah begitu sering dia mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan, dan aku tidak pernah bisa menemukan alasan mengapa aku masih bertahan ? mungkin karena aku masih butuh nafkah untuk diriku dan anak-anakku.
Kembali kuperhatikan wajahku dicermin. Memang sudah tidak cantik. Tampak kusam tidak terawat, karena aku sudah tidak sanggup lagi membeli cream perawatan wajah. Bahkan aku sering mengalihkan perhatian anak-anakku dari para penjaja makanan yang lewat di depan rumahku. Sementara suamiku, penampilannya makin hari makin rapih dan wangi. Aku sering cemburu dan curiga setiap kali memperhatikan suamiku senyum-senyum sendiri dengan sosmednya, namun aku tak mampu berbuat apa-apa, takut dia marah bila aku tanya.

Suatu hari di sosmed, aku melihat temanku membagikan postingan seorang penulis yang menuliskan problematika rumah tangga. Aku kepo dengan akun penulis itu, hingga aku menjadi followernya. Aku baca semua tulisan di sosmednya, dia banyak posting tentang curhatan rumah tangga. Aku beranikan diri untuk menyapanya melalui inbox. Aku senang dia membalas inboxku. Aku bertanya : “Apakah aku boleh curhat ?” ternyata dia sangat ramah dan mempersilahkan aku untuk curhat. Dengan bahasaku yang tidak karuan, aku curhat panjang lebar dengan si penulis itu. Dia selalu menjawab setiap keluhanku. Awal yang dia sarankan adalah “meminta maaf pada suamiku dan meminta keridhoannya.” Kupikir mungkin ini bisa jadi jalan keluar untuk rumah tangga kami yang sudah tidak tahu lagi arahnya akan kemana. Aku coba melakukan sarannya. Namun apa yang dikatakan oleh suamiku : “Gue maafin elu, tapi tetep gue akan ceraiin elu, karena gue berhak bahagia dan berhak punya kehidupan yang lebih baik. Asal lu tahu, lu itu perempuan pembawa sial” Aku mulai putus asa. Aku kembali curhat pada penulis itu. Aku curahkan semua kegalauanku, kegelisahanku dan kekhawatiranku. Aku khawatir apa yang dikatakan suamiku benar, bahwa aku adalah perempuan pembawa sial. Aku galau, ketika aku melihat teman-teman fbku yang sudah menjadi janda malah semakin cantik. Perempuan-perempuan seperti itulah yang disukai oleh suamiku. Rasanya aku tak sanggup membayangkan bila salah satu dari mereka menikah dengan suamiku dan mereka memiliki keluarga yang bahagia. Lantas bagaimana dengan aku dan anak-anakku ? siapa laki-laki yang akan sudi menerima perempuan gendut, buruk rupa dan sudah memiliki 2 orang putera ? lama sekali inboxku tidak dibalasnya. Apakah dia bosan dengan curhatanku ? ah, aku mencoba berprasangka baik, dia penulis, tentu banyak yang curhat dengannya dan bukan hanya aku. Lagipula apa menariknya ceritaku ? aku selalu dengan setia menunggu tulisan-tulisannya sekedar untuk menyemangatiku. Suatu ketika kubuka inboxku. Subhanallah !! ada balasan dari penulis idolaku.
“Ukhti ketika ada banyak duri menancap ditubuh, rasa sakit itu tidak akan pernah hilang, hingga ukhti mencabut seluruh duri itu dan mulai mengobati luka. Bila yang terpikir hanyalah ketakutan karena rasa sakit yang akan dirasa bila duri-duri itu dicabut, maka luka itu tidak akan pernah sembuh. Ketahuilah, diperlukan keberanian untuk menahan rasa sakit sebentar, dibanding rasa sakit yang akan terus mendera bila duri-duri itu masih bercokol dipermukaan tubuh.” Aku coba memahami kata-katanya. Kemudian kubalas inboxnya dan kutanyakan apa maksudnya.
Pemulis itu kembali menulis dengan Bahasa yang harus kembali aku cerna :
“Duri-duri itu menancap ditubuh karena kita tidak mengindahkan adanya larangan yang tertulis “Jangan dekati pohon berduri itu !” namun kita bukan hanya mendekati pohon berduri itu, tapi kita memanjat pohon berduri itu dan bermain-main diatasnya. Sudahi saja permainan itu dan lepaskan seluruh duri-durinya, tahan sakitnya sebentar, setelah itu obati lukanya.” Kembali aku bertanya : “Apa maksudnya ?” kembali si penulis itu menjawab : “Tanyakan pada Allah di sepertiga malam dan mengajilah, karena Allah akan menjawab melalui firmanNYA.” Aku pikir sungguh membingungkan si penulis ini. Akhirnya, walau tanpa aku tahu maksudnya, aku lakukan apa yang dia katakan. Bersusah payah aku mulai melakukan sholat, aku berusaha ontime dan tidak bolong-bolong lagi. Aku benahi cara berpakaianku. Aku berhenti untuk ghibah. Aku selalu berusaha membaca Al-Quran setiap hari, walau dicibiri oleh suamiku, dan hal tersulit adalah bangun di sepertiga malam untuk sujud diatas sajadahku. Berbulan-bulan aku tidak menghubungi inbox penulis itu. Sebenarnya penulis itu sempat menanyakan nomor wa ku, tetapi hpku jadul, aku nggak bisa install aplikasi whatsapp, maka aku hanya bisa menghubunginya melalui inbox. Aku sempat melihat penulis idolaku beberapa hari yang lalu di salah satu stasiun televise. Terbersit dalam pikiranku “Ah andaikan aku memiliki talenta seperti yang ia miliki, pastilah suamiku bangga.” Kembali kubuka inboxku untuk menyapa penulis itu lagi. Aku ingin belajar sesuatu darinya. Aku ingin menjadi dia. Namun ternyata, penulis itu meninggalkan jejak tulisannya diinboxku : “Islam memuliakan wanita karena ke-taat-nnya kepada Rabbnya. Wanita harus menggapai kebahagiaannya bukan dari menuntut, tetapi dari mengubah diri, mengubah situasi tersulit menjadi kebahagiaan. Sanggupkah ? semua kesanggupan itu akan dikembalikan pada seberapa dalam ke-takutan-nya pada perintah Rabbnya, bukan ketakutannya pada situasi yang dibuat oleh manusia.” Lamaaa sekali aku merenungi kata-kata itu. Mungkinkah dia adalah orang yang Allah kirim untuk menjawab semua pertanyaan dalam kegalauan hidupku ? tapi apa makna semua kata-katanya itu. Apakah dia tidak tahu bahwa aku bukanlah pujangga seperti dirinya ? aku ingin bertanya apa maksud dari kata-katanya ? tapi aku urungkan, bisa bisa nanti akan dia tambah lagi dengan kata-kata lain yang lebih tidak aku pahami. Apa mungkin dia sudah bosan mendengar keluh kesahku ? ah bisa jadi. Tapi aku tidak berani berprasangka buruk padanya. Mungkin saja karena dia penulis, dia adalah orang yang sedang sibuk.
Malamnya aku mengaji. Aku membaca ayat Allah tentang zina.
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang jelek” (Al Qur’an Surat Al Isra :32). Aku tidak merasakan apa-apa saat membaca ayat ini
Keesokan harinya entah mengapa, hatiku tergerak untuk mengikuti pengajian majelis ta’lim di masjid yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Namun selama ini aku tidak pernah menggubrisnya. Dalam pengajian tersebut sang ustadzah membahas tentang zina.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam mengatakan bahwa yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka adalah mulut dan farji (kemaluan). Beliau bersabda :

(أكثر ما يدخل الناس النار الفم والفرج) رواه الترمذي وابن حبان في صحيحه

Yang paling banyak menjerumuskan manusia ke-dalam neraka adalah mulut dan kemaluan.” (H.R. Turmudzi dan dia berkata hadits ini shahih.)

Maka pantaslah kalau tentang hal ini Imam Ahmad mengatakan: “Aku tidak tahu ada dosa yang lebih besar setelah membunuh jiwa dari pada zina,”
Dan Ibnu Mas’ud berkata : “Tidaklah muncul riba dan zina pada suatu daerah kecuali Allah akan mengizinkan kehancurannya.”

Maka jelaslah masalah buruknya zina, Allah mengatakan bahwa zina adalah perbuatan keji dan jalan yang sangat buruk, Rasulullah bersabda bahwa zina adalah dosa besar yang banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka, demikian pula para Ulama. Sedangkan akal sehat dan fitrah bisa kita tanyakan pada diri kita sendiri. Aku tersentak mendengar kajian ini. Tiba-tiba teringat kembali kata-kata penulis itu :
“Duri-duri itu menancap ditubuh karena kita tidak mengindahkan adanya larangan yang tertulis “Jangan dekati pohon berduri itu !” namun kita bukan hanya mendekati pohon berduri itu, tapi kita memanjat pohon berduri itu dan bermain-main diatasnya. Sudahi saja permainan itu dan lepaskan seluruh duri-durinya, tahan sakitnya sebentar, setelah itu obati lukanya.”
Masya Allah… duri-duri itu adalah masalah-masalah yang kerap kali menghampiriku. Pohon berduri itu ?! astaghfirullah aladziim… itu zina. Aku bukan hanya mendekati zina, namun aku memulai pernikahan ini dengan zina. Maka Allah izinkan kehancuran rumah tanggaku. Masya Allah… tak sadar air mataku meleleh. Saat pulang kerumah, aku langsung lakukan sholat taubat, mohon ampun dan mohon petunjuk. Tiba-tiba aku seperti memiliki sebuah kekuatan yang aku tidak tahu datang darimana. Aku tidak takut lagi dengan ancaman cerai dari suamiku. Aku tidak takut lagi membayangkan suamiku akan menikah lagi dengan salah satu perempuan cantik dari jagad raya manapun. Hukum zina tetaplah sama bagi siapapun. Namun apa maksudnya aku harus menyudahi permainan itu ? apakah aku harus bercerai dari suamiku ? kembali kukirimkan inbox pada penulis itu, untuk menanyakan maksud kalimat terakhirnya. Dia hanya menjawab : “Istikhrahlah ukhti. Mintalah petunjuk. Petunjuk itu bisa saja datang dari sekitar kita atau dari ayat Al-Quran yang kit abaca. Maka teruslah mohon petunjuk dalam sholatmu dan teruslah mengaji untuk mengisi hari-harimu.” Kembali aku turuti kata-katanya. Entah mengapa, aku seperti memiliki dunia sendiri walau masih berada 1 atap dengan keluarga suamiku.

Sore itu secara tidak sengaja anak sulungku bermain sesuatu didalam rumah dan menyenggol HP ayahnya yang sedang dicharger. Suamiku marah besar : “Kapan sih gue bisa bebas dari orang-orang macam kalian ! udah pusing hidup gue ! udah hancur hidup gue karena kalian !” putera sulungku berlari ke arahku. Aku merangkulnya, aku mendekapnya :”Bunda, aku nggak mau tinggal disini lagi, ayo kita pergi saja dari sini. Ayah selalu benci aku.” Aku memeluknya dengan mata terpejam dan tangis dalam diam. Sungguh perih rasa hatiku. Malamnya aku mengaji. Saat pertama kali aku buka Al-Quran mataku langsung tertuju pada surat al Baqarah ayat 227 disebutkan, “Dan jika mereka berketetapan hati hendak menceraikan, maka sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” Aku melanjutkannya sampai ayat 232. Ternyata aku membaca ayat tentang hukum perceraian. Aku tertegun. Inikah jawaban istikharahku ? diawali dari permintaan anak sulungku, kemudian ayat Al-Quran yang langsung kubuka dan kubaca ? apakah aku harus mengakhiri rumah tanggaku ? kembali aku menulis inbox pada penulis itu. Kuceritakan semuanya. Dia menjawab :”diskusikan dengan tenang pada suami, apa yang ia inginkan. Redam emosi. Apapun keputusannya, ikhlaskan.”

Malam itu sengaja aku tidak tidur, menunggu suamiku pulang dari kumpul-kumpul bersama teman-temannya. Aku minta waktunya untuk berdiskusi. Alhamdulillah dia mau. Aku kembali bertanya padanya :”Apakah kamu serius akan menceraikan aku ?” “Seriuslah, isteri gampang dicari, anak gampang dibikin, tapi temen susah nyarinya !” jawab suamiku acuh tak acuh. Entah mengapa sudah tidak ada rasa sakit dalam hatiku mendengar jawaban itu. Akhirnya aku minta dia urus perceraian kami secara baik-baik, setelah itu aku dan anak-anak akan keluar dari rumah itu. Ternyata benar, keesokan harinya suamiku langsung mengurus perceraian kami, 3 hari kemudian aku pergi dari rumah mertua bersama 2 orang puteraku.

Aku tidak berani pulang ke rumah orang tuaku. Aku malu. Aku pergi kerumah temanku yang belum menikah. Aku bercerita sekilas bahwa aku sudah bercerai dari suamiku dan aku butuh tumpangan tempat tinggal sementara waktu. Aku juga meminta bantuannya untuk mencarikan kerja dikantorku dulu, siapa tahu aku masih bisa kembali kesana. Selama 1 bulan aku tinggal dirumah temanku dalam keadaan menganggur dan menjadi beban tanggungannya aku sungguh tidak enak hati. Dengan menahan malu, aku memohon keridhoannya sekali lagi untuk bersedia memberikan pinjaman uang untuk modal aku usaha berjualan nasi uduk didepan rumahnya. Alhamdulillah dia bersedia meminjamkannya untukku. Mulailah aku menjadi penjual nasi uduk, karena walau bagaimana aku juga memiliki hobby memasak, maka badanku cepat melar, hahaha. Alhamdulillah dari hasil berjualan nasi uduk, aku bisa ikut andil bayar listrik, air dan beli sayuran dirumah temanku. Walau temanku seringkali melarang dan mengatakan :”tabung saja dulu uang itu untuk beli susu anak-anakmu.” Tapi tetap saja aku tidak mau. Aku coba mencicil membayar uang temanku yang kupinjam, namun lagi-lagi temanku berkata :”Aku ikhlas San, pakai saja, nggak usah pikirin bayarannya.” Masya Allah… ternyata Allah sungguh-sungguh maha penerima taubat ! 8 bulan menjadi pedagang nasi uduk, aku sudah sangat menikmati profesi baruku. Tiba-tiba temanku membawa kabar sebuah loker di sebuah apotek besar. Tapi aku bukan apoteker ! “Coba saja dulu !” kata temanku menyemangatiku. Akhirnya kumasukkan lamaran lengkap dengan pengalaman kerjaku. 1 minggu setelah lamaran kumasukkan, aku mendapat panggilan walk interview. Alhamdulillah aku diterima. Subhanallah !! akhirnya aku mulai bisa menggaji pengasuh untuk menjaga anak-anakku. Ada salah seorang tetangga yang sudah janda, anak-anaknya merantau semua, bersedia menjaga anak-anakku selama aku bekerja. Aku mengontrak rumah didekat rumah temanku, karena aku tidak enak sudah terlalu lama menumpang dirumah temanku. 

Aku bekerja di apotek pagi sampai sore, malamnya aku bekerja sebagai dosen untuk mereka yang kuliah dikelas karyawan, untuk memberi pengetahuan seputar obat, bahan kimia dan efeknya. 1 tahun bekerja di apotek tersebut, kembali aku mendapat tawaran pekerjaan dikantorku yang dulu dengan tawaran salary yang lebih tinggi dari yang dulu pernah aku terima. Alhamdulillah.. terima kasih ya Allah… KAU limpahkan banyak rizki untuk anak-anakku. Benarlah bahwa setiap makhluk dimuka bumi ini sudah Allah jamin rizkinya. Aku mulai berbenah diri. Mulai rajin berpuasa Sunnah, agar nafsu makanku terkontrol dan tubuhku tidak makin melebar. Mulai merawat kulit dan yang selalu kuingat :”AKU HARUS ISTIQOMAH DALAM TAAT.” Rasa percaya diri yang dulu hilang entah kemana, kini kutemukan lagi. Entah mengapa, aku tidak pernah ingin tahu kabar mantan suamiku. 3 bulan pertama bekerja, aku sudah mampu membeli motor, walau second tak apalah, asal tak riba. Lumayan untuk menghemat pengeluaran ongkos dan bisa membawa 2 puteraku jalan-jalan saat libur. Aku meminta pada atasanku untuk bekerja hingga hari kamis, karena hari jumat setelah jumatan selalu ada pengajian rutin dikomplek tempat aku tinggal. Aku sekarang jadi rajin mendatangi majelis-majelis ilmu. Anak-anakku selalu kubawa serta. Dari majelis ilmu itu aku mendapat informasi tempat belajar mengaji anak-anak untuk cepat membaca Al-Quran. Pelajaran mengajinya sehabis sholat maghrib. Maka aku selalu datang lebih awal kekantor, agar aku bisa pulang tepat waktu pukul 16:00 WIB agar bisa sampai dirumah sebelum maghrib, bisa sholat maghrib dirumah dan setelah itu mengantarkan anak-anakku mengaji.

Suatu hari saat pulang mengantar anak-anak mengaji, motorku mogok. Aku tidak tahu kenapa. Alhasil aku harus mendorong motor itu, namun anak-anakku tetap berada di jok motor. Sambal aku berpikir, “bagaimana ini ? perjalanan masih jauh.” Tiba-tiba ada sebuah mobil sedan berhenti didekat kami.
“Kenapa mbak ?” terlihat seorang lelaki berumur sekitar 5 tahun diatasku bertanya sambil menurunkan kaca mobilnya.
“Mogok mas, nggak tahu kenapa.”
Lelaki itu menepikan mobilnya kekiri, lalu turun menghampiriku.
“Sudah dicek ?”
“Saya nggak ngerti harus ngecek apanya ?”
“Oh ya maaf…,” katanya tepok jidat
“Saya bantu panggilkan montir yaa… ada teman saya montir di dekat-dekat sini.” Tanpa menunggu jawabaanku dia langsung menelepon seseorang. Aku hanya melongo dan berpandang-pandangan dengan anak-anakku.
“Habis darimana ?” tanyanya setelah selesai menelepon
“Dari menjemput anak-anak mengaji.” Jawabku.
“Oohh… ayahnya kemana ? kok bukan ayahnya yang menjemput ?”
“Mereka tidak punya ayah.” Entah mengapa tiba-tiba keluar jawaban itu
“Ooh maaf.” Katanya sambil mengatupkan kedua tangannya. Aku hanya tersenyum. Tidak lama kemudian datang 2 orang berboncengan motor. Ternyata mereka adalah orang bengkel teman laki-laki itu.
“Mbaknya dan adik-adik sholeh ini ikut mobil saya aja. Motornya biar dibawa teman saya.” Katanya lagi setelah sebentar bercakap-cakap dengan temannya tentang kondisi motorku. Akupun menurut. Aku minta anak sulungku duduk didepan, aku dan si bungsu di belakang. Didalam mobil, laki-laki itu lebih banyak mengajak anak-anakku ngobrol seperti seorang ayah yang sedang mengobrol dengan anak-anaknya. Banyak bertanya tentang hafalan surat-surat Al-Quran. Sesekali membenahinya bila ada bacaan yang salah diucapkan oleh putera sulungku.
Sesampai di bengkel, temannya langsung memeriksa kondisi motorku. Menurut temannya, motor itu harus menginap di bengkelnya 1 hari. Besok baru bisa diambil.
“Yaudah nggak apa-apa, nanti mbak dan anak-anak saya antar pulang pakai mobil.”
“Ah jangan mas, nanti merepotkan. Biar saya pesan taxi saja.”
“Nggak apa-apa kok, lagian saya juga nggak kemana-mana.” Akhirnya akupun menurut, setelah sebelumnya meminta nomor telepon bengkel itu. Ia mengantar sampai depan rumahku. Aku mohon maaf padanya tidak bisa mempersilahkannya mampir, karena aku adalah seorang janda. Dia paham dan langsung pamit pulang.

Keesokan harinya kutelepon bengkel itu. Pihak bengkel memberi keterangan, siang hari motornya sudah bisa diambil. Saat jam makan siang kantor, aku bergegas pergi ke bengkel itu. Ternyata laki-laki yang kemarin mengantarku pulang ada disana. Ketika melihatku dia langsung berdiri, tersenyum sambil mengatupkan kedua tangannya.
“Motornya hamper selesai mbak.’ Katanya sambil menunjuk motorku yang sedang dilap oleh salah seorang pegawai temannya. Ternyata temannya yang kemarin itu adalah pemilik bengkel. Setelah selesai, saat aku bertanya berapa harga yang harus kubayar untuk jasa bengkelnya.
“Nggak usah mbak. Saya nggak pernah minta bayaran buat temennya mas Yusuf.” Oohh ternyata laki-laki itu bernama Yusuf.
“Jangan begitulah mas, kemarin saya sudah ditolongin aja sudah terima kasih sekali, masa’ ini malah mau digratisin.”
“Iya mbak nggak apa-apa.” Aduh saya jadi bingung salah tingkah.
“Sudah mbak, simpan saja lagi uangnya, teman saya ini lagi banjir rejeki kok, hahaha.” Katanya bercanda. Aku jadi tersenyum. Kemudian pegawai bengkel itu menyerahkan motor itu padaku.
“Waduh kalau begitu, terima kasih banyak ya mas..” ucapku sebelum meninggalkan mereka.
“Sama-sama mbak. Hati-hati dijalan mbak…!” aku tersenyum sambil mengucap salam, sebelum akhirnya aku benar-benar pergi dengan motorku.

Jumat barokah. Melalui group pengajian majelis ta’lim nanti akan ada seorang ustad yang akan mengisi dakwah pengajian di komplek perumahanku. Namanya Yusuf Maulana. Menurut informasi dari group beliau adalah salah satu staff pengajar di Al-Azhar. Tidak ada yang istimewa dari informasi itu. Seperti biasa 15 menit sebelum acara aku datang dipengajian itu. Wow sudah penuh sesak, mungkin karena ustadnya punya embel-embel Al-Azhar. Hem..ternyata dipasangi kamera dan ada layar TV nya agar jama’ah yang diluar bisa melihat si ustadz yang sedang berbicara. Aku berbisik dengan salah seorang jama’ah disebelahku : “Ustadnya mana ?” tuh.. sambil menunjuk kearah seseorang yang sedang berbincang dengan ketua DKM didekat mimbar imam. Aku sedikit mengernyitkan kening dan menyipitkan mata. “Diakah ? Yusuf Maulana ?” tiba-tiba kembali teringat kata-kata pemilik bengkel motor waktu itu : “Saya nggak pernah narik bayaran buat temennya mas Yusuf.” Subhanallah…!!! Masih tidak percaya. Aku yakinkan lagi pada wanita disebelahku tadi.
“Ustadnya itu yang pakai baju koko warna biru laut dan sarung warna biru dongker ? yang pakai kopiah warna biru juga ?” begitu detil deskripsiku
“Iya.” Jawab wanita disebelahku disertai anggukan.
Aku menatapnya tak berkedip. Jadi… dia ustadz. Dia yang malam itu menolongku dan mengantar aku serta anak-anakku pulang. Dia seorang ustad ? namanya Yusuf Maulana ? Staff pengajar di Al-Azhar ? Subhanallah… ada getaran aneh saat melihatnya. Aku buru-buru menepisnya. Tidak boleh ! aku tidak boleh mengulanginya lagi ! ada larangan mendekati pohon berduri. Aku tidak boleh punya niatan mendekatinya lagi. Lagipula aku sendiri belum benar-benar mengenal dia. Apakah dia sudah beristeri ? berapa isterinya ? berapa anaknya ? dimana rumahnya ? Ahhh sudahlah… dia seorang ustad dan aku ? Bila saat itu dia berbuat baik padaku, mungkin memang kebiasaannya selalu berbuat baik pada semua orang. Trus kenapa aku jadi GeeR setelah tahu yang menolongku malam itu adalah seorang ustadz staff pengajar Al-Azhar ? Ahhh… mengapa sulit sekali berkonsentrasi pada pengajian hari ini. Hingga pengajian selesai, aku tidak tahu tadi sang ustdz memberi kajian apa ? aku seperti tersihir oleh wajah jernihnya. Hingga tiba-tiba ada yang mencolek pipiku. Aku kaget !
“Hey.. bengong aja… itu mulut entar kemasukan lalat sampe melongo begitu !” Uh ! ternyata temanku. “Ih, ngagetin aja ! dari tadi dibelakang aku ? kenapa baru nyolek ?”
“Lucu aja liat kamu melongo menyimak ceramah ustad Maulana.” Aku berusaha menyembunyikan wajahku yang memerah. Hingga diakhir sesi ada sesi foto-foto dengan si ustad. Aku maju melangkahkan kaki dengan dag dig dug serr. Aku terus memandangi wajahnya. Tiba-tiba sang ustad menolah kearahku. Terlihat roman kaget, terkesima, namun kemudian tersenyum. Tidak ada kata apa-apa. Aku pulang ke rumah, tapi masih terus membawa wajahnya. Ya Allah ya Rabb, ampuni aku ! Kumohon hapuskan bayangan wajahnya ! dia bukan mahromku !

Keesokan harinya ba’da sholat isya, aku mendapat notifikasi whatsapp dari ketua majelis ta’lim.
“Assalamualaikum bu Shanti.”
“Wa’alaikumusalam ummi.”
“Ustad Maulana ingin bertemu dengan bu Santi besok di Masjid ba’da shalat ashar bersama saya dan abinya anak-anak. Apakah bu Santi bisa memenuhi permintaan beliau ?”
“Ustad Maulana ? Maksud ummi, ust. Yusuf Maulana yang kemarin memberi kajian di masjid kita ?”
“Iya betul bu Santi. Ada beberapa hal yang ingin beliau sampaikan pada bu Santi.”
“Hal apakah itu ummi ?”
“Beliau ingin ta’aruf dengan bu Santi.” Deg ! lama aku tercenung membaca kalimat whatsapp dari ummi Mirah. Ta’aruf ? secepat itukah ? sementara aku tidak tahu dan tidak pernah melakukan ta’aruf. Apakah artinya sama dengan pacaran ? mau bertanya pada umi Mirah malu.
“Bagaimana bu Santi ? Apakah bu Santi bisa memenuhi undangan beliau ?” aku tersadar dengan suara notifikasi whatsapp.
“Inshaa Allah ummi, saya akan datang besok ke masjid ba’da ashar.” Akhirnya kubalas whatsapp dari ummi Mirah
“Alhamdulillah. Baiklah akan saya sampaikan pada ust. Maulana. Terima kasih bu Santi. Jazzakumulahu Khairan”
“Sama-sama ummi.” Malam itu mataku sulit sekali terpejam. Bayangan wajah bening ustadz Yusuf Maulana selalu membayangiku. Masya Allah..!! ampuni aku ya Allah..!! ini tidak pantas aku lakukan !! aku beranjak dari tempat tidurku, mengambil air wudhu. Kulakukan sholat Sunnah, mohon petunjuk. “Ya Allah, aku adalah manusia yang Engkau beri batasan. Aku tidak tahu, undangan ta’aruf itu pertanda apa ? namun aku yakin Engkau tidak akan mengijinkan sesuatu terjadi tanpa sebuah rencana yang indah. Aku tidak ingin apa-apa lagi untuk diriku. Aku hanya ingin melihat kebahagiaan dikehidupan anak-anakku. Berilah mereka seorang ayah terbaik. Aku tidak lagi membutuhkan seorang suami, aku akan belajar menahan nafsu dengan berpuasa. Namun anak-anakku butuh bimbingan seorang ayah. Kasihani mereka ya Allah, jangan hukum mereka karena kesalahanku. Aamiin.”

Esok hari ba’da ashar, aku datang ke masjid dekat komplek perumahanku untuk memenuhi undangan ta’aruf ustad Maulana. Disana ba’da shalat ashar hanya ada kami berempat : ustadz Maulana, ustadz Abdullah (suami ummi Mirah), ummi Mirah dan aku. Entah mengapa aku tidak berani memandang wajah ustad Maulana. Sepertinya beliau juga tidak berani menatapku.
“Assalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh.” Ustad Abdullah membuka pembicaraan. Kami menjawab ucapan salamnya.
“Ibu Santi, ustad Maulana hendak ta’aruf dengan anti. Ada beberapa hal yang ingin beliau sampaikan pada bu Santi. Silahkan ustad untuk langsung disampaikan.”
“Terima kasih ustad Abdullah. Sebelumnya saya panggil ukhti Santi ya, agar terdengar lebih santun. Saya baru saja bercerai dari isteri saya 1 bulan yang lalu. Kami sudah 10 tahun menikah, namun belum dikaruniai momongan. Menurut diagnosa dokter, kualitas sperma saya kurang bagus. Bermacam-macam terapi sudah saya lakukan, namun tidak membuahkan hasil. Saya tidak tahu apa rencana Allah. Mungkin karena isteri saya pun berharap keturunan, ia menggugat cerai. Dengan berat hati saya kabulkan, karena saya tidak ingin berbuat dzolim padanya.” Ia berhenti sebentar menghela nafas, kemudian melanjutkan : “Malam itu saya hendak kerumah guru saya untuk meminta dipilihkan seorang santriwati yang bersedia menerima keadaan diri saya. Namun diperjalanan dalam hati saya berdo’a “andai Engkau berkenan memilihkan untukku seorang wanita yang bersedia mendampingiku ya Allah, pertemukan aku dengannya malam ini.” Kembali ia berhenti membenahi letak duduknya.
“Saya tidak menyangka tiba-tiba bertemu ukhti yang sedang mendorong motor. Namun saya tidak berani GeeR bahwa ukhti adalah jawaban do’a saya pada Allah. Malamnya selepas mengantar ukhti pulang, saya istikharah, bila Allah pertemukan kembali saya dengan orang yang sama paling tidak 2x saja, maka itu merupakan petunjuk. Allahu alam… ternyata Allah pertemukan kembali saya dengan ukhti sebanyak 2x, yang pertama saat ukhti mengambil motor, dan yang kedua saat pengajian kemarin. Sampai disinipun saya masih belum berani GeeR, namun saya memberanikan diri untuk bertanya tentang ukhti pada ustad Abdullah dan ummi Mirah. Saya memilih mereka untuk menjadi wasilah kita dalam proses ta’aruf ini. Saya ingin mengkhitbah ukhti. Apakah ukhti berkenan ?” ia sudah mengakhiri kalimatnya. Namun aku masih terdiam.
“Silahkan dijawab ibu Santi. Atau adakah yang ingin ibu tanyakan atau ibu sampaikan pada ustad Maulana sebelum menjawab niatan beliau ?” ummi Mirah membuyarkan kekakuanku
“Ya ummi. Ustad Maulana, terima kasih atas niat baik ustad untuk mengkhitbah saya. Setelah saya tahu latar belakang ustad, saya rasa ustad juga perlu tahu latar belakang saya. Saya adalah janda yang sudah dijatuhi talak 3 oleh suami saya sekitar 2 tahun yang lalu, karena menurut mantan suami, saya bukan tipikal isteri yang ia inginkan. Saya memiliki 2 orang putera sebagimana yang ustad lihat pada malam itu. Mantan suami tidak bersedia mengakui mereka sebagai anak-anaknya dan sama sekali tidak perduli akan masa depan mereka. Ketahuilah ustad, bahwa saya tidak sedang mencari seorang suami, namun saya butuh seseorang yang bersedia menjadi ayah bagi anak-anak saya. Artinya orang tersebut bersedia memberikan hatinya untuk menyayangi anak-anak saya seperti darah dagingnya sendiri. Setelah mengetahui latar belakang diri saya dan keinginan saya, apakah ustad masih berniat mengkhitbah saya ?”
“Inshaa Allah tidak berubah. Saya menerima.” Jawabnya mantap.
“Bolehkah saya meminta 1hal lagi pada ustad ?”
“Silahkan…”
“Beri saya waktu untuk istikharah.”
“Baik, sayapun akan melakukan hal yang sama. Berapa lama waktu yang ukhti butuhkan ?”
“Afwan ustadz, sampai saya memiliki ketetapan hati dari Allah. Inshaa Allah jawabannya akan langsung saya sampaikan pada ummi Mirah.”
“Alhamdulillah… baiklah inshaa Allah ana sabar menunggu jawaban ukhti.”
Subhanallah..entah mengapa setelah pertemuan itu ada rasa bahagia disudut hatiku. Aku merasa sedang disanjung. Seumur hidup, aku tidak pernah diberi ungkapan rasa oleh seorang laki-laki. Namun kini laki-laki itu bukan hanya mengungkapkan rasa, namun mengungkapkan niat akan meminangku. Salahkah bila aku merasa tersanjung ? namun aku tetap melakukan permintaanku. Istikharah.

Tiga hari berlalu, aku belum mendapatkan tanda-tanda dari Allah untuk menetapkan hati pada sebuah keputusan. Sore itu sepulang dari kantor, ba’da maghrib aku mengantar anak-anakku mengaji. Aku melihat sebuah mobil sedan yang sepertinya aku kenal, parkir dipelataran tempat anakku mengaji. Masya Allah ! itu mobil sedan ustadz Maulana ! apakah semua ini kebetulan ya Allah ? Tapi sedang apa beliau disana ? aku menunggu disebuah warung yang agak jauh dari tempat anakku mengaji, agar aku tidak bertemu dengan ustadz Maulana. Hingga waktu pulang mengaji tiba. Aku lihat mobil itu masih parkir disana. Kulihat para siswa mengaji berhamburan keluar kelas, dan yang keluar terakhir itu… ustadz Maulana ? Masya Allah ! sedang apa dia disana ? seluruh anak langsung menghambur menuju jemputan masing-masing. Aku masih diam ditempatku, menunggu hingga ustadz Maulana pergi. Namun dia tidak juga pergi, hingga tinggal anak-anakku yang tersisa. Aku tahu anak-anakku sedang menunggu kedatanganku. Akhirnya mau tidak mau aku harus menghampiri mereka.
“Itu bunda sudah datang.” Kata ustadz Maulana sambal menunjuk kearahku
“Ya ustadz, kami pulang dulu yaa… asslamualaikum…,” Jawab anak-anakku riang sambil mencium tangan beliau dan menghambur kearahku langsung menaiki motorku.
“Wa’alaikumusalam…hati-hati dijalan ya anak sholeh.” Ujarnya menjawab salam anak-anakku sambal melambaikan tangan. Aku hanya senyum sekilas sambil menganggukkan kepala kepadanya. Ia pun membalas anggukan kepalaku dengan santun.

Malam itu pangeran-pangeran kecilku bercerita pengalaman mengajinya dengan ustad baru.
“Ustadz itu baik sekali bunda. Ustadz punya banyak cerita untuk kami.” Si sulungku bicara.
“Oh iyaa ? kalian suka ?”
“Suka sekali bunda. Coba ustadz itu jadi ayah kita, pasti tiap hari kita dapat cerita-cerita bagus ya dek.” Kata si sulung lagi. Adiknya beringsut ke pangkuanku.
“Iyaa.. bunda aku mau punya ayah ustadz yang baik.” Aku terpaku mendengar celotehan anak-anakku. Inikah jawabanmu ya Allah ? ah, aku belum berani langsung menyimpulkan. Aku minta Allah berikan ketetapan itu lagi. Bila esok hari anakku masih berujar hal yang sama, maka aku akan terima khitbah sang ustad. Kataku dalam hati.

Keesokan harinya, dikantor ada rapat dewan direksi mendadak. Aku masuk dalam jajaran management. Maka aku harus ikut serta dalam rapat itu. Ini artinya, aku terpakasa harus pulang malam. Segera aku telepon pengasuh anakku dirumah, meminta dia untuk mengantar anak-anakku mengaji dihari ini.
“Bik, tolong antar anak-anak mengaji hari ini ya, saya ada rapat mendadak dikantor. Nanti saya pesankan taxi dari sini.” Terdengar diujung sana pengasuh anakku mengiyakan.
Aku sampai rumah hamper jam 9 malam. Kulihat ada mobil sedan parkir dihalaman rumahku. Oh kulihat juga ada ummi Mirah, ustadz Abdullah dan… ustadz Maulana. Kenapa mereka semua ada dirumahku ? kemana si bibik ? kumasuki halaman rumahku dengan mengucapkan salam. Ummi Mirah menghampiriku dengan senyumannya.
“Maaf bu Santi, tadi si bibik katanya kedatangan tamu dirumahnya, jadi beliau langsung pulang. Tadi anak-anak pulang mengaji diantar oleh ustad Maulana, singgah kerumah saya minta tolong ditemani kerumah ukhti agar tidak terjadi fitnah oleh tetangga.”
“Ooohh begitu ya ummi. Terima kasih banyak ya ummi, ustadz… mohon maaf anak-anak saya sudah merepotkan.”
“Tidak apa-apa bu Santi. Sesama Muslim harus saling tolong menolong dalam kebaikan.” Sambung ustad Abdullah.
“Nah anak-anak, bunda kalian sudah pulang tuh. Ustad pulang dulu yaa.. jangan lupa hafalan suratnya yaa” ustadz Maulana mulai berpamitan pada anak-anakku.
“Baik ustad..!!” jawab mereka berdua kompak. Satu persatu mereka mencium tangan ummi Mirah, ustadz Abdullah dan ustadz Maulana. Kulihat ustadz Maulana mencium kening pangeran-pangeran kecilku satu persatu. Subhanallah !! ada desiran aneh didadaku menyaksikan itu. Sepulang mereka semua, anak-anakku langsung bercerita tentang kisah nabi Yusuf yang katanya baru saja diceritakan oleh ustadz Maulana. Aku mendengarkannya sambal tersenyum melihat mereka bercerita begitu runut. Setelah itu mereka aku minta untuk menggosok gigi, mencuci kaki dan pergi ke kamar tidur. Aku minta mereka membacakan do’a sebelum tidur. Tiba-tiba diakhir do’anya si bungsu menambahkan sebuah do’a : “Ya Allah… aku mau punya ayah seperti ustadz Yusuf maulana !” Deg ! Serrr ! aku terkesima tercekat kerongkonganku. Aku sampai tak mendengar anak-anakku mengucapkan “Selamat istirahat bunda.”

Esok paginya, ba’da shalat subuh. Kukirimkan pesan whatsapp pada ummi Mirah, bahwa aku menerima niatan khitbah dari ustadz Maulana. Kata-kata penuh syukur pun dilontarkan oleh ummi Mirah melalui balasan whatsappnya. Siang harinya ummi Mirah bertanya kapan waktu yang tepat agar ustadz Maulana bisa bertemu dengan keluargaku. Walau aku berstatus janda, namun ustadz maulana merasa perlu mengenal kedua orang tuaku. Akhirnya kami sepakati hari sabtu siang ba’da dhuhur ustadz Maulana datang bersilaturahmi kerumah orang tuaku. Beliau datang bersama kakak lelakinya, karena ternyata beliau sudah yatim piatu sejak usia 10 tahun dan diasuh oleh pamannya yang baru saja meninggal 6 bulan yang lalu. Beliau adalah anak ke-2 dari 2 bersaudara yang semuanya adalah laki-laki. Kedua orang tuaku menerima beliau dengan sangat hormat. Kemudian disepakati kami akan menikah di masjid dekat komplek perumahanku. Dan setelah menikah, ustadz Maulana memintaku untuk pindah kerumah pribadi beliau. Aku tidak menyangka dengan semua ini. Ternyata Baiti Jannati itu nyata.

Saat aku mengirim cerita ini, aku sedang hamil 6 bulan. Suamiku yang dulu didiagnosa lemah spermanya, namun saat Allah berkata “KUN” tidak ada yang tidak mungkin. Aku sudah resign dari kantorku, karena harus mengikuti suamiku yang saat ini bekerja di kedutaan besar Indonesia untuk Australi. Salamku dari Melbourne untuk kalian para Muslimah Indonesia.

(Narasumber meminta untuk dijaga privacinya. Cerita ini aku dedikasikan untukmu ukhti yang kini berada diseberang benua, salam dari kami di Indonesia, semoga engkau tetap istiqomah dalam ketaatan dan selalu berbahagia dengan keluarga sakinahmu)

DILARANG COPAS UNTUK TUJUAN KOMERSIL ! TANPA SEPENGETAHUAN PENULIS !

BILA INGIN SHARE DI BLOG PRIBADI ATAU SOSMED MOHON SERTAKAN LINK BLOG INI SEBAGAI SUMBER ASLI

4 komentar:

  1. Barakallah...saya sampai menangis membaca cerita yang penuh inspirasi ini. Jazzakumullah khoer mbak Irene, ijin share untuk kebaikan dan penyemangat hijrah para ukthti.

    BalasHapus
  2. sedih bacanya....tp happy ending...masyaAlloh.

    BalasHapus
  3. Subhanallah....
    Cerita yg menguras air mata ukhti...
    Ijin share ya ukhti... Smg bisa bermanfaat... Aamiin..

    BalasHapus
  4. Allahu Akbar....allahu Akbar....
    "KUN"nya Allah mmg maha dasyat. Hanya kepadaNya kita berserah diri.

    BalasHapus

HANYA BUTUH TAAT DAN ISTIQOMAH

(Nama & tempat dirahasiakan, agar tidak menjadi riya) Dulu saat saya jadi wanita karier, seolah tidak masalah sedikit-sedikit nabra...

Postingan Populer