Minggu, 08 April 2018

ABAH SI MARBOT MUSHOLA


Cerita dibawah ini diceritakan oleh seorang ustad yang saya tidak tahu namanya, saat kutbah Jumat di masjid agung Demak. Saat itu saya beserta keluarga wisata rohani, ziarah ke Masjid Agung Demak. Bagi anda yang juga pernah ziarah kesana, pasti tahu bagaimana lay out, letak tempat ikhwan shalat dan tempat akhwat sholat. Saat itu kebetulan saya ikut suami sholat jumat dan berada di tempat sholat akhwat. Maka saya tidak bisa melihat seperti apa rupa ustadz yang bercerita ini. Rupanya saja saya tidak tahu, maka jangan ada yang menanyakan no.telp ataupun sosmednya ustad ini.
Tokoh aku dibawah ini adalah si ustad tersebut

Mampir disebuah mushola yang terletak disebuah desa entah apa nama desanya. Aku ingat mushola itu diberi nama mushola Al-Jannah. Sepertinya masih masuk kabupaten Pandeglang.
Ini adalah pertama kalinya kami menapaki perjalanan di tanah sunda. Kami berlima membawa amanah dari guru kami untuk salah seorang kiyai di tanah Banten, sampai akhirnya nyasar ke mushola ini, bertepatan dengan berkumandangnya adzan dhuhur. Kami shalat berjama’ah disana. Mushala itu dikelilingi dengan kolam ikan yang airnya sangat jernih. Ada beberapa pohon manga, rambutan dan jambu serta beberapa sayuran termasuk tomat dan cabai. Rupanya yang menanam pohon buah dan sayur, mengurus ikan dan merawat kebersihan mushola adalah abah beserta isteri dan 5 orang  anaknya.
Salah seorang temanku sangat suka ikan. Dia begitu excited melihat ikan-ikan yang begitu gemuk berlarian dengan lincah dikolam yang jernih. Seorang kakek mendekati dengan ramah.
“Suka ikan ?” tanyanya ramah.
“Eh iya, ikannya gemuk-gemuk ya kek ?” jawab temanku
“Iya… ikan disini gemuk-gemuk, rasanyapun gurih dan manis.” Si kakek memberi penjelasan
“Ini dijual kek ? atau hanya dipelihara?” tanyaku mendekat
“Dipelihara dan dijual.” Jawab kakek masih dengan ramah
“Berapa sekilonya kek ?” Tanyaku lagi
“Abah jual 10 ribu.” Jawabnya. “Tapi hari ini abah sudah dapat uang 100 ribu, jadi kalo masih ada yang datang mau ambil ikan, sok ambil aja nggak usah bayar !” lanjutnya lagi.
Aku ternganga ! 10 ribu/kg ? dan kalau abah sudah dapat uang 100 ribu dalam sehari, kalau masih ada yang mau ambil ikan, beliau gratiskan ? aku masih bingung. Penasaran kutanya lagi.
“Maksud abah 100 ribu itu keuntungan bersih atau masih keuntungan dan modalnya ?”
“Aduuuhh abah teh nggak ngarti itung-itungan begitu sep. Abah teh teu sakolah. Pokokna mah, asal abah udah dapet duit 100 ribu, sok ambil wae kalo ada yang masih butuh ikan.”
Jadiii… 100 ribu itu bener-bener 100 ribu yang dia sendiri nggak ngitung itu keuntungan bersih atau masuk modal. Ahh saya kok malah jadi bingung. Tapi makin penasaran.
“Kenapa begitu bah ? emang abah nggak rugi kalau digratisin ?”
“Mana ada ruginya sep. Kolam ikan ini dulu abah dapet dari alm. Pak haji Soib. Beliau yang meminta abah jadi marbot mushola ini. Dulu teh abah nggak punya rumah. Ditolong pak haji suruh jadi marbot mushola sambil merawat ikan. Sudah 20 tahun abah jadi marbot disini, belum pernah beli bibit ikan. Ini ikan tiap hari diambil induknya, besoknya anaknya besar. Sepertinya ikan ini setiap hari bertelur.” Jawabnya memberi penjelasan sambal tertawa terkekeh-kekeh. Akupun ikut tersenyum melihat abah tertawa begitu sumringah.

Kemudian abah mengajak saya dan teman-teman untuk ngobrol dirumahnya yang terletak dibelakang mushola. Emak (begitu isteri abah biasa dipanggil) menyuguhkan kami air kelapa muda. “Panas-panas gini enaknya minum dugan. Ayuk atuh diminum. Dibelakang masih banyak” cemilan singkong rebus, kacang rebus, jagung rebus dikeluarkan.
“Mangga atuh dicoba makanan orang kampung.” Kata abah mempersilahkan.
“Abah punten…saya masih penasaran, kenapa abah harus membatasi 100 ribu dalam 1 hari ? Bukankah itu namanya abah membatasi rizki dari Allah ?” kulihat emak tersenyum sambil melirik abah. Abahpun tersenyum mendengar pertanyaanku, sambil membetulkan letak posisi duduknya.
“Tidak ada rizki Allah yang abah batasi. Allah mutlak punya kewenangan seberapa banyak mengucurkan rizki. Abah mah nggak punya hak apa-apa. Soal kenapa harus 100 ribu perhari, itu batasan abah untuk dunia, bukan untuk rizki Allah. Abah takut jadi manusia serakah yang tidak tahu diri. Allah sudah terlalu banyak memberikan rizki untuk abah. Salah satunya kolam ikan itu, sudah 20 tahun, abah nggak pernah beli bibit ikan. Ikan itu beranak pinak setiap hari. Itukan rizki Allah jang kasep, abah tidak mampu membatasi. Tapi abah nggak boleh telen sendiri, abah harus berbagi. Coba Tanya emak, dalam sebulan berapa kali emak belanja ? nggak pernah lebih dari 5 kali. Itupun jarang-jarang, paling cuma beli bumbu bumbu dapur, karena sayuran kami setiap hari bertumbuh. Uang 100 ribu yang abah dapet tiap hari itupun banyak nggak kepakenya. Alhamdulillah udah pernah abah pakai untuk naik haji tahun kemarin sama emak. Uang itu abah pakai untuk perawatan mushola dan juga kalau ada orang yang mendadak sakit butuh biaya. Begitu aja sep hidup abah mah.”
Aku dan teman-temanku melongo berpandang-pandangan. Takjub !! sementara diluar sana bahkan saya sendiri masih sering rakus akan dunia. Kalau bisa apapun dibisnisin. Sumpah malu banget sama abah dan emak.

Ternyata abah dan emak ini tidak pernah sekolah formal. Tidak bisa baca tulis. Bisanya baca tulisan arab. “Yah soalnya dulu abah dan emak teh cuma sekolah agama, mau sekolah kayak orang-orang itu dulu enteu boga duit, sekarang mau sekolah udah ketuaan” kata emak terkekeh kekeh. Aku dan teman-teman tersenyum.
Dari ceritanya aku tahu, ternyata suami isteri marbot mushala ini sebenarnya tidak memiliki anak kandung. Lima orang anak yang mereka rawat, mereka katakana anak-anak dari surga.
“Itu yang paling besar, abah dapat saat seminggu setelah emak dinyatakan keguguran, malam itu abah tahajud memohon ampunan pada Allah, mungkin saja ada kekhilafan abah yang abah tidak sadar, sehingga Allah tidak berkenan janin berkembang dalam Rahim emak. Eh ternyata abah dengar ada suara bayi nangis. Abah keluar, ada bayi ditaruh dikeranjang, nggak tahu siapa yang naruhnya, subhanallah…bayinya gemuk meni kasep.”
“Trus itu yang kedua dan ketiga. Mereka kembar. Cantik kan yah ? mereka itu yatim piatu. Ayahnya TNI, meninggal kena peluru nyasar katanya waktu perang teluk. Mereka masih 1 bulan dikandungan. Saat melahirkan ibunya meninggal karena pendarahan banyak.”
“Itu yang keempat, abah temuin dipintu mushala, saat abah mau puji-pujian sebelum adzan subuh. Itu juga nggak tahu siapa yang naruh.”
“Trus itu yang kelima, emak yang nemuin dipojok pasar, ada didalam koper. Padahal banyak orang lewat, tapi nggak ada yang memperhatikan koper itu. Kopernya bergerak-gerak kayak ada tendangan dari dalam, ternyata ada bayi… subhanallah…!!”
“Tah eta sep, abah dan emak diberi rizki anak-anakpun dari surga.” Kembali abah tertawa renyah.
Ketika aku tanya, apakah tidak ada pamong di desa itu yang menyarankan abah dan emak untuk melaporkan anak-anak itu ke department sosial ? “Ada,” jawab abah, “ Tapi abah dan emak merasa anak-anak itu memang sengaja Allah pertemukan pada abah dan emak, mereka amanah Allah. Punten nyak sep, bukan abah tidak percaya pada apa tadi yang jang kasep bilang ?” “Departemen social bah,” jawabku “iyah itu departemen sosial, apakah anak-anak itu nanti akan diajari mengaji, diberi pemahaman agama yang benar ? karena bagi abah, setiap orang tua yang diamahi anak-anak, tanggung jawabnya bukan hanya memberi makan, memberi pakaian dan memberi rumah untuk tinggal, tapi yang lebih penting, orang tua yang diamanahi harus bisa memperkenalkan anak-anaknya pada Tuhan yang benar, karena seperti apa yang Allah perintahkan dalam firman-NYA : “Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56). Maka orang tua harus memperkenalkan anak-anak mereka kepada Tuhan yang benar, mengajari anak-anak bukan hanya mengenal Tuhan, tapi juga patuh pada syari’at Tuhan. Nah, apakah departemen yang tadi jang kasep sebutkan, paham tanggung jawab ini ? karena abah harus lebih takut pada aturan Allah dibanding aturan manusia jang kasep.”
Yayaya aku paham apa yang ada didalam pikiran abah. Dan ternyata abah benar-benar menjalankan amanah itu dengan penuh tanggung jawab. Terbukti anak pertama dan anak keduanya sudah menjadi hafidz dan hafidzah di usia mereka sebelum mencapai 17 tahun. Lantas mereka berdua membimbing adik-adiknya untuk mengikuti jejak mereka.
“Itu anak saya yang ke-tiga dan ke-empat hapalannya kurang 5 juz lagi. Saya bilang sama yang pertama, jadiin dulu yang ke-tiga sebelum dia berangkat ke Mesir.”
“Ke Mesir ?” aku mengulagi perkataan abah.
“Iya Sep, kemarin ada lowongan untuk menjadi guru mengaji di Mesir hanya butuh 3 orang dari Indonesia, anak saya ikut testnya, Alhamdulillah lulus, dan satu-satunya anak marbot yang berangkat ke Mesir, yang lain mah abahnya pegawai kantoran semua cenah.” Abah menjelaskan sambal tertawa.
Aku dan teman-teman tak mampu berkata apa-apa. Banyak ibroh yang kuambil dari perbincangan sederhanaku bersama manusia sederhana yang istemewa, abah si marbot mushola. Tanpa sadar kami sudah lama mengobrol hingga waktu ashar akan tiba. Kami sholat ashar di mushola itu lagi. Seusai sholat ashar kami pamit pulang. Abah membawakan kami ikan sungai segar yang telah digoreng dan dibakar oleh emak, lengkap dengan sambal dan nasinya.
“Untuk bekal dijalan. Perjalanan kalian sepertinya masih jauh.” Ucap abah sebelum kami pergi meninggalkan pelataran mushola Al-Jannah, surga dunia yang Allah sediakan bagi hamba-hambaNYA yang bertaqwa. Subhanallah.
Cerita diatas ditulis oleh penulis dari cerita seorang ustad pada kutbah sholat jum’at di Masjid Agung Demak setahun yang lalu. Jangan bertanya kisah itu nyata atau fiksi, karena si penulis sendiripun tidak tahu kisah itu nyata atau fiksi, walau terkesan kebetulan nama mushola itu “Al-Jannah” yang berarti surga. Namun penulis memilih mempercayainya, bukan karena yang menceritakan adalah seorang ustad, namun kisah itu sesuai dengan janji Allah untuk hamba-NYA yang bertaqwa yang dikatakan dalam Al-Quran :
1. Allah SWT bebaskan dari kesusahan dan memperolehi rezeki.
"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka." (At-Talaq: 2-3)
2. Allah SWT mempermudahkan segala urusan.
 "Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (At-Talaq: 4)
3. Allah SWT mempermudahkan memperolehi ilmu.
"Dan bertaqwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al Baqarah: 282)
4. Allah SWT mengasihinya.
"Sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuatnya) dan bertaqwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa." (Ali Imran: 76)
5. Allah SWT membela dan membantunya.
 "Allah adalah pelindung orang-orang bertaqwa." (Al-Jaatsiyah: 19)
6. Allah SWT buka pintu keberkatan.
 "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit dan bumi." (Al-A'raaf: 96)
7. Allah SWT terima amalan.
"Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa." (Al-Maidah: 27)
8.  Dipelihara Allah SWT dari tipu daya musuh lahir dan batin.
 "Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu-daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan." (Ali Imran: 120)
 "Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya." (Al A'raaf: 201)
9.  Allah SWT beri khabar gembira (mubasyirah).
 "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (Yunus: 62-64)
10. Allah SWT pelihara zuriat.
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (An Nisa': 9)
11.  Allah SWT selamatkan dari bencana.
"Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telahpun Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu. Maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan, Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertaqwa." (Fusshilat: 17-18)
12. Allah SWT pelihara dari kebatilan.
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai kurnia yang besar." (Al-Anfaal: 29)

SILAHKAN COPAS ATAU SHARE DENGAN MENYERTAKAN LINK BLOG INI SEBAGAI SUMBER

DILARANG COPAS IDE CERITA UNTUK TUJUAN KOMERSIL

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HANYA BUTUH TAAT DAN ISTIQOMAH

(Nama & tempat dirahasiakan, agar tidak menjadi riya) Dulu saat saya jadi wanita karier, seolah tidak masalah sedikit-sedikit nabra...

Postingan Populer