Minggu, 11 Maret 2018

KETIKA SYAHADAT DIUJUNG TANDUK PART 2

Lebih dari 2 bulan aku menunggu balasan email dari Sharen. Apa kabarmu Sharenku ? Masihkah kau istiqomah di dalam Islam.
Entah mengapa aku gelisah. Ada rasa khawatir. Kucari sosmednya. Tidak ketemu. Duh mengapa Sharen tidak meninggalkan wa di dalam emailnya ?
Akhirnya yang kulakukan hanya menunggu dan berdo'a untuknya.
Saat aku merasa tak kuasa lagi menunggu, aku butuh dukungan saudara saudariku se-aqidah yg lain. Mohon maaf Sharen tanpa bertanya terlebih dahulu, aku share permasalahanmu. Aku berharap banyak do'a terucap untuk mengetuk pintu langit bagimu.
Tepat saat aku akan mengakhiri statusku, notification email berbunyi. Subhanallah....!!!! Sharen....!!!!

Dear Irene

Assalamualaikum wr wb...
Irene, terima kasih atas balasan emailmu. Apa kabarmu hari ini ? Kamu pasti sedang memikirkan aku kan ?
Berkat do'amu kini aku lebih bahagia. Alhamdulillah.

Ketahuilah Irene, saat aku menulis email padamu, aku sudah mengajukan gugatan cerai untuk suamiku. 3 hari kemudian kubaca emailmu. Isi emailmu hampir sama dengan tanggapan seorang ustadzah yg juga mualaf.

Saat itu, sejujurnya aku masih dalam kondisi marah pada Allah. Aku merasa Allah banyak meminta dari hidupku. Aku mulai berhitung setiap sedekah, amal ibadah yg telah kulakukan untuk keluargaku khususnya suamiku.

Ibu mertuaku yg sangat menyayangiku itu setiap malam menangis membujukku untuk mencabut gugatan ceraiku.

Aku gamang, aku bingung. Hingga akhirnya di 1/3 malam dimana seharusnya manusia bermunajat kepada Rabbnya, namun aku justru menumpahkan kekesalanku pada Tuhanku.

"Apalagi yang kau inginkan dariku ya Allah....!!!!!"
"Mengapa bencana ini KAU hadirkan untukku ? Bila KAU adalah Zat yang maha penyayang, seharusnya KAU adalah Zat yg maha perasa. Tidakkah kau bisa merasakan apa yang kurasakan ? Hingga Kau turunkan syari'at poligami untuk menghukumku ?"
Naudzubillah.... do'akan aku, Allah mengampuni dosaku dimalam itu 😢
Aku tertidur. Sedikit lega rasa hatiku. Esok malamnya kuulangi lagi tengadahkan tanganku di 1/3 malam memohon ampunan karena entah mengapa tiba2 datang rasa bersalah. Kemudian aku mencoba saranmu. 1 minggu aku terlibat diskusi dengan Allah.

Hingga suatu hari dengan lantangnya ibu mertuaku mengatakan 1 hal pada suamiku : "Pras, bila kamu tetap ingin menikahi gadis itu.... pergi kamu dari rumah ini !!! Biarkan mama bersama Sharen dan anak2mu dirumah ini !!! Mama malu memiliki anak yang tidak tahu diri seperti kamu !!!"

Aku keluar dari kamarku. Ibu mertuaku langsung memelukku. "Kamu jangan pergi Sharen, biarkan Pras yang pergi. Dia tidak pantas menjadi suamimu. Maafkan mama yg telah gagal mendidik Pras menjadi laki2 yang tahu diri."
Aku hanya menangis dalam diam. Suamiku pun hanya menunduk diam.




Malam itu kami bertiga (aku, ibu mertuaku & suamiku) berdiskusi.
"Baiklah ma, aku tidak akan menikahi Azizah, bila itu hanya akan membuat mama & Sharen tersakiti. Aku sangat menyayangi kalian. Maafkan aku...." suamiku memeluk kami berdua.
Aku lega, kupikir inilah jawaban dari Allah atas diskusi panjang diatas sajadahku di tiap 1/3 malam.

Namun ternyata aku salah.

Esok malamnya ba'da isya, Azizah datang kerumahku bersama kedua orang tuanya.

Pada malam itu aku tahu, ternyata bukan suamiku yg ingin menikahi Azizah, tetapi ayah Azizah yang merupakan teman pengajian suamiku yg meminta suamiku untuk meminang anaknya. Malam itu jelas kutatap wajah Azizah. Azizah, semula kupikir dia adalah gadis belia yg cantik dg segala pesona yg menggairahkan mata lelaki termasuk suamiku, ternyata sangat jauh dari itu. Dia gadis lugu yg selalu menundukkan kepala. Ada keteduhan di wajahnya.

Di malam itu aku tahu, Azizah memiliki miom yang akan segera dioperasi dan dokter mengatakan 90% Azizah tidak akan mampu memberikan keturunan bagi suaminya. Sudah 3 orang pemuda lajang membatalkan khitbahnya setelah mengetahui kondisi Azizah. Entah mengapa ayah Azizah memiliki TRUST pada suamiku.

Kudekati suamiku dan kutanya : "kenapa mas ga pernah cerita ini sebelumnya padaku ?"
Suamiku menjawab : "karena aku tidak mau kamu menganggapnya sebagai modus"
Kudekati ibu mertuaku :"Mama, kumohon terimalah Azizah menjadi bagian dari keluarga kita. Aku ikhlas menerimanya sebagai adik maduku."
Azizah & ibunya nyaris tersungkur di kakiku, namun aku cegah. Kupeluk Azizah dan kukatakan : "Kau akan menjadi saudaraku."
Suamiku terperangah menyaksikan semua itu. "Kamu yakin telah ikhlas dengan keputusanmu sayang ?"
"Iya mas. Nikahi dia. Dia akan menjadi bagian dari keluarga kita." Jawabku mantap.
Suamiku terlihat masih ragu. Aku tersenyum :"aku akan mencabut gugatan ceraiku besok"
Alhamdulillah.... seisi rumah mengucapkan hamdalah.

Dan sudah 1 bulan ini suamiku menikah dengan Azizah. Kami tinggal 1 rumah. Kurasa tak masalah, rumah kami sangat besar.

Tahukah kamu Irene, bisnis suamiku makin pesat. Kini suamiku lebih sering melibatkan aku dalam bisnisnya. Aku yang tadinya hanya dirumah mengurus rumah, kini lebih sering bersama suami untuk menangani bisnis. Anak-anakku di rumah bersama ummi Azizah (begitulah mereka memanggilnya).

Disaat tetangga kami harus membayar 5jt - 6jt untuk seorang baby sitter, anak2ku justru dibimbing oleh seorang hafidzah.
Tahukah Irene, anakku yg pertama sudah hafal 1 juz dalam 1 bulan selama ada Azizah. Setiap malam mereka mengaji dibimbing oleh umminya. Bayangkan bila suatu saat Arjunaku menjadi tahfidz melalui pendidikan dari dalam rumah kami sendiri.

"Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yg kau dustakan."

Irene, terima kasih telah menjadi sahabatku di dunia dan di akherat. Andai saat itu kuturuti amarahku meneruskan gugatan cerai pada suamiku, aku pasti tidak akan pernah merasakan kebahagiaan ini.

Ini pelajaran poligami yg langsung Allah ajarkan padaku. Selama ini aku berpikir poligami adalah syari'at yg tidak paham pada perasaan wanita. Karena aku tidak pernah bisa menerima saat isteri sedang sakit suami justru berpoligami, seakan nafsu lelaki lebih pantas untuk dilindungi. Namun ternyata kini Allah justru memilihku menjadi orang yang menjalankan poligami sebagai solusi. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib gadis seperti Azizah bila tidak ada syari'at poligami. Haruskah menjalani kesendirian dalam hidupnya hanya karena vonis dokter tidak mampu memberikan keturunan ?

Semula kupikir ini hukuman Allah bagiku. Namun ternyata Allah sedang menyanjungku.
Irene, sudah dulu yaaa suatu saat kau harus mengenal Azizahku 😉
Kumohon do'akan kami agar selalu menjadi keluarga yg sakinah mawadah warohmah. Kumohon juga, do'akan Azizahku agar Allah berkenan menyembuhkan miomnya sehingga tidak perlu menjalani operasi dan ia bisa memberikan keturunan untuk suamiku. Aamiin.
Bulan depan kami bertiga akan umroh untuk meminta kesembuhan bagi Azizah. Do'akan kami yaaa....

Wassalamualaikum wr wb
Theresia Sharen Magdalena


Poligami tetaplah syari'at yang benar. Bila banyak kasus poligami yg justru menghancurkan rumah tangga, ini karena pelakunya yang gagal paham pada syari'at.
Wahai suami. Kalian memang memiliki hak untuk berpoligami. Namun hak ini tidak lantas digunakan suka2 kalian dan sesuai hawa nafsu kalian. Berdiskusilah pada Allah, apa maksud Allah mempertemukanmu dengan wanita lain. Bukan langsung menggunakan hak veto mu dengan ke-sok tahuanmu dan lantang menggunakan dalil2 dg berkata : "Ini syari'at yang dihalalkan Allah dan kau isteri harus menerimanya. Bila tidak bersedia menerima artinya kalian telah mengingkari salah satu syari'at Allah !"
Wahai isteri, wanita dengan segala rasa, janganlah cepat meradang saat mendengar kata poligami. Jangan berdebat sesuai nafsumu. Cintailah Allah lebih dari kau mencintai suamimu. Ingatlah syari'at Allah tidak pernah salah. Poligami bukanlah kenikmatan tambahan bagi laki2, namun tambahan tanggung jawab bagi laki2.
Wahai para suami dan para isteri, libatkan selalu Allah dalam setiap galaumu. Sehingga kita terhindar dari sikap gagal paham yang sok tahu ( #SelfReminder )
Untukmu Theresia Sharen Magdalena. Kau bukan hanya rupawan, namun hatimu juga sangat menawan. Kau laksana Ibrahim yang menerima perintah Allah untuk menyembelih anak sulungnya dengan ikhlas.
Sami'na wa ato'na.
May you're one of the best whoman in heaven.
Mohon do'a untuk Sharen sekeluarga dan mohon do'a untuk kesembuhan Azizah.
Wassalam



Behind the scene kisah Sharen.

● Sebenarnya suami Sharen sudah menolak permintaan ayah Azizah dan sudah menceritakan 10 th perjuangan isterinya.

● Seperti halnya Allah yg mengijinkan penyakit menjijikkan diderita oleh nabi Ayub, maka Allah juga ijinkan penyakit jiwa hadir dalam diri Pras (suami Sharen)

● Ketahuilah saat 1 minggu pertama pernikahan Pras dg Azizah, Pras tidak mau meniduri Azizah. Ada rasa tidak tega dg Sharen.

● Justru Sharen yg memberi pengertian : "Janganlah kita berbuat dzolim pada Azizah. Tidak ada wanita yg ingin tertolak seperti Azizah. Siapalah kita sehingga merasa pantas berbuat demikian pada Azizah hanya karena ia dinyatakan akan mandul oleh penyakitnya."

● Sharen teringat saat dulu kami (saya & Sharen) pernah ikut baksos alm. Romo Mangun Wijaya (seorang Pastor Katolik) ia ingat sepenggal kalimat Romo Mangun.
"Mengapa kita tidak belikan pakaian baru untuk anak2 yatim ? Memangnya siapa kita, sehingga merasa pantas memberikan pakaian bekas bagi mereka ? Apakah hanya karena mereka anak2 yatim sehingga mereka kita anggap pantas untuk memakai pakaian bekas ? Bila kita saja sudah tidak mau memakainya, mengapa harus mereka yg memakainya ?

● Sama halnya saat kita memberi makanan pada tetangga, bukan karena sisa kebanyakan daripada kebuang maka kita berikan pada mereka. Namun karena makanan itu enak maka kita berbagi. Bila kita saja tidak mau makan mengapa harus tetangga kita yg makan ?

● Kembali lagi pada keluarga Sharen. Pras ternyata bukanlah laki2 tega. Malam itu saat keluarga Azizah berkunjung ke rumah mereka (Sharen & Pras) dia mengatakan : "Sejujurnya dia tidak pernah berniat poligami,Sharen sudah lebih dari cukup bagi hidupnya. Dia mohon maaf bila nanti dia dirasa tidak adil diluar kesanggupannya, karena bukan maksud Pras untuk mendzolimi Azizah."

● Azizah pun wanita hebat dan bermartabat. Dia paham se-paham2nya dengan kondisi ini.

● "Mengapa Allah meminta Ibrahim untuk menyembelih Ismail ? Mengapa Allah tidak meminta Ibrahim mengajari anaknya ilmu bela diri atau kesaktian ? Bukankah itu lebih baik dalam pandangan mata manusia ? Adakah sunah untuk menyembelih anak ?"

● Sudut pandang manusia masih terlalu sempit bila dibandingkan dg sudut pandang Allah.

● Bila kisah Sharen selalu kita hubungkan dg logika dan rasa, rasanya kita tidak akan bisa menemukan ibrohnya 😊

● Perintah Allah hanya bisa didengar melalui hati yang bersih bukan melalui logika yang congkak 😊
Mohon do'a bagi keluarga poligami ini agar tetap selalu istiqomah. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HANYA BUTUH TAAT DAN ISTIQOMAH

(Nama & tempat dirahasiakan, agar tidak menjadi riya) Dulu saat saya jadi wanita karier, seolah tidak masalah sedikit-sedikit nabra...

Postingan Populer