Sabtu, 10 Maret 2018

HANYA BUTUH TAAT DAN ISTIQOMAH

(Nama & tempat dirahasiakan, agar tidak menjadi riya)
Dulu saat saya jadi wanita karier, seolah tidak masalah sedikit-sedikit nabrak tauhid. Tapi tidak sadar sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.
● Dulu bagi saya tidak masalah anak diasuh oleh pembantu, karena menurut saya jaman now beda dengan jaman old. Jaman now kebutuhan banyak, dan harganya melambung semua, maka bila saya seorang ibu sekaligus seorang istri harus membantu suami mencari nafkah.
● Pikiran itu secara tidak sadar me-mindset bahwa suami tidak bisa diandalkan untuk melaksanakan kewajibannya menafkahi, sehingga saya merasa sah-sah saja bila saya keluar rumah untuk berkarier dari pagi hingga petang. Pulang ke rumah sudah capek, tidak mungkin melakukan tanggung jawab saya sebagai seorang ibu.



● Masya Allah hal itu lama-lama membuat saya menjadi "takut miskin" saya takut bila kehilangan pekerjaan & posisi saya yang sudah bagus. Ditambah saat itu penghasilan saya 3x lipat dibanding suami.
● Tanpa sadar keluarga terabaikan.
● Tanpa sadar sering terjadi cekcok dengan suami hanya karena masalah sepele.
● Tanpa sadar sering terjadi fitnah.
● Hingga suatu saat saya tersadar, saat pembantu yang sangat sayang dengan anak saya resign karena akan mantu. Anak saya meraung-raung ingin ikut. Saya pegang, saya peluk, sampai anak saya mengeluarkan kata-kata : "ga mau sama mami, aku maunya sama bibi' "
● Masya Allah dia anak saya, namun saya tidak mampu memiliki hatinya. Kemana saya selama ini ?
● Saya & suami meminta pendapat seorang kiyai di Banten yang sudah lama menjadi orang tua angkat suami saya.
● Satu poin inti dari kata-kata pak kiyai : "hilangkan ketakutan, karena yang dibutuhkan hanyalah ke-TATA-an. Cobalah untuk TAAT & lihatlah apa yg akan kalian dapatkan"
● Masih dengan ragu-ragu saya memberanikan diri untuk resign.
● Memang memulai ke-TAAT-an itu tidak mudah, tapi terus ISTIQOMAH hanya itu jalan keluarnya.
● Kalau dulu kami punya : cicilan rumah, cicilan mobil, cicilan kartu kredit, padahal yang kerja 2 orang.
● Kini dengan cara-NYA yang unik, semua riba terhapus. Alhamdulillah.
● Kami tetap memiliki rumah dengan luas yang sama. Tetap memiliki kendaraan dengan kualitas yang sama. Namun tanpa cicilan. Cash TUNAI !! Karena kami dapatkan KUN !! dari Allah.
● Benar yang dibutuhkan hanya TAAT & ISTIQOMAH
● Karena rizki dari Allah itu sangat cukup untuk hidup tapi memang tidak cukup untuk gaya hidup.
Insya Allah cerita saya ini bisa dipahami dari sudut pandang TAUHID.

SILAHKAN SHARE ATAU COPAS DENGAN MENYERTAKAN LINK BLOG INI.

DILARANG KERAS MENGAMBIL IDE CERITA INI UNTUK TUJUAN KOMERSIL TANPA SEIJIN PENULIS.


3 komentar:

  1. Ingat pengalaman pribadi... pernah merasa sedikit kecewa ketika agak dipaksa suami keluar dari pekerjaan...
    Tp alhamdulillah dg proses hijrah yg panjang sekarang sy bangga menjadi ibu rumah tangga sdgkan suami kerjaannya wiraswasta yg kata org gk pasti pendapatannya & lebih sering menghabiskan waktunya dirumah dg sy...
    Justru krn itu hidup kita lbh bahagia karena waktu kita cm di curahkan utk bersyukur ke Allah dg beribadah... fokus pada ortu sy plud suami yg masih hidup & sdh renta... sering menghabiskan waktu berkumpul sekeluarga dg ank2... jg silaturahmi ke saudara & teman.

    BalasHapus
  2. ya allah ceritanya bener2x kaya saya....alami saat ini saya lg bimbang dan ragu untuk resain...semoga tegat saya untuk urus anak2x terkabul....sedih bila berangkat kerja anak pd nangis..

    BalasHapus

HANYA BUTUH TAAT DAN ISTIQOMAH

(Nama & tempat dirahasiakan, agar tidak menjadi riya) Dulu saat saya jadi wanita karier, seolah tidak masalah sedikit-sedikit nabra...

Postingan Populer