Kamis, 22 Maret 2018

AKU BUKAN WONDER WOMAN


"Aku bukan wonder womanmu yang bisa terus menahan rasa sakit karena mencintaimu"
"Hatiku ini bukanlah hati yang tercipta dari besi dan baja, hatiku ini bisa remuk dan hancur"
Cuplikan lirik lagu jadulnya "Mulan Jameela" mengingatkan saya pada cerita seorang teman.

"Suami saya pemabuk dik Irene. Penjudi, suka nyawer biduan dangdut. Dia tidak paham tanggung jawabnya. Anak-anak terlantar, kami tidak punya uang waktu itu."
Aku menyimak menatap wajah cantiknya tanpa berkedip. Aku memanggilnya "kak Suci" (bukan nama sebenarnya. Ga usah kepo siapa dia).

"Saat itu saya tinggal dirumah mertua. Mertua saya tidak peduli dengan perilaku suami saya. Bahkan kerap kali saya yang selalu salah dan dikatakan tidak tahu diri, tidak tahu malu, sudahlah numpang dirumah mertua, tidak pernah ngasih uang sedikitpun untuk makan, bayar listrik,dll. Begitupun dengan ipar-ipar saya, mereka semua memandang sebelah mata pada saya."

"Rumah itu bagaikan neraka bagi saya. Rasanya saya ingin akhiri saja rumah tangga saya. Tapi saya gamang. Saya punya anak perempuan kembar yang masih butuh sosok seorang ayah."
"Dik Irene bisa bayangkan, bagaimana rasanya menjadi saya saat itu ?"
Aku masih terdiam menatap wajah cantiknya. Kerongkonganku tercekat. Bahkan aku tak sanggup untuk menelan air liurku sendiri. Aku tak sanggup membayangkan andai aku yang berada pada posisi kak Suci. Ooohhh tidaaaakkk !!!!

"Saat itu untuk pulang dan mengadu pada orang tua saya malu." Kak Suci tertunduk untuk mengusap matanya yang berair.
"Namun saya masih ingat, saya punya Allah dik Iren. Walau dalam rasa yang tidak menentu, saat saya merasa tidak memiliki siapapun untuk menampung curhat saya, saya gelar sajadah saya untuk curhat walau dalam hati, tak berani bersuara karena takut terdengar oleh orang rumah. Saya menangis dalam diam diatas sajadah saya. Saya mohon Allah berikan jalan keluar terbaik dengan cara Allah."


"Setiap malam saya mengaji dengan suara rendah, bahkan dalam hati, karena ibu mertua dan ipar-ipar saya tidak suka bila ada yang mengaji dengan suara keras. Saya lakukan itu setiap malam sambil menunggu suami saya pulang mabuk, pulang judi atau pulang nonton dangdut. Untungnya dia kalo pulang ga berisik, jadi ga ngebangunin orang rumah"
Aku mulai tidak mampu menahan jatuhnya embun hangat disudut mataku. Kupegang erat tangannya. kak Suci tersenyum kuat.

"Suatu hari datang bude dari Jawa. Beliau kakak kandung ayah mertuaku. Bude ini sudah janda, tidak memiliki anak, tapi beliau seorang pengusaha sukses. Bude ini orang yang berperangai tegas tapi lembut hatinya. Ternyata selama ini kehidupan keluarga mertuaku dibiayai oleh bude 100%. Maka pastilah saat bude datang, bude akan menjadi raja dirumah kami."
"Kedatangan bude mengubah semuanya. Ibu mertuaku tidak pernah marah-marah padaku. Ipar-iparku pun bersikap baik padaku. Namun suamiku tetap saja tidak mengubah kebiasaan buruknya. Hingga akhirnya suamiku terkena Penyakit Menular Seksual (PMS) raja singa. Kelaminnya mengeluarkan nanah. Demam tinggi, daya tahan tubuhnya lemah.” Kak Suci berhenti sejenak mengusap air matanya.

“Saat itu saya merasa percuma saya sholat, percuma saya mengaji. Saat itu saya merasa Allah tidak pernah mendengar do’a – do’a saya. Bukan suami yang menyadari kekeliruannya, namun mengapa disaat kami benar-benar tidak punya uang sama sekali Allah turunkan azab bagi suamiku. Namun sekali lagi, karena aku merasa tidak memiliki siapapun, aku tetap datang kepada Allah, marah didalam sujudku.” Pecah tangisnya

“Apalagi ini ya Allah….!!! Apalagi….!!! Apakah ENGKAU sang maha kuasa sebegini tega pada diriku yang sungguh sudah tidak berdaya ! aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi ya Allah !! aku sudah tidak mengerti lagi akan meminta apalagi dariMU !!”

“Bude mendatangiku, bersedia meminjamkan uangnya untuk pengobatan suamiku. Aku bingung menerima tawaran bude. Bagaimana caraku mengganti, karena kami tidak memiliki sumber penghasilan darimanapun. Bude mengatakan, setelah suamiku sembuh, aku bisa bekerja di butiknya dengan membawa kedua puteri kembarku. Aku mulai menyesal. Aku mulai berbaik sangka pada Allah. Aku merasa bude adalah malaikat yang Allah kirimkan untukku.” Aku menghela nafas sebentar untuk menanti kelanjutan cerita kak Suci.

“Aku merawat dan melayani suamiku yang sedang sakit. Bila suami mengerang kesakitan, aku langsung berwudhu dan mengaji didekat kepalanya hingga ia tertidur. Selama 1 minggu aku lakukan hal itu. Hingga disuatu malam aku terjaga dari tidurku, kulihat suamiku sholat dengan mata sembab bercucuran air mata. Mataku melotot tak berkedip, menunggu ia mengucapkan salam untuk mengakhiri sholatnya. Suamiku menoleh kearahku. Aku masih terpaku diatas tempat tidur. Sejenak mata kami saling memandang. Suamiku merangkak mendekatiku, memeluk kedua kakiku dan kemudian menangis memohon maaf. Aku langsung tersadar. Kutegakkan tubuhnya “abang tidak patut menangis dikakiku”

“Suci, aku bukan hanya tidak patut menangis dikakimu, tapi aku juga sebenarnya tidak patut menjadi suamimu!” Tangisku pecah. Kupeluk tubuh suamiku erat. “Ya Allah, ya Rabb, terima kasih ! Memang hanya ENGKAU sang pemilik hati !

“Sejak malam itu, aku merasa memiliki semangat baru. Semangat berpuluh-puluh kali lipat dibanding hari-hari sebelumnya. Aku melihat masa depan yang sangat cerah mulai mendekat. Walau kami masih belum memiliki harta apapun, namun aku serasa memiliki hidup baru yang sangat membahagiakan.”

“Suamiku mendatangi bude, memohon agar ia saja yang bekerja dikantor bude. Suami ingin aku tetap dirumah mengurus puteri kembar kami. Bude setuju. Suamiku bekerja sebagai security di perusahaan konveksi milik bude. Bahkan bude memberikan fasilitas rumah kontrakan yang dekat dengan tempat suamiku bekerja.” Kak Suci menghela nafas dalam, menatapku dengan tersenyum. Akupun tersenyum menatap matanya yang berpendar.

“Ternyata benar dik Iren. Bude adalah malaikat yang Allah kirim untuk menjawab do’a-do’aku. Saat suami ingin mencicil biaya rumah sakit, bude menolak. Bude mengatakan beliau ikhlas, itu adalah tabungan amal beliau untuk kehidupan beliau nanti. Bude hapuskan hutang kami. Bude hanya meminta 1 hal, aku mengajarinya mengaji.” Kak Suci tersenyum sumringah saat mengucapkan kalimat terakhir itu.

“Kini setiap sore bude datang ke rumah kami untuk mengaji, atau kadang-kadang kami yang silaturahmi ke rumah bude. Suamiku akhirnya dipercaya menjadi kepala security dikantor bude. Alhamdulillah kini suamiku tidak pernah lagi meninggalkan sholatnya, tidak pernah lagi menyentuh minum-minuman haram, bahkan sudah berhenti merokok, sejak aku hamil yang kedua kalinya. Anak ketigaku laki-laki dik Iren. Kemarin ulang tahun pernikahan kami yang ke-17. Sweet seventeen kata orang. Bude membeli rumah kontrakan yang kami tinggali dan memberikan sertifikat rumah sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kami. Sungguh saya tidak pernah membayangkan, bertubi-tubi kenikmatan yang Allah berikan kepada kami. Saya sungguh malu dik Iren. Saya malu pernah marah kepada Allah, dan pernah berhitung percuma untuk setiap ibadah yang kulakukan, padahal janji Allah itu nyata.”

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا   وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)”

(Penulis mendapat amanah untuk menjaga privacy narasumber. Mohon dipahami untuk tidak menanyakan apapun terkait dengan identitas narasumber)

SILAHKAN COPAS ATAU SHARE DENGAN MENYERTAKAN LINK BLOG INI.

DILARANG KERAS MENGGUNAKAN IDE CERITA INI UNTUK TUJUAN KOMERSIL

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HANYA BUTUH TAAT DAN ISTIQOMAH

(Nama & tempat dirahasiakan, agar tidak menjadi riya) Dulu saat saya jadi wanita karier, seolah tidak masalah sedikit-sedikit nabra...

Postingan Populer