Kamis, 22 Maret 2018

AKU BUKAN WONDER WOMAN


"Aku bukan wonder womanmu yang bisa terus menahan rasa sakit karena mencintaimu"
"Hatiku ini bukanlah hati yang tercipta dari besi dan baja, hatiku ini bisa remuk dan hancur"
Cuplikan lirik lagu jadulnya "Mulan Jameela" mengingatkan saya pada cerita seorang teman.

"Suami saya pemabuk dik Irene. Penjudi, suka nyawer biduan dangdut. Dia tidak paham tanggung jawabnya. Anak-anak terlantar, kami tidak punya uang waktu itu."
Aku menyimak menatap wajah cantiknya tanpa berkedip. Aku memanggilnya "kak Suci" (bukan nama sebenarnya. Ga usah kepo siapa dia).

"Saat itu saya tinggal dirumah mertua. Mertua saya tidak peduli dengan perilaku suami saya. Bahkan kerap kali saya yang selalu salah dan dikatakan tidak tahu diri, tidak tahu malu, sudahlah numpang dirumah mertua, tidak pernah ngasih uang sedikitpun untuk makan, bayar listrik,dll. Begitupun dengan ipar-ipar saya, mereka semua memandang sebelah mata pada saya."

"Rumah itu bagaikan neraka bagi saya. Rasanya saya ingin akhiri saja rumah tangga saya. Tapi saya gamang. Saya punya anak perempuan kembar yang masih butuh sosok seorang ayah."
"Dik Irene bisa bayangkan, bagaimana rasanya menjadi saya saat itu ?"
Aku masih terdiam menatap wajah cantiknya. Kerongkonganku tercekat. Bahkan aku tak sanggup untuk menelan air liurku sendiri. Aku tak sanggup membayangkan andai aku yang berada pada posisi kak Suci. Ooohhh tidaaaakkk !!!!

"Saat itu untuk pulang dan mengadu pada orang tua saya malu." Kak Suci tertunduk untuk mengusap matanya yang berair.
"Namun saya masih ingat, saya punya Allah dik Iren. Walau dalam rasa yang tidak menentu, saat saya merasa tidak memiliki siapapun untuk menampung curhat saya, saya gelar sajadah saya untuk curhat walau dalam hati, tak berani bersuara karena takut terdengar oleh orang rumah. Saya menangis dalam diam diatas sajadah saya. Saya mohon Allah berikan jalan keluar terbaik dengan cara Allah."


"Setiap malam saya mengaji dengan suara rendah, bahkan dalam hati, karena ibu mertua dan ipar-ipar saya tidak suka bila ada yang mengaji dengan suara keras. Saya lakukan itu setiap malam sambil menunggu suami saya pulang mabuk, pulang judi atau pulang nonton dangdut. Untungnya dia kalo pulang ga berisik, jadi ga ngebangunin orang rumah"
Aku mulai tidak mampu menahan jatuhnya embun hangat disudut mataku. Kupegang erat tangannya. kak Suci tersenyum kuat.

"Suatu hari datang bude dari Jawa. Beliau kakak kandung ayah mertuaku. Bude ini sudah janda, tidak memiliki anak, tapi beliau seorang pengusaha sukses. Bude ini orang yang berperangai tegas tapi lembut hatinya. Ternyata selama ini kehidupan keluarga mertuaku dibiayai oleh bude 100%. Maka pastilah saat bude datang, bude akan menjadi raja dirumah kami."
"Kedatangan bude mengubah semuanya. Ibu mertuaku tidak pernah marah-marah padaku. Ipar-iparku pun bersikap baik padaku. Namun suamiku tetap saja tidak mengubah kebiasaan buruknya. Hingga akhirnya suamiku terkena Penyakit Menular Seksual (PMS) raja singa. Kelaminnya mengeluarkan nanah. Demam tinggi, daya tahan tubuhnya lemah.” Kak Suci berhenti sejenak mengusap air matanya.

“Saat itu saya merasa percuma saya sholat, percuma saya mengaji. Saat itu saya merasa Allah tidak pernah mendengar do’a – do’a saya. Bukan suami yang menyadari kekeliruannya, namun mengapa disaat kami benar-benar tidak punya uang sama sekali Allah turunkan azab bagi suamiku. Namun sekali lagi, karena aku merasa tidak memiliki siapapun, aku tetap datang kepada Allah, marah didalam sujudku.” Pecah tangisnya

“Apalagi ini ya Allah….!!! Apalagi….!!! Apakah ENGKAU sang maha kuasa sebegini tega pada diriku yang sungguh sudah tidak berdaya ! aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi ya Allah !! aku sudah tidak mengerti lagi akan meminta apalagi dariMU !!”

“Bude mendatangiku, bersedia meminjamkan uangnya untuk pengobatan suamiku. Aku bingung menerima tawaran bude. Bagaimana caraku mengganti, karena kami tidak memiliki sumber penghasilan darimanapun. Bude mengatakan, setelah suamiku sembuh, aku bisa bekerja di butiknya dengan membawa kedua puteri kembarku. Aku mulai menyesal. Aku mulai berbaik sangka pada Allah. Aku merasa bude adalah malaikat yang Allah kirimkan untukku.” Aku menghela nafas sebentar untuk menanti kelanjutan cerita kak Suci.

“Aku merawat dan melayani suamiku yang sedang sakit. Bila suami mengerang kesakitan, aku langsung berwudhu dan mengaji didekat kepalanya hingga ia tertidur. Selama 1 minggu aku lakukan hal itu. Hingga disuatu malam aku terjaga dari tidurku, kulihat suamiku sholat dengan mata sembab bercucuran air mata. Mataku melotot tak berkedip, menunggu ia mengucapkan salam untuk mengakhiri sholatnya. Suamiku menoleh kearahku. Aku masih terpaku diatas tempat tidur. Sejenak mata kami saling memandang. Suamiku merangkak mendekatiku, memeluk kedua kakiku dan kemudian menangis memohon maaf. Aku langsung tersadar. Kutegakkan tubuhnya “abang tidak patut menangis dikakiku”

“Suci, aku bukan hanya tidak patut menangis dikakimu, tapi aku juga sebenarnya tidak patut menjadi suamimu!” Tangisku pecah. Kupeluk tubuh suamiku erat. “Ya Allah, ya Rabb, terima kasih ! Memang hanya ENGKAU sang pemilik hati !

“Sejak malam itu, aku merasa memiliki semangat baru. Semangat berpuluh-puluh kali lipat dibanding hari-hari sebelumnya. Aku melihat masa depan yang sangat cerah mulai mendekat. Walau kami masih belum memiliki harta apapun, namun aku serasa memiliki hidup baru yang sangat membahagiakan.”

“Suamiku mendatangi bude, memohon agar ia saja yang bekerja dikantor bude. Suami ingin aku tetap dirumah mengurus puteri kembar kami. Bude setuju. Suamiku bekerja sebagai security di perusahaan konveksi milik bude. Bahkan bude memberikan fasilitas rumah kontrakan yang dekat dengan tempat suamiku bekerja.” Kak Suci menghela nafas dalam, menatapku dengan tersenyum. Akupun tersenyum menatap matanya yang berpendar.

“Ternyata benar dik Iren. Bude adalah malaikat yang Allah kirim untuk menjawab do’a-do’aku. Saat suami ingin mencicil biaya rumah sakit, bude menolak. Bude mengatakan beliau ikhlas, itu adalah tabungan amal beliau untuk kehidupan beliau nanti. Bude hapuskan hutang kami. Bude hanya meminta 1 hal, aku mengajarinya mengaji.” Kak Suci tersenyum sumringah saat mengucapkan kalimat terakhir itu.

“Kini setiap sore bude datang ke rumah kami untuk mengaji, atau kadang-kadang kami yang silaturahmi ke rumah bude. Suamiku akhirnya dipercaya menjadi kepala security dikantor bude. Alhamdulillah kini suamiku tidak pernah lagi meninggalkan sholatnya, tidak pernah lagi menyentuh minum-minuman haram, bahkan sudah berhenti merokok, sejak aku hamil yang kedua kalinya. Anak ketigaku laki-laki dik Iren. Kemarin ulang tahun pernikahan kami yang ke-17. Sweet seventeen kata orang. Bude membeli rumah kontrakan yang kami tinggali dan memberikan sertifikat rumah sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kami. Sungguh saya tidak pernah membayangkan, bertubi-tubi kenikmatan yang Allah berikan kepada kami. Saya sungguh malu dik Iren. Saya malu pernah marah kepada Allah, dan pernah berhitung percuma untuk setiap ibadah yang kulakukan, padahal janji Allah itu nyata.”

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا   وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)”

(Penulis mendapat amanah untuk menjaga privacy narasumber. Mohon dipahami untuk tidak menanyakan apapun terkait dengan identitas narasumber)

SILAHKAN COPAS ATAU SHARE DENGAN MENYERTAKAN LINK BLOG INI.

DILARANG KERAS MENGGUNAKAN IDE CERITA INI UNTUK TUJUAN KOMERSIL

Rabu, 21 Maret 2018

MANFAAT APA YANG INGIN KAU SEBAR

Kutanya padamu ukhti....
Manfaat apa yang ingin kau sebar, saat kau tunjukkan kemesraanmu pada pasanganmu ?
Kutanya padamu ukhti
Manfaat apa yang ingin kau sebar saat kau upload chattingan mesra pasanganmu ?
Kutanya padamu ukhti
Manfaat apa yang ingin kau sebar saat kau tunjukkan kemapanan suamimu ?
Kutanya padamu ukhti
Manfaat apa yang ingin kau sebar saat kau tunjukkan betapa shalehnya suamimu ?
Kau katakan sedang belajar berhijrah, tak akan selfie lagi, haruskah kegiatan selfiemu kau ganti dengan menunjukkan semua itu ?
Kutanya padamu ukhti, manfaat apa yang ingin kau sebarkan dari setiap postinganmu ?

Jumat, 16 Maret 2018

MUNGKINKAH KARENA DIRI INI TAK TAHU DIRI ?

Saat ke tempat teman yang biasa jual mukena.
"Kok tumben dikit banget koleksi mukenanya mbak ?"
"Iyaa... kalau hari biasa gini mah mukena kurang laku. Mukena lakunya kalau mau dekat lebaran. Kalau yang selalu laku sih jilbab-jilbab intant kayak gini..." sambil menunjuk deretan hijab yang fashionable...
Hemmmm.....

Manusia memang selalu mengukur bagaimana dirinya. Maka tidak heran kalau maling akan lebih waspada dari yang bukan maling. Pembohong akan selalu merasa dibohongi walau sebenarnya yang ia dapat adalah kebenaran. Dan tidak tanggung-tanggung manusiapun akhirnya memperlakukan Allah sebagaimana dirinya.
Hanya karena manusia tidak memiliki kemampuan untuk melihat Allah, maka dipikirnya Allah sama seperti dirinya.

"Ngapain sih buat dirumah aja pake mukena yang bagus, sayaanngg.... mukena yang bagus itu buat nanti sholat ied di lapangan, kan malu dilihat orang kalau mukenanya jelek. Mukena yang jelek buat sholat dirumah aja, nggak ada yangg lihat ini..."
Masya Allah.... 😓

Wanita karier saja selalu memilih pakaian yang menurutnya bagus-bagus, modis-modis, dan keren-keren. Padahal hanya mau bertemu bosnya, mau bertemu rekan sejawatnya yang sesama manusia. Bosnya itu paling adalah seorang owner yang hanya menguasai beberapa perusahaan. Tidak menguasai seluruh dunia. Tapi diperkenankan melihat penampilan terbaiknya...Subhanallah....!!!

Lantas Allah sang penguasa dunia akherat, bahkan sang pencipta yang membuat dirinya menjadi ada, dimana ia bernafas dengan oksigen dari Allah, hidup diatas bumi Allah dan makan dengan rizki dari Allah, dianggap tidak masalah berjumpa dengan yang maha agung dengan pakaian yang lusuh ? Innalillahi....

Jujur saja cukup jawab pada diri sendiri, berapa persen dari kita yang memakai pakaian terbaiknya saat sholat ? tidak perduli saat sholat dirumah ataupun di masjid.
Bahkan untuk diperjalananpun berapa persen dari kita yang membawa pakaian sholat terbaiknya ? Paling mikirnya seperti ini "ah daripada berat-beratin, ntar di perjalanan di masjid-masjid biasanya ada mukenanya kok".

Allah diperlakukan sekenanya. Seperti ini perilaku kita dengan DIA yang tidak ada tandingannya ?

Sholat ditunda. Untuk membenarkannya pikiran kita berdalih : "ah Allah kan maha tahu, maha penyayang, maha pemaaf, Allah tahu saya sedang sibuk. Bukankah sibuk bekerja juga ibadah ?" Tanpa sadar padahal ibadah yang paling utama adalah menyembah-NYA. Mentang-mentang maha pemaaf jadi tidak masalah kalau tidak ontime. Masya Allah ! Sudahlah begini perilaku kita pada Allah masih berani banyak minta. Minta rejeki berlimpah, barokah terhindar dari musibah dan berharap masuk surga. Ini sama seperti pegawai yang datang ke kantor suka-suka dia, kerja suka-suka dia, berpakaian suka-suka dia, tapi minta naik gaji terus. Memang tidak tahu diri.

Saya sedang membayangkan, kira-kira Allah di atas Arsy-NYA bersedih atau tertawa ya melihat kelakukan hamba-NYA ? Manusia tidak pernah sadar seringkali jatuh pada perkara yang sepele.

Bagi yang saat ini sedang disepelekan, banyak hutang, terlibat riba, bisnis mentok, jangan-jangan karena sering menyepelekan Allah.
Bagi yang sering terlambat dapat info bagus, bukan karena belum rejeki, ingat-ingat lagi, jangan-jangan suka menunda waktu sholat.
Tulisan ini bukan untuk siapa-siapa, untuk pengingat diri, agar lebih tahu diri di hadapan Ilahi.


#SelfReminder

DOA DALAM DIAM

● Ketika diam-diam mendo'akan teman yang tak kunjung dikaruniai momongan. Eh malah saya yang hamil.
● Ketika merasa kasihan pada teman yang sedang bangkrut usahanya, kemudian diam-diam mendo'akan untuk kebangkitan usahanya. Eh malah saya yang kebanjiran orderan.
● Ketika kasihan melihat teman yang tetlilit hutang riba, kemudian diam-diam berdo'a untuknya, eh malah saya yang dapat rejeki tak disangka2.
● Sedang ada masalah apa ? Sedang ada keinginan apa ? Do'akan dengan kesungguhan teman-temanmu yang memiliki masalah serupa dan keinginan serupa.
● Mungkin inilah mengapa, saat telunjuk kita menunjuk pada orang lain, ibu jari kita menunjuk keatas dan 3 jari yang lain menunjuk ke diri sendiri.
● Karena setiap 1 ucapan baik untuk teman / saudaramu yang kau panjatkan dihadapan Rabb-mu, akan kau dapatkan 3x lipat kebaikan dari itu.
Allahualam bishowab.

MENDIKTE SUAMI

Nemu artikel ttg kewajiban suami,
Nemu artikel nafkah istri, belanja istri
Nemu artikel istri harusnya dibeginkan n di begitukan
Dan artikel2 yg semacamnya, yg intinya biar suami baca, lalu berubah melakukan hal tersebut..
Lalu dimention nama suami, kalo ga dishare bahkan ditag sekalian suaminya..
Maksud hati biar suami baca lalu bersikap seperti dalam tulisan..
Berubah Mak?
Kok saya ga yakin ya, ada suami yg mau berubah dg cara demikian..
Laki2 itu egonya tinggi lho, alih2 mau berubah diperlakukan demikian yg ada malah BT karena merasa di dikte, apalagi di sosmed... bbbeeeh... bisa berasa turun itu harga dirinya..
Coba aja tanya, suka ga dimention atau ditag begitu??
Kalo jawabannya suka tapi ga berubah juga.. ya itu sih cuma cari aman, daripada jadi ribut, ye kan?
Perempuan kok dilawan, mending nguras sumur pake gelas aqua kali 
Kalo mau suami berubah, kenapa ga mencoba memulai dari kita sendiri dulu, kita yg minta maaf atas segala kondisi yg tidak mengenakan selama ini, minta maaf udah banyak nuntut, bawel, baper dll
Sekalian minta didoain biar bisa jadi istri yang baik.
Wes.. posisikan suami sebagai raja yg kudu dihormati, kalo ada masalah anggap aja kitanya yg banyak salah..
Berat?
Embeeeer...
Scara perempuan juga punya ego yg ga kalah dahsyat..
Tp kan kita bukan sedang berlomba cari siapa yg benar siapa yg salah
Bukan mau menang2an..
Tapi mau memperbaiki keadaan agar RT jadi lebih aman damai... iya kan?
Satu lagi yg ga kalah dahsyat.. DOA.
Berdoa Mak, permintaan kita langsung ditembuskan saja kepada yg menciptakan suami, karena bukankah hanya Allah yang Maha Membolak Balikan Hati??
Ga masalah, sambil nahan rasa kita ngalah di dhadapan suami, udahnya jerit2, nangis2 deh di hadapan Allah, semacam bilang:
"Aku tu ga bisa diginiin ya Allah, tapi apa yg bisa aku lakukan selain mengalah dan mentaatinya? Lembutkanlah hatinya ya Allah, lapangkanlah ikhlasku, luaskanlah sabarku, aku ingin nyaman bersamanya ya Allah, sebagaimana yg ku inginkan, karena aku jg sudah tak tau sebaiknya dia bagaimana (saking udah kusutnya urusan...ye kan?)..
Intinya ya minta sama Allah untuk merubah suami biar bisa lebih menentramkan..
Minta seminta-mintanya... berharap sepasrah2nya...
Langsung dikabulkan?
Ya itu sih terserah Allah..
Yang pasti sabar itu batasnya hanyalah kematian... he he he he he...
Udah gitu aja Mak... koreksi dan benahi diri, letakkan suami pada singgasananya, perbaiki akhlak pada suami lalu doa doa dan doa....
Tulisan diatas bukan tulisan saya ya teman2. Tapi itu tulisan senior saya mba Siwi Djendropawiro.
Sorry mba Siwi.... aku copas tulisanmu, jadi biar ga pada complain di inboxku terus 😉😃😄
Nah, sekarang tahu kan, perempuan jadi-jadian, bertemannya sama perempuan jadi-jadian juga 😂😁
Peace Senior 👌😄

Note : kalo tulisan ini banyak di share sama bpk2, alangkah baiknya kalo bpk2 juga lakukan hal serupa.
Bukankah para nabi terdahulu dan para sahabat Rosul juga mencontohkan kelembutan hati kepada para isterinya ? 😉

MUNDURLAH, SEBAGAI BUKTI BIRRUL WALIDAINMU..

Curhatan seorang ukhti melalui inbox messenger saya :
(Mohon untuk tidak kepoin fbnya, wa nya, identitas lainnya, karena ini adalah amanah privacy yang harus saya jaga)
Bagus dibaca bagi yang masih jomblo. Jomblolah sampai halal 😉

Saat ini usiaku genap 21. 
Aktivitas ku lebih banyak ku habiskan di rumah, setelah awal tahun lalu aku memutuskan resign dari tempatku bekerja.
dan sedang merintis usaha sendiri dirumah.

Sebulan yang lalu, aku mendapat kabar dari seorang teman kajianku(aku memanggil nya ummi).
Ya, ummi menyampaikan bahwa ada seorang Ikhwan yang ingin ta'aruf denganku.Seorang Ikhwan yang masih 1 provinsi denganku, yang tidak pernah ku kenal sebelumnya.
Dikirimkan CV Ikhwan itu kepadaku. Kulihat, sekilas. Sempat ragu karena usianya masih sangat muda, sepantaran denganku , ya 21tahun hanya selisih beberapa bulan. Jujur aku lebih menginginkan usia di atasku yang lebih dewasa.
Tapi apakah usia adalah tolok ukur kedewasaan ? Tidak! Rasanya tidak adil jika aku meragu hanya karena usia, ku lihat visi misi nya sangat mirip dengan apa yang ada di kepalaku, ku dengar dari wasilahku dia pemuda yang insyaAllah baik akhlaknya, hafalannya juga lumayan.

Bismillah..aku memantapkan diriku, dengan beristikharah memohon petunjuk.
Setelah saling bertanya banyak hal, lewat Wasilah kami. Ikhwan tersebut mantap, ingin nadzor keesokan harinya.

Entah apa yang ada di kepalanya hingga ia mengambil langkah secepat itu.. dan ya,dia pun sampai di tempat yang sudah kami sepakati, menemuiku di sebuah masjid usai kajian berlangsung. Tentunya dengan di temani seorang wasilah,tidak mudah memang
"tadi nyasar sampai jauh um" ku dengar suara itu dengan di akhiri tawa kecilnya, dan memang dialah ikhwan yang akan nadzor dengan ku..
Entah apa rasanya kala itu, dag-dig-dug tak beraturan.. bahkan untuk mengangkat kepala pun aku tidak sanggup, sesekali melirik dan hanya terlihat dagu yang mulai bertumbuh jenggot ..
Setelah ada beberapa yang ditanya, akhirnya ikhwan tersebut mengatakan akan bertemu dengan orangtuaku esok hari untuk silaturahmi.
Ahad 25 Februari 2018,benar ikhwan itu datang kerumah ,setelah sebelumnya dia minta wasilahku agar share lokasi melalui wa , meskipun demikian dia tetap nyasar-nyasar lagi untuk kedua kalinya.

Setelah pertemuan itu, dia pulang dengan sebuah keputusan dia akan melangkah untuk khitbah. Namun untuk waktunya akan musyawarah dengan orangtuanya dahulu.
Malamnya, dia mengirim pesan wa kepada wasilah kami, yang intinya dia ingin nadzor sekali lagi. Kaget, ini sudah pertemuan yang akan jadi pertemuan ke 3. Kurasa aneh,aku menolak.tapi wasilahku menenangkanku,dan akhirnya kami memutuskan untuk bertemu lagi tapi ini adalah yang terakhir pintaku.
Senin sore kala itu.. tentunya dia tidak nyasar-nyasar lagi, karena memang kami bertemu di sebuah masjid dekat rumah dengan di temani wasilah kami.
Dia mulai pembicaraan,tenyata alasan utamanya ingin bertemu bukan karena ingin nadzor namun ada yang ingin dia sampaikan.Sekilas ingat intinya begini,
" Setelah menyampaikan pada ayah ibunya ,mereka kaget karena bagi mereka ini terlalu cepat, penolakan juga sangat dia rasakan dari ibunya."
'ibu mulai berubah pikiran' setelah sebelumnya menyetujui kini ibu seolah-olah tidak ridho jika dia menikah mengingat usia masih 21 tahun, dan ibu tidak suka dengan wanita berjilbab besar, apa lagi dengan pakaian yang gelap"
Aku dan wasilahku masih saja diam..
Diapun mulai diam..
Dalam hatiku, aku meyakinkan diriku sendiri. Qodarullah, ikhlaskan.. apalah artinya jika semua tanpa ridho orang tua, apa lagi ridho ibu.

Lama sekali kami diam sampai-sampai dia berucap lirih..
"Tapi um saya ingin lanjut dengan....(dia menyebutkan namaku)"
Tidak ! (entah kenapa bibirku langsung menolak)
"Afwan ana tidak bisa melanjutkan jika memang orang tua tidak ridho"
Ya wasilahkupunmulai menasihatinya.

Setengah hatiku ingin mengakhirinya saja, setengahmya lagi mengatakan lebih bijak biarkan dia membuktikan.
Dia meminta di beri kesempatan untuk membujuk ibunya, sebenarnya berat bagiku.. wasilahku meminta agar aku bersedia memberinya waktu , menyampaikan sedikit apa yang Ingin disampaikan, dan hanya berucap
"Nasehati dengan lemah lembut, tunjukkan dengan akhlak mu dan jangan memaksa ibu untuk menerima ana"
Tidaklah mudah memang tapi hati itu milik Allah ,Dia Yang Maha Membolak-balik kan hati.
Ku beri waktu 2 hari sampai akhir Februari. Ya,dia menyetujuinya.

Wajar saja,dia putra satu-satunya yang dimiliki ayah ibunya, dia permata bagi orangtuanya.
Entah mengapa, setelah dia pulang aku merasa pandanganku mulai kabur karena air mata
Aku seakan mendengar lagi ucapan yang dia katakan dengan wasilahku sore itu

"Umi,ana hijrah sendiri. Dan ana merasa berat,ana sudah butuh menikah,ana butuh ada yang mengingatkan, mendukung karena iman itu naik turun, dan awal tahun ini ayah baru saja menjadi mualaf .ana ingin dengan menikah kita sama2 bisa berdakwah dikeluarga kita nantinya".
Dua hari entah apa yang dia upayakan,entah apa yang dia lakukan..
Selagi menunggu keputusan nya,aku berharap dia mundur saja.aku harap dia lebih bijak ,
Dengan sisa-sisa waktu yang ada aku terus beristikharah, aku tidak mengubah isi doaku agar ibunya luluh. Tidak sama sekali ! doaku masih sama 
"Aku hanya meminta yang terbaik."
Dan ya 28 Februari 2018
Alhamdulillah akhirnya dia mundur juga..lega,inilah ujungnya..

Saat aku menulis ini aku sedang bersama bapak dan ibuku, semoga aku masih bisa menemani masa-masa senja beliau. Semoga Allah melembutkan hati dan tutur kataku kepada beliau ,semoga Allah menjauhkan aku dari sifat keras lagi kasar kepada beliau. Semoga aku dan kalian semua mendapat pintu tengah itu. Pintu tengah oleh sebab birrul walidain.
Dan untuk ikhwan di sebuah kota gudeg,
Tidak perlu menanyakan lagi kepada wasilahku bagaimana kabarku, Allah sebaik-baik penjagaku.
Ikhlaslah.. semua sudah menjadi ketentuan Allah.
Mungkin di awal akan terasa pahit,namun yakinlah setelahnya akan terasa manis. Yakinlah janji Allah.
Semoga masing-masing dari kita akan mendapatkan ganti yang lebih baik.

Wanita desa,pendamba surga.
15 Maret 2018

==========================
Mohon do'a bagi ukhti muda ini yang saat ini sedang menjalani ta'aruf kembali dengan seorang ikhwan. Semoga dimudahkan hingga ke jenjang pernikahan. Aamiin....

ERA KEMODERENAN AKHIR ZAMAN

Inilah era kemoderenan akhir jaman. Begitu banyak yang hanya mengejar fisik. Mengejar yang tampak dengan kasat mata dengan dalih "kejujuran". Semua yang terbukti dengan kasat mata baru bisa dipercaya kebenarannya. Padahal apa yang tampak belum tentu sama dengan kebenarannya.
Bila kisah dakwah saja masih diperdebatkan fiksi atau nyata, maka bisa jadi kisah tauladan para nabi dan sahabat nabi hanyalah dongeng belaka.
Mata-mata cantik jaman now yang sudah tertutupi softlens memang sulit untuk melatih mata bathin untuk melihat kehidupan. Bagi mereka keindahan dan kecantikan itu hanya bisa dibuktikan dengan kasat mata.

Itulah sebabnya hanya segelintir orang yang langsung bergegas shalat saat adzan berkumandang. Karena hanya segelintir orang yang memiliki rasa takut pada Allah tanpa merasa perlu melihat Allah.
Itulah sebabnya hanya segelintir orang yang mampu melaksanakan sunnah, karena hanya segelintir orang yang beriman kepada Rasulnya dan mengikuti ajarannya tanpa merasa perlu bertemu.

Itulah sebabnya hanya segelintir orang yang bersedia berlomba amal kebajikan, karena hanya segelintir orang yang mengimani surga tanpa merasa perlu bertanya detil alamat surga ada dimana ?
Itulah sebabnya banyak orang yang tidak takut pada riba, tidak takut merampok, merampas, mencuri, menyakiti, berbuat dzalim, karena hanya segelintir orang yang mengimani neraka itu ada tanpa perlu tahu dimana detil alamat neraka ?
Itulah sebabnya jangankan menciptakan generasi hafidz/hafidzah, hanya segelintir orang yang bersedia selalu membaca Al-Quran dan bersahabat dengan Al-Quran, karena banyak orang yang walau bibirnya mengatakan percaya pada Al-Quran namun tetap saja memperdebatkan syariatnya hingga akhirnya menganggap Al-Quran bukan lagi kitab suci namun hanya dongeng belaka.

Kini aku tahu dijaman apa aku hidup. Dan melalui tulisan ini kuberi tahu padamu temanku, dijaman apa kita hidup.
Allahualam bishowab.

Minggu, 11 Maret 2018

YANG PENTING BISA JAGA DIRI

"Saya tidak pernah melarang anak saya pacaran mbak. Ini kan jaman demokrasi, jaman reformasi. Anak-anak udah bukan jamannya dididik seperti jaman Siti Nurbaya dulu. Biarlah mereka saling mengenal yang penting bisa jaga diri."
"Saya tidak akan maksa anak saya untuk pakai hijab, yang penting bisa jaga diri"
Speechless, tidak bisa bicara apa-apa sama emak-emak di era demokrasi cinta.
Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anak. Tapi madrasah pertama ini tidak paham aturan dengan benar.
Sementara ber-lalulintas saja ada aturannya, untuk menjaga diri, lantas bagaimana cara menjaga diri dengan melanggar aturan ?
"tidak apa-apa naik motor tidak pake helm, yang penting hati-hati bisa jaga diri. Padahal helm itu untuk menjaga diri"
"Tidak apa-apa mengendarai mobil tidak pakai sabuk pengaman, yang penting hati-hati bisa jaga diri. Padahal sabuk pengaman itu untuk jaga diri."
"Tidak apa-apa terabas lampu merah, yang penting hati-hati bisa jaga diri.
Kalau begitu, cobalah berkendara dengan kendaraan yang tidak ada remnya. Bukankah yang penting hati-hati dan jaga diri ?
Maka saat berpacaran sudah dianggap lumrah. Membuka aurat bukan lagi masalah. Hati-hati saat itu rem kendaraan hidupmu sedang bermasalah.
Akad nikah dianggap transaksi jual beli buah. Dicicip dulu baru dibayar. Iya kalo dibayar, kalo ditinggal ? Trus malah beli buah yang lain ?
Dimana ? Dimana aja suka-suka hidup lo....


HANYA IBU RUMAH TANGGA BIASA

Dalam 1 hari saya bisa punya banyak peran :
1. Jadi koki
2. Petugas laundry
3. Cleaning service
4. House keeping
5. Keeper bola 😅
6. Shoping
7. Writer
8. Presenter
9. Guru
10. Sales
Di jaman now dimana semua feminisme menyerukan tentang emansipasi, berapa banyak wanita yg dalam 1 hari mengerjakan 10 kegiatan diatas ? 😉👆🏻
Tapi selalu dikatakan "Hanya ibu rumah tangga biasa" "Tidak bekerja" hanya karena "tidak berkarier diluar" 😁.
Adakah pekerjaan lain yang lebih sibuk dari pekerjaan ibu rumah tangga yang bekerja 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu ? 😉
Moms, jangan lagi mengatakan "saya hanya ibu rumah tangga biasa" karena pekerjaan ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang luar biasa
👍

POLIGAMI

● Berarti anda pro poligami ?
Mau pro atau kontra, poligami tetap syari'at. Tidak akan menjadi salah hanya karena ada yang kontra. Tidak akan terhapus hanya karena ada yg ngeyel. Jadi ini ga perlu dipertanyakan

● Berarti anda siap dimadu ?
Siap tidak siap kalo Allah sudah tunjuk, trus mau apa ? Kadar keimanan seseorang bisa naik, bisa turun. Hari ini bilang siap, eh ternyata saat dihadapkan dg kenyataannya langsung mewek nyanyi lagu "Patah Hati". Hari ini bilang ga siap, eh ternyata malah menjalani kehidupan poligami. Who know's ? Jadi ga usah jadi investigator pernikahan deh.
Anda diciptakan bukan untuk menginvestigasi syari'at Allah. Anda diciptakan hanya untuk taat dan menyembah Allah.
Jadi do'akan saja. Ora usah keminter. Opo meneh minteri Allah. (Ga usah sok pinter, apalagi minteri Allah)

● Menurut anda perlukah ijin dari isteri pertama, saat suami akan melakukan poligami ?
Kita ke hukum syahnya sebuah pernikahan dulu ya mbak/mas/pak/bu.

Rukun & Syarat Sah Nikah

Rukun nikah :
♡ Pengantin lelaki (Suami)
♡ Pengantin perempuan (Isteri)
♡ Wali
♡ Dua orang saksi lelaki
♡ Ijab dan kabul (akad nikah)

Syarat Sah Nikah

Syarat calon suami
■ Islam
■ Lelaki yang tertentu
■ Bukan lelaki mahram dengan calon isteri
■ Mengetahui wali yang sebenarnya bagi akad nikah tersebut
■ Bukan dalam ihram haji atau umrah
■ Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan
■ Tidak mempunyai empat orang isteri yang sah dalam satu masa
■ Mengetahui bahwa perempuan yang hendak dinikahi adalah sah dijadikan isteri

Syarat calon isteri
■ Islam
■ Perempuan yang tertentu
■ Bukan perempuan mahram dengan calon suami
■ Bukan seorang khunsa
■ Bukan dalam ihram haji atau umrah
■ Tidak dalam idah
■ Bukan isteri orang

Syarat wali
■ Islam, bukan kafir dan murtad
■ Lelaki dan bukannya perempuan
■ Baligh
■ Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan
■ Bukan dalam ihram haji atau umrah
■ Tidak fasik
■ Tidak cacat akal fikiran,gila, terlalu tua dan sebagainya
■ Merdeka
■ Tidak ditahan kuasanya daripada membelanjakan hartanya

Syarat-syarat saksi
■ Sekurang-kurangya dua orang
■ Islam
■ Berakal
■ Baligh
■ Lelaki
■ Memahami kandungan lafaz ijab dan qabul
■ Dapat mendengar, melihat dan bercakap
■ Merdeka

Jadi dengan ijin isteri pertama ataupun tidak. Isteri keduanya lebih cantik atau lebih buruk. Niatnya karena nafsu atau karena Allah. Diawali dg selingkuh ataupun tidak. Bila rukun dan syarat syah nikah diatas terpenuhi, maka pernikahan tersebut syah. Ingat baru syah ya ?
Nah kelanjutannya ini yang beda-beda. Ada yang berantakan ada yang sukses.

Nggak usah ngomongin poligami deh, yang monogami aja ada yang berantakan, ada yg sukses.
Nggak usah ngomongin pernikahan deh. Soal bisnis aja ada yang gagal ada yang sukses.

Perusahaan nih, sama2 legal, syah yaaa.... seiring berjalannya waktu ternyata ada yang tumbuh makin pesat, sehat, kuat, tapi ada juga yang pailit. Iyaa kan ?

● Tapi mbak Iren, kenyataannya dalam poligami, lebih banyak yg berantakan daripada yg sukses.
Nggak usah ngomongin poligami mba/mas/pak/bu, dalam bisnis aja lebih banyak pengusaha gagal daripada pengusaha sukses.
Lebih banyak orang yg punya hutang, daripada yg ga punya hutang.
Trus kalo banyak yang gagal dalam poligami, salah poligaminya?
Trus kalo banyak yang gagal bisnis, salah bisnisnya ?
Trus kalo banyak yg suka ngutang, salah hidupnya ? Ke laut ajee...
Dimana-mana orang sukses itu kaum minoritas. Mau sukses apapun. Ga tahu knpa bisa begitu. Mungkin karena mereka tidak berpikir ala orang kebanyakan. Mereka bukan orang rata-rata. Mereka punya mindset berbeda. Dan mereka punya kesamaan :
■ Hanya berpikir memberi, bukan menuntut
■ Lebih banyak menggunakan telinga daripada mulut (bukankah kita diberi 2 telinga dan 1 mulut ?)
■ Lebih banyak berbuat sesuatu daripada nyinyirin sesuatu (karena kita diberi 2 tangan, 2 kaki dan lagi-lagi hanya 1 mulut)

~> Di masyarakat kita sudah terlalu sering mem-blow-up rumah tangga poligami yg hancur berantakan. Kemudian menutupi atau tidak percaya bila ada keberadaan rumah tangga poligami yang apik. Seolah syari'at Allah yg satu ini adalah salah.
~> Islam seringkali dijatuhkan karena syari'at poligami. Bahkan hingga sekarang Rasulullah sering dilecehkan karena menjalani poligami. Kisah Sharen saya blow-up bukan untuk promosi poligami, tapi untuk memberikan sudut pandang yang benar tentang poligami.

"Jangan hanya karena anda pernah memakan jeruk yang rasanya asam, lantas semua orang harus mengatakan jeruk itu asam ? dan anda katakan bohong saat ada orang yang berkata jeruk itu manis ? padahal, bisa jadi jeruk yang terasa manis itu adalah jeruk yang berbeda dari jeruk yang biasa/pernah anda makan"

KETIKA SYAHADAT DIUJUNG TANDUK PART 2

Lebih dari 2 bulan aku menunggu balasan email dari Sharen. Apa kabarmu Sharenku ? Masihkah kau istiqomah di dalam Islam.
Entah mengapa aku gelisah. Ada rasa khawatir. Kucari sosmednya. Tidak ketemu. Duh mengapa Sharen tidak meninggalkan wa di dalam emailnya ?
Akhirnya yang kulakukan hanya menunggu dan berdo'a untuknya.
Saat aku merasa tak kuasa lagi menunggu, aku butuh dukungan saudara saudariku se-aqidah yg lain. Mohon maaf Sharen tanpa bertanya terlebih dahulu, aku share permasalahanmu. Aku berharap banyak do'a terucap untuk mengetuk pintu langit bagimu.
Tepat saat aku akan mengakhiri statusku, notification email berbunyi. Subhanallah....!!!! Sharen....!!!!

Dear Irene

Assalamualaikum wr wb...
Irene, terima kasih atas balasan emailmu. Apa kabarmu hari ini ? Kamu pasti sedang memikirkan aku kan ?
Berkat do'amu kini aku lebih bahagia. Alhamdulillah.

Ketahuilah Irene, saat aku menulis email padamu, aku sudah mengajukan gugatan cerai untuk suamiku. 3 hari kemudian kubaca emailmu. Isi emailmu hampir sama dengan tanggapan seorang ustadzah yg juga mualaf.

Saat itu, sejujurnya aku masih dalam kondisi marah pada Allah. Aku merasa Allah banyak meminta dari hidupku. Aku mulai berhitung setiap sedekah, amal ibadah yg telah kulakukan untuk keluargaku khususnya suamiku.

Ibu mertuaku yg sangat menyayangiku itu setiap malam menangis membujukku untuk mencabut gugatan ceraiku.

Aku gamang, aku bingung. Hingga akhirnya di 1/3 malam dimana seharusnya manusia bermunajat kepada Rabbnya, namun aku justru menumpahkan kekesalanku pada Tuhanku.

"Apalagi yang kau inginkan dariku ya Allah....!!!!!"
"Mengapa bencana ini KAU hadirkan untukku ? Bila KAU adalah Zat yang maha penyayang, seharusnya KAU adalah Zat yg maha perasa. Tidakkah kau bisa merasakan apa yang kurasakan ? Hingga Kau turunkan syari'at poligami untuk menghukumku ?"
Naudzubillah.... do'akan aku, Allah mengampuni dosaku dimalam itu 😢
Aku tertidur. Sedikit lega rasa hatiku. Esok malamnya kuulangi lagi tengadahkan tanganku di 1/3 malam memohon ampunan karena entah mengapa tiba2 datang rasa bersalah. Kemudian aku mencoba saranmu. 1 minggu aku terlibat diskusi dengan Allah.

Hingga suatu hari dengan lantangnya ibu mertuaku mengatakan 1 hal pada suamiku : "Pras, bila kamu tetap ingin menikahi gadis itu.... pergi kamu dari rumah ini !!! Biarkan mama bersama Sharen dan anak2mu dirumah ini !!! Mama malu memiliki anak yang tidak tahu diri seperti kamu !!!"

Aku keluar dari kamarku. Ibu mertuaku langsung memelukku. "Kamu jangan pergi Sharen, biarkan Pras yang pergi. Dia tidak pantas menjadi suamimu. Maafkan mama yg telah gagal mendidik Pras menjadi laki2 yang tahu diri."
Aku hanya menangis dalam diam. Suamiku pun hanya menunduk diam.

Malam itu kami bertiga (aku, ibu mertuaku & suamiku) berdiskusi.
"Baiklah ma, aku tidak akan menikahi Azizah, bila itu hanya akan membuat mama & Sharen tersakiti. Aku sangat menyayangi kalian. Maafkan aku...." suamiku memeluk kami berdua.
Aku lega, kupikir inilah jawaban dari Allah atas diskusi panjang diatas sajadahku di tiap 1/3 malam.

Namun ternyata aku salah.

Esok malamnya ba'da isya, Azizah datang kerumahku bersama kedua orang tuanya.

Pada malam itu aku tahu, ternyata bukan suamiku yg ingin menikahi Azizah, tetapi ayah Azizah yang merupakan teman pengajian suamiku yg meminta suamiku untuk meminang anaknya. Malam itu jelas kutatap wajah Azizah. Azizah, semula kupikir dia adalah gadis belia yg cantik dg segala pesona yg menggairahkan mata lelaki termasuk suamiku, ternyata sangat jauh dari itu. Dia gadis lugu yg selalu menundukkan kepala. Ada keteduhan di wajahnya.

Di malam itu aku tahu, Azizah memiliki miom yang akan segera dioperasi dan dokter mengatakan 90% Azizah tidak akan mampu memberikan keturunan bagi suaminya. Sudah 3 orang pemuda lajang membatalkan khitbahnya setelah mengetahui kondisi Azizah. Entah mengapa ayah Azizah memiliki TRUST pada suamiku.

Kudekati suamiku dan kutanya : "kenapa mas ga pernah cerita ini sebelumnya padaku ?"
Suamiku menjawab : "karena aku tidak mau kamu menganggapnya sebagai modus"
Kudekati ibu mertuaku :"Mama, kumohon terimalah Azizah menjadi bagian dari keluarga kita. Aku ikhlas menerimanya sebagai adik maduku."
Azizah & ibunya nyaris tersungkur di kakiku, namun aku cegah. Kupeluk Azizah dan kukatakan : "Kau akan menjadi saudaraku."
Suamiku terperangah menyaksikan semua itu. "Kamu yakin telah ikhlas dengan keputusanmu sayang ?"
"Iya mas. Nikahi dia. Dia akan menjadi bagian dari keluarga kita." Jawabku mantap.
Suamiku terlihat masih ragu. Aku tersenyum :"aku akan mencabut gugatan ceraiku besok"
Alhamdulillah.... seisi rumah mengucapkan hamdalah.

Dan sudah 1 bulan ini suamiku menikah dengan Azizah. Kami tinggal 1 rumah. Kurasa tak masalah, rumah kami sangat besar.

Tahukah kamu Irene, bisnis suamiku makin pesat. Kini suamiku lebih sering melibatkan aku dalam bisnisnya. Aku yang tadinya hanya dirumah mengurus rumah, kini lebih sering bersama suami untuk menangani bisnis. Anak-anakku di rumah bersama ummi Azizah (begitulah mereka memanggilnya).

Disaat tetangga kami harus membayar 5jt - 6jt untuk seorang baby sitter, anak2ku justru dibimbing oleh seorang hafidzah.
Tahukah Irene, anakku yg pertama sudah hafal 1 juz dalam 1 bulan selama ada Azizah. Setiap malam mereka mengaji dibimbing oleh umminya. Bayangkan bila suatu saat Arjunaku menjadi tahfidz melalui pendidikan dari dalam rumah kami sendiri.

"Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yg kau dustakan."

Irene, terima kasih telah menjadi sahabatku di dunia dan di akherat. Andai saat itu kuturuti amarahku meneruskan gugatan cerai pada suamiku, aku pasti tidak akan pernah merasakan kebahagiaan ini.

Ini pelajaran poligami yg langsung Allah ajarkan padaku. Selama ini aku berpikir poligami adalah syari'at yg tidak paham pada perasaan wanita. Karena aku tidak pernah bisa menerima saat isteri sedang sakit suami justru berpoligami, seakan nafsu lelaki lebih pantas untuk dilindungi. Namun ternyata kini Allah justru memilihku menjadi orang yang menjalankan poligami sebagai solusi. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib gadis seperti Azizah bila tidak ada syari'at poligami. Haruskah menjalani kesendirian dalam hidupnya hanya karena vonis dokter tidak mampu memberikan keturunan ?

Semula kupikir ini hukuman Allah bagiku. Namun ternyata Allah sedang menyanjungku.
Irene, sudah dulu yaaa suatu saat kau harus mengenal Azizahku 😉
Kumohon do'akan kami agar selalu menjadi keluarga yg sakinah mawadah warohmah. Kumohon juga, do'akan Azizahku agar Allah berkenan menyembuhkan miomnya sehingga tidak perlu menjalani operasi dan ia bisa memberikan keturunan untuk suamiku. Aamiin.
Bulan depan kami bertiga akan umroh untuk meminta kesembuhan bagi Azizah. Do'akan kami yaaa....

Wassalamualaikum wr wb
Theresia Sharen Magdalena

Poligami tetaplah syari'at yang benar. Bila banyak kasus poligami yg justru menghancurkan rumah tangga, ini karena pelakunya yang gagal paham pada syari'at.
Wahai suami. Kalian memang memiliki hak untuk berpoligami. Namun hak ini tidak lantas digunakan suka2 kalian dan sesuai hawa nafsu kalian. Berdiskusilah pada Allah, apa maksud Allah mempertemukanmu dengan wanita lain. Bukan langsung menggunakan hak veto mu dengan ke-sok tahuanmu dan lantang menggunakan dalil2 dg berkata : "Ini syari'at yang dihalalkan Allah dan kau isteri harus menerimanya. Bila tidak bersedia menerima artinya kalian telah mengingkari salah satu syari'at Allah !"
Wahai isteri, wanita dengan segala rasa, janganlah cepat meradang saat mendengar kata poligami. Jangan berdebat sesuai nafsumu. Cintailah Allah lebih dari kau mencintai suamimu. Ingatlah syari'at Allah tidak pernah salah. Poligami bukanlah kenikmatan tambahan bagi laki2, namun tambahan tanggung jawab bagi laki2.
Wahai para suami dan para isteri, libatkan selalu Allah dalam setiap galaumu. Sehingga kita terhindar dari sikap gagal paham yang sok tahu ( #SelfReminder )
Untukmu Theresia Sharen Magdalena. Kau bukan hanya rupawan, namun hatimu juga sangat menawan. Kau laksana Ibrahim yang menerima perintah Allah untuk menyembelih anak sulungnya dengan ikhlas.
Sami'na wa ato'na.
May you're one of the best whoman in heaven.
Mohon do'a untuk Sharen sekeluarga dan mohon do'a untuk kesembuhan Azizah.
Wassalam



Behind the scene kisah Sharen.

● Sebenarnya suami Sharen sudah menolak permintaan ayah Azizah dan sudah menceritakan 10 th perjuangan isterinya.

● Seperti halnya Allah yg mengijinkan penyakit menjijikkan diderita oleh nabi Ayub, maka Allah juga ijinkan penyakit jiwa hadir dalam diri Pras (suami Sharen)

● Ketahuilah saat 1 minggu pertama pernikahan Pras dg Azizah, Pras tidak mau meniduri Azizah. Ada rasa tidak tega dg Sharen.

● Justru Sharen yg memberi pengertian : "Janganlah kita berbuat dzolim pada Azizah. Tidak ada wanita yg ingin tertolak seperti Azizah. Siapalah kita sehingga merasa pantas berbuat demikian pada Azizah hanya karena ia dinyatakan akan mandul oleh penyakitnya."

● Sharen teringat saat dulu kami (saya & Sharen) pernah ikut baksos alm. Romo Mangun Wijaya (seorang Pastor Katolik) ia ingat sepenggal kalimat Romo Mangun.
"Mengapa kita tidak belikan pakaian baru untuk anak2 yatim ? Memangnya siapa kita, sehingga merasa pantas memberikan pakaian bekas bagi mereka ? Apakah hanya karena mereka anak2 yatim sehingga mereka kita anggap pantas untuk memakai pakaian bekas ? Bila kita saja sudah tidak mau memakainya, mengapa harus mereka yg memakainya ?

● Sama halnya saat kita memberi makanan pada tetangga, bukan karena sisa kebanyakan daripada kebuang maka kita berikan pada mereka. Namun karena makanan itu enak maka kita berbagi. Bila kita saja tidak mau makan mengapa harus tetangga kita yg makan ?

● Kembali lagi pada keluarga Sharen. Pras ternyata bukanlah laki2 tega. Malam itu saat keluarga Azizah berkunjung ke rumah mereka (Sharen & Pras) dia mengatakan : "Sejujurnya dia tidak pernah berniat poligami,Sharen sudah lebih dari cukup bagi hidupnya. Dia mohon maaf bila nanti dia dirasa tidak adil diluar kesanggupannya, karena bukan maksud Pras untuk mendzolimi Azizah."

● Azizah pun wanita hebat dan bermartabat. Dia paham se-paham2nya dengan kondisi ini.

● "Mengapa Allah meminta Ibrahim untuk menyembelih Ismail ? Mengapa Allah tidak meminta Ibrahim mengajari anaknya ilmu bela diri atau kesaktian ? Bukankah itu lebih baik dalam pandangan mata manusia ? Adakah sunah untuk menyembelih anak ?"

● Sudut pandang manusia masih terlalu sempit bila dibandingkan dg sudut pandang Allah.

● Bila kisah Sharen selalu kita hubungkan dg logika dan rasa, rasanya kita tidak akan bisa menemukan ibrohnya 😊

● Perintah Allah hanya bisa didengar melalui hati yang bersih bukan melalui logika yang congkak 😊
Mohon do'a bagi keluarga poligami ini agar tetap selalu istiqomah. Aamiin.

HANYA BUTUH TAAT DAN ISTIQOMAH

(Nama & tempat dirahasiakan, agar tidak menjadi riya) Dulu saat saya jadi wanita karier, seolah tidak masalah sedikit-sedikit nabra...

Postingan Populer