Senin, 08 Oktober 2018

JANGAN-JANGAN KITALAH TERDAKWA YANG SESUNGGUHNYA

Postingan saya kali ini sepertinya tidak akan disukai banyak orang. Lewati saja bila anda tidak sependapat dan tidak menyukainya. Saya sedang tidak ingin berdebat.

Hari itu saya mendatangi salah satu guru saya. Bagi saya belajar agama memang harus dengan banyak guru. Saya bertanya pada beliau tentang bencana yang akhir-akhir ini terjadi beruntun di negeri ini. Karena usia beliau sudah sepuh maka saya memanggilnya "kiyai"

"Kiyai, bagaimana dalam pandangan Islam tentang bencana alam yang akhir-akhir ini sering terjadi di negeri ini. Banyak yang mengatakan semua ini azab dan mengaitkannya dengan pelaku musyrik, perzinahan dan penyimpangan seksual. Bagaimana menurut kiyai ?"

Pak kiyai menghela nafas sebentar sebelum akhirnya berbicara dengan kepala tertunduk. Raut wajah sedih tak dapat beliau sembunyikan.

"Apakah kalian siap mendengar apa yang akan saya katakan ini ?"

Kami yang duduk disitu saling berpandangan. Dengan lirih dan tidak kompak, kami menjawab hampir bersamaan.

"Inshaa Allah siap kiyai."

Kembali pak kiyai menghela nafas.

"Bila bencana dikaitkan dengan azab, apa yang kalian sebutkan itu benar turut mengundang kemarahan Allah sehingga Allah datangkan azab. Tapi jangan berhenti sampai disitu. Bila memang dikatakan azab maka terdakwanya bukan hanya mereka pelaku musyrik, pelaku penyimpangan sexual dan pelaku zina. Bisa jadi kita adalah terdakwa juga yang turut berkontribusi memancing kemarahan Allah."

Pak kiyai berhenti sebentar menatap kami satu persatu. Wajah kami masih tanda tanya menunggu kelanjutan kata-katanya.

"Mari sejenak kita tengok sejarah. Azab, mushibah, dan bala dalam Alquran memang ada.
1)      Umat Nabi Nuh yang keras kepala karena menyembah selain Allah (QS al-Najm/53:52) (QS Hud/11: 25-26), dihancurkan dengan banjir besar dan mungkin gelombang tsunami pertama dalam sejarah umat manusia (QS Hud/11:40);
2)      Umat Nabi Syu’aib yang penuh dengan korupsi dan kecurangan (QS al-A’raf/7:85; QS Hud/11:84-85) dihancurkan dengan gempa yang menggelegar dan mematikan (QS Hud/11/94);
3)      Umat Nabi Shaleh yang kufur dan dilanda hedonisme dan cinta dunia yang berlebihan (QS Al-Syu’ara’/26:146-149) dimusnahkan dengan keganasan virus yang mewabah dan gempa (QS Hud/11:67-68).
4)      Umat Nabi Luth yang dilanda kemaksiatan dan penyimpangan seksual (QS.Hud/11:78-79) dihancurkan dengan gempa bumi dahsyat (QS Hud/11:82);
5)      Penguasa Yaman, Raja Abraha, yang berusaha mengambil alih Ka’bah sebagai bagian dari ambisinya untuk memonopoli segala sumber ekonomi, juga dihancurkan dengan cara mengenaskan sebagaimana dilukiskan dalam surah Al-Fil (QS al-Fil/105:1-5).

Kita hanya mengaitkan bencana yang terjadi pada peristiwa nabi Nuh dan nabi Luth. Kita lupa bahwa azab juga Allah berikan pada zaman nabi Syu'aib, nabi Shaleh dan penguasa Yaman.
Pada jaman nabi Nuh prosentase dosa terbesar adalah pelaku kemusyrikan. Pada jaman nabi Luth prosentase dosa terbesar adalah pelaku penyimpangan seksual dan perzinahan. Pada zaman nabi Syu'aib, nabi Shaleh dan Penguasa Yaman prosentase dosa terbesar adalah kaum hedonisme pecinta harta dunia.
Sekarang jujurlah, mari kita buat prosentase di jaman sekarang ini. Mari kita kelompokkan beberapa dosa berikut :
1. Pelaku musyrik
2. Pelaku penyimpangan seksual
3. Pelaku zina : pelacuran dan perselingkuhan
4. Pelaku riba


Mari mulai lihat sekeliling kita masing-masing. Ada berapa KK di komplek kalian masing-masing ? (Saya mulai membayangkan di komplek perumahan saya ada sekitar 1000 KK)

Dari sekian KK (1000 KK di komplek saya), ada berapa persen pelaku musyrik ? (Dalam hati saya menjawab, tidak ada, entah kalo yang tidak saya tahu)

Dari sekian KK (1000 KK dikomplek saya), ada berapa persen pelaku penyimpangan seksual ? (Dalam hati saya menjawab, belum pernah tahu)

Dari sekian KK (1000 KK kalo dikomplek saya), ada berapa persen pelaku zina ? (Dalam hati saya menjawab, lokalisasi pelacuran tidak ada, tidak ada diskotik, tidak ada PUB, perselingkuhanpun saya rasa tidak lebih dari 10%)

Dari sekian KK (1000 KK kalo dikomplek saya), ada berapa persen pelaku riba ? Untuk pertanyaan yang satu ini gantian saya yang menunduk. Tidak berani menjawab walau hanya dalam hati.

Berarti dosa mana yang berkontribusi paling besar mengundang bencana ? Bila bencana itu dikaitkan dengan azab ?

Pak kiyai kembali melanjutkan.

"Manusia itu curang pada Allah ! Berani menggali lubang riba begitu banyak, namun hanya menutupnya dengan secuil sedekah. Melalui bencana ini Allah ingin bicara :
Lihatlah ! Rumah yang kalian cicil bertahun-tahun dengan cara riba, mampu AKU luluh lantakkan dalam sekejab !
Lihatlah ! Mobil mewah yang kalian pikir mampu menaikkan gengsi kalian dimata manusia, KU buat tidak berkutik saat kuperintah laut untuk menggulung bumiKU ! (Karena memang saat tsunami kita harus keluar dari dalam mobil).

Harta yang selama ini kalian kumpulkan, dunia yang selama ini kalian kejar tidak mampu kalian gunakan untuk berlindung. Janganlah dulu menuding kearah sana ! Janganlah dulu menuding kearah mereka ! Jangan-jangan kitalah terdakwa yang sesungguhnya.

Susah payah kutahan emosiku, tangisku, mataku berkaca-kaca. Lirih kukatakan : "Kiyai sungguh mengerikan yang antum katakan."

"Itulah sebabnya dari mula kutanyakan, apakah kalian siap mendengar jawabanku ?"


Banten, 8 Oktober 2018
Irene Radjiman


Rabu, 26 September 2018

LAFADZ SYAHADAT SEORANG KAFIR DI PENGHUJUNG MAUT


9 April 1991 (minggu ketiga bulan Ramadhan), pukul 07:00 WIB di RSU Abdoel Moeloek Tanjung Karang. Didalam ruang ICU, ia sedang menjadi seorang pesakitan. Dia telah menjajaki berbagai rumah sakit untuk terus berjuang bersama kanker payudara yang sudah berhasil membuat sebelah payudaranya terangkat. Dengan ditemani oleh suami dan puteri sulungnya, sudah dua pekan ia menjadi penghuni ruangan dengan berbagai alat medis dan aroma obat yang sangat menyengat. Ah itu semua sudah sangat akrab dengan dirinya.

Kemarin saat dokter memberikan hasil lab pada puteri sulungnya, sang dokter mengatakan : “Ibu sudah tidak memiliki pantangan makanan apapun. Berikan apapun yang ingin beliau makan.”
“Apakah itu artinya ibu saya sudah sembuh dokter ?” tanya sang puteri sulung. Dokter hanya menghela nafas : “Saya selaku team medis hanya berusaha, kesembuhan milik Tuhan.” begitu ujarnya sambil tersenyum datar dan pergi. Sang puteri sulung yang juga seorang tenaga medis, bisa membaca hasil dari lab tersebut. Namun ia tetap menguatkan dalam hati bahwa ada zat yang maha ajaib dengan segala kemukjizatanNYA bila berkehendak. Walau disudut matanya menggenang cairan bening, melihat sesosok wanita yang ia panggil ibu masih tergolek lemah diatas ranjang rumah sakit. Teringat dalam ingatannya beberapa bulan yang lalu, saat datang keluarga calon suaminya untuk melamar dia pada orang tuanya. Ia sempat mendengar sang ibu yang kini tergolek diranjang itu berusaha meyakinkan pada ayahnya bahwa calon menantu adalah pria bertanggung jawab.

“Iya bu, ayah tahu dia laki-laki bertanggung jawab, tapi ayah ini majelis gereja, apa kata orang gereja kalau kita memiliki menantu Islam ?”
“Lusi yang akan menjalani yah, sudahlah Islam ataupun Katolik yang penting Lusi bahagia. Dulu kan aku juga dari keluarga Islam.”
“Tapi kan aku tidak memaksamu untuk masuk Katolik !”
“Iyaaa…. Tapi dalam Islam, menikah dengan bapak secara Katolik sama saja menjadikan aku Katolik.”
“Sudahlah bu, kita nggak lagi bahas diri kita, tapi kita lagi bahas Lusi !”
“Iyaaa… biarkan Lusi hidup dengan pilihannya. Ibu mau Lusi bahagia !”
“Bagaimana kalau nanti Lusi malah jadi Islam ?”
“Sama saja toh ? dulu juga aku Islam sekarang jadi Katolik ?”
“Ya beda bu… dalam Yesus ada keselamatan, dalam Islam tidak !”
“Ya sudah begini saja. Bukankah di Katolik ada pernikahan dispensasi yang bisa menikahkan pasangan yang berbeda agama ? kita minta Lusi menikah dispensasi di gereja.” Akhirnya ayah setuju dengan usulan ibu. Lamaranpun berlangsung dengan lancar. Puteri sulung bahagia, namun kebahagiaan itu harus sejenak di interupsi oleh kondisi ibunya yang makin lama makin memburuk. Keluarga calon suami tinggal di Tanjung Karang, sering datang menjenguk ibunya yang sedang sakit. Karena mereka selalu datang dengan menggunakan busana muslim, suster dan dokter di rumah sakit itu mengira bahwa mereka adalah keluarga muslim. Ah biarlah.

Diranjang sang bunda melihat ada sesosok entahlah siapa dia seolah menaruh sebuah layar didepan wajahnya. Dengan suara lemah ia berusaha memanggil puteri sulungnya.
“Lus… siapa dia ?”
“Siapa bu ?”
“Itu dia kasih layar seperti mau setel sesuatu.”
“Yang mana ?” sang anak bingung dengan yang ditunjuk oleh ibunya. Dia sama sekali tidak melihat apapun. Namun sang bunda tiba-tiba terdiam. Ada tetesan-tetesan bening mengalir di sudut matanya.
“Itu saat dulu waktu kecil ibu belajar mengaji dengan teman-teman.” Sang puteri sulung hanya mendengarkan saja apa yang dikatakan ibunya.
“Itu dulu waktu ibu lulus dari akper panti rapih.”
“Itu dulu pertama kalinya ibu pulang dan ngobatin simbahmu.”
“Itu dulu waktu pertama kali ibu menolong orang melahirkan. Mereka sangat miskin, ibu nggak tega bicara soal bayaran.”
“Itu dulu waktu ibu menikah dengan ayahmu.”
“Itu saat ibu bikin pelatihan untuk dukun-dukun beranak didesa.”
“Masya Allah… itu juga ada waktu ibu hujan-hujan tengah malam, dijemput pakai sepeda tolong orang melahirkan di desa yang dekat hutan itu !” sang anak sebenarnya sungguh bingung mendengarkan ibunya meracau sendiri. Namun tetap ia dengarkan.
“Itu orang yang rumahnya kebakaran dan ibu tampung di rumah kita ! lihat kan Lus ?” Sang anak tetap tidak bisa menjawab. Tangannya terus menggenggam tangan ibunya, air matanya makin deras mengalir. “Ada apa dengan ibuku ya Tuhan !”
“Itu anak bu Imam yang kecelakaan dan kita rawat di rumah kita.”
“Itu orang-orang yang dulu pernah ibu gratiskan waktu melahirkan. Ya Allah anak-anaknya sudah mulai besar !”
“Itu masjid ! iyaa… ibu pernah kasih uang untuk pembangunan masjid itu !”
“Itu orang-orang yang pernah ibu bebaskan hutangnya.” Ibunya terdiam dari meracau.

Si puteri sulung melihat ayahnya mendekat ke ranjang ibunya. Sang ibu gelisah sambil berteriak : “Pergi ! pergi ! ayah pergi saja sana !”
“Bu… tenang bu… ayah hanya mau lihat kondisi ibu.” Si puteri sulung berusaha menenangkan ibunya. Tapi sang ibu terus saja berteriak mengusir sang ayah. Hingga akhirnya, ibu minta makan. Mau makan nasi padang katanya. Akhirnya ayah mengalah. Pergi untuk membeli nasi padang yang diminta ibu. Baru beberapa menit ayah pergi, ibu kembali meracau.
“Lus… itu rumah siapa ? halamannya bagus sekali !”
“Yang mana bu ?” lagi-lagi puteri sulungnya dibuat bingung. Tiba-tiba si puteri sulung melihat nafas ibunya terpatah-patah, bola matanya mendelik melihat keatas. Si puteri sulung panik. Ia berusaha mengejar ayahnya, namun ternyata sang ayah sudah tidak terlihat. Ia berlari lagi ke kamar ibunya. Suster berhijab lewat.
“Suster ! Tolong ibu saya suster !” sang suster bergegas masuk ke kamar ibunya. Ibunya masih dalam kondisi tadi. Nafasnya tersengal patah-patah, bola matanya mendelik keatas. Suster mendekati ibu dan menuntunnya mengucapkan : “La Illahaillallah” masya Allah… sang ibu mengikutinya dengan sangat lancar, kemudian nafasnya berhenti. Suster menutup matanya sambil berucap : “Innalillahi wa’inaillaihi roji’un.”

Cerita diatas langsung dituturkan oleh kakak sulung saya. Saat kutanyakan pada seorang kiyai : “Bagaimana mungkin seorang yang sempat Islam, kemudian menjadi kafir, Allah perkenankan untuk mengambil kembali ke-Islamannya justru pada saat sakaratul maut ? bukankah banyak orang, bahkan tidak semua muslim mampu melafadzkan syahadat pada saat sakratul mautnya ?” Pak kiyai hanya menjawab dengan cerita ini :

Pada suatu hari, datanglah iblis menghadap Nabi Yahya as dan berkata sebagaimana berikut terangkum dalam dialog.

Iblis : "Wahai Nabi Yahya, aku ingin memberimu nasehat."
Nabi Yahya as : "Kamu bohong. Kamu jangan menasehati aku, tetapi beritahukan kepadaku tentang anak cucu Nabi Adam as."
Iblis : "Anak cucu Adam itu menurut asal ada tiga golongan, yaitu:
1. Golongan yang paling keras terhadap golongan kami. Bila aku menemukan kesempatan untuk menggodanya, maka kesempatan itu tidak bisa aku manfaatkan sehingga kami tidak memperoleh apa-apa dari mereka.
2. Golongan yang kami kuasai. Mereka ini ditangan kami tidak ubahnya seperti bola di tangan para anak-anak kami yang kapan saja bisa dimainkan. Kami puas atas mereka ini.
3. Golongan orang-orang seperti Anda. Mereka ini oleh Allah SWT dilindungi sehingga aku tidak dapat menembus mereka.
Nabi Yahya as : "Kalau begitu, apakah kamu mampu menggoda aku?"
Iblis : "Tidak. Tapi hanya sekali saja aku mampu menggodamu. Yaitu ketika menghadapi makanan, lalu makan sekenyang-kenyangnya sampai tertidur pada waktu itu. Saat itu kamu tidak melakukan shalat malam seperti pada malam-malam sebelumnya." (riwayat dari Abdullah bin Al Imam Ahmad Hambal dari Tsabit Al Bannani). Karena Iblis tidak mampu menggoda Nabi Yahya as, maka iblis pun pergi untuk kembali nanti. Iblis berfikir, mungkin di kesempatan lain bisa menggoda NabiYahya as.

Dilain kesempatan, Iblis mendatangi Nabi Yahya as lagi, dan kali ini iblis tengah memperlihatkan dirinya dengan beberapa barang yang tergantung, dan terjadilah dialog lagi sebagaimana berikut.
Nabi Yahya as : "Apakah barang-barang yang tergantung itu, wahai Iblis laknatullah?"
Iblis : "Ini adalah beberapa syahwat yang aku dapat dari anak Adam.
Nabi Yahya as : "Apakah aku juga ada (syahwat)?"
Iblis : "Kadang-kadang kamu kebanyakan makan (maksudnya sekali itu saja hingga Beliau tertidur), lalu kamu berat untuk menjalankan shalat dan dzikir kepada Allah SWT."
Nabi Yahya as : "Apakah ada yang lain?"
Iblis : "Tidak ada. Wallahi tidak ada."
(Ini menunjukkan bahwa para Nabi dan Rasul itu benar-benar dilindungi oleh Allah SWT dari perbuatan dosa).
Nabi Yahya as : "Ketahuilah wahai Iblis, sesungguhnya Allah SWT tidak akan memenuhkan perutku dari berbagai makanan."
Iblis : "Aku rasa demikian. Aku pun juga begitu, aku tidak akan memberi nasehat kepada anak cucu Adam."

Diriwayatkan dari Ibnu Abid Dunya dari Abdullah. Saat itu, Iblis mendatangi Nabi Yahya as ketiga kalinya, dan dialogpun terjadi lagi.
Nabi Yahya as : "Wahai Iblis, tolong beritahu aku apakah yang paling engkau sukai dari manusia? Dan apakah yang paling engkau benci dari manusia."
Iblis : "Orang yang paling aku sukai adalah orang mukmin yang bakhil. Sedangkan orang yang paling aku benci adalah orang kafir tetapi dermawan."
Nabi Yahya as : "Mengapa bisa begitu?"
Iblis : "Orang mukmin yang bakhil itu menurut aku sudah cukup (untuk digoda amalnya karena kecintaannya pada dunia dan selalu berhitung harta pada Allah). Tetapi kalau orang kafir yang suka bersedekah, aku khawatir kalau kedermawananya itu diketahui oleh Allah SWT lalu diterima amalnya, itu berarti aku tidak punya teman di neraka nanti."
Kemudian Iblis pergi dari hadapan Nabi Yahya as sambil berkata, "Kalau kamu bukan Yahya UtusanNya, tentu aku tidak akan memberitahu tentang masalah ini."

Sebelum menutup cerita ini pak kiyai berkata : “Allah itu maha adil dan maha teliti dalam berhitung. Allah juga maha pemurah. Allah akan tetap hitung setiap sedekah yang diberikan untuk hamba-hamba Allah dan digunakan dijalan Allah walau diberikan dari tangan seorang kafir ataupun tangan seorang pezinah sekalipun. Maka bila kau menyayangi dirimu dan hartamu, jangan pernah berhitung harta pada Allah ! Jangan pernah berhitung ilmu pada Allah ! Jangan pernah berhitung waktu pada Allah ! sebab Allah mampu mengganti semua itu dengan ampunan yang lebih luas dari samudera dunia !”

Aku mulai merenung. Ibuku yang seorang kafir, dapat kembali pada Islam justru disaat berhadapan dengan sakratul maut karena sedekahnya. Sungguh disayangkan bila masih ada orang mukmin yang sudah lakasanakan sholat, puasa, mengaji, namun masih berat untuk berzakat dan ber-infaq. Masih berhitung : “Ah sudahlah, cukup sedekah di masjid dekat rumah saja. Ah sudahlah, cukup sedekah ke anak yatim dekat rumah saja. Mengapa mencukupkan satu pintu saja untuk sedekah ? tidakkah ingin ada banyak tangan yang bisa menarikmu ke surga nanti ?

Menulis sebagai bahan renungan diri.

Sabtu, 04 Agustus 2018

APA YANG SUDAH KAU SEMBELIH

Tulisan dibawah ini adalah hasil sharing seorang ibu muda tentang hijrahnya meninggalkan riba.

Aku seorang wanita karier dengan posisi manager disebuah perusahaan swasta di Indonesia. Suamiku seorang wiraswasta. Dia hobby otomotif, maka usaha yang ia geluti selalu dibidang otomotif. Dengan posisi bagus di perusahaan bagus, penghasilanku bisa mencapai 15juta perbulan. Wow sangat fantastis ! Mungkin begitu bagi sebagian orang. Bila digabung dengan suamiku bisa mencapai 20 juta. Ya penghasilanku saat itu 3x lipat lebih besar dari yang dihasilkan suamiku.

Menurut matematika manusia seharusnya 20juta perbulan itu lebih dari cukup. Tapi ternyata tidak ! Hidup kami masih mengontrak, walau kami mengontrak di perumahan elite.

Karena merasa gajiku lebih besar dari suami, aku merasa tidak perlu pakai uang suami untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Alhasil aku tidak pernah meminta uang belanja pada suami. Aku bangga dengan diriku sendiri. Tidak sadar menjadi jumawa, tidak sadar merasa lebih kuat dari laki-laki yang seharusnya kududukkan dengan posisi khalifah dalam rumah tanggaku. Setiap kali bertengkar, dengan sombong aku selalu lantang berkata : "Ceraikan saja aku ! Aku bisa hidup walau tanpa kamu !"

Alhamdulillah Allah masih lindungi rumah tangga kami. Suamiku selalu tampil mengalah, entah apa yang membuatnya berlaku seperti itu. Dia biarkan aku bangga selalu keluar sebagai pemenang. Bukannya sadar, aku justru makin berpikir suamiku takut kehilangan aku sebab dia lebih membutuhkanku. Astaghfirullah al adziim.

Suatu ketika kukatakan pada suamiku : "Kita harus ambil rumah yah, kita harus paksakan ! Karena kalo nggak kita nggak akan punya rumah !" Suamiku setuju. Rumah tersebut atas namaku, seluruh persyaratan administrasi menggunakan dokumentasiku. Dengan posisi manager dan penghasilan 2 digit urusan KPR sangat mudah. Aku makin merasa bangga. Aku bisa punya rumah atas namaku sendiri !"

Dengan DP 80juta dan angsuran 3jt/bulan syah sudah akad kredit itu ! Saat itu kilau dunia amat indah didepan mataku. Aku ingin mengambilnya semua.

"Yah, sepertinya kita perlu renewal mobil deh. Kalo nggak nyicil, kita nggak akan bisa punya rumah dan mobil !" Begitu usulku suatu hari. Lagi-lagi suamiku menyetujuinya. Tanpa menunda kami segera hunting mobil. Avanza terbaru gress ada ditangan. Prosesnya cepet, murah (begitu pikiran kami dulu), DP 10jt, cicilan 4jt. Gajiku sendiri masih mencukupi lah.

Satu tahun setelah akad kredit rumah dan mobil, perusahaanku collaps pailit. Aku masih bisa ambil jamsostek paling tidak cukup untuk menalangi kebutuhan hidup bulan depan. Aku mulai berhitung, ada kekhawatiran luar biasa dalam diriku. 15 jutaku hilang ! Aku harus hidup dengan uang 5 juta yang dihasilkan suamiku. Itupun masih harus dipotong dengan cicilan rumah 3 juta perbulan. Sisa 2 juta. Trus mau bayar cicilan mobil sebesar 4 juta pakai apa ? Saat itu belum marak taxi online. Duh Gusti... aku benar-benar bingung. Percaya diriku langsung drop. Serasa mimpi buruk. Aku tidak mau miskin ! Aku takut miskin ! Bagaimana aku bisa mendapatkan pekerjaan baru dengan cara cepat ? Lamaran aku sebar, tapi semua hasilnya nihil !

Asistent rumah tangga kami rumahkan. Ya Allah.... aku baru merasakan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga 24 jam harus siaga. Sungguh melelahkan. Terbayang saat dulu dikantor, walau melelahkan masih bisa kongkow-kongkow dengan teman-teman sejawat. Aku depresi, stres, makin sensitif. Bila dikritik atau ditegur suami karena ada yang kurang pas dari cara kerjaku, aku langsung nyolot : "Mentang-mentang bunda udah nggak kerja, nggak punya penghasilan, ayah jadi ngerasa bisa seenaknya ngatur bunda !" (Lho padahal kan salah satu tugas suami mengatur isterinya ya ?)

Suatu saat kami diajak oleh teman suami untuk datang ke sebuah pengajian. Di pengajian itu membahas soal riba. Ustad menjelaskan, apa yang dimaksud riba, seperti apa itu kegiatan riba, siapa saja yang terkena dosa riba bahkan ustadz pun menjelaskan dosa riba paling ringan itu sama seperti berzinah dengan ibu kandung. Dan yang lebih mengerikan adalah saat ustadz tersebut membacakan :

“Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 275-279).

Begitu pulang dari pengajian itu, aku masih saja tetap ngeyel : "itu ustadz cuma bisa ngomong. Kalo bukan dari KPR gimana caranya mau dapet rumah ? Kalo bukan dari leasing gimana caranya bisa punya mobil ? Gampang tinggal dakwah, tapi nggak ngerti kebutuhan hidup !" Begitulah aku bersungut-sungut waktu itu.

Tapi rupanya itu adalah awal. Aku mulai penasaran, itu ustadz pasti Islam garis keras, cuma mau bikin susah orang beragama aja. Nggak boleh KPR, nggak boleh kredit kendaraan ke leasing, nggak boleh pinjam uang ke BANK. Lagian kayak dia mau minjemin duit aja, nggak boleh ini, nggak boleh itu.

Suatu hari ada tawaran pinjaman uang dalam jumlah yang cukup besar mulai dari 10juta hingga 500 juta. Rupanya karena dalam 1 th namaku tercatat bagus tidak pernah terlambat mencicil rumah dan mobil, maka ada dari pihak BANK tertentu menawari pinjaman. Sungguh tawaran dunia yang menggiurkan dan tidak patut dilewatkan. Ini kesempatan ! Pikirku waktu itu. Keserakahan sudah menguasai aku dan suamiku. Bukannya tersadar, tapi justru malah mau menambah hutang.

"Gimana kalau kita ambil saja bun, buat tambahan modal ayah ?"
"Tapi ayah yakin ya bisa nutupin cicilannya ?"
"Inshaa Allah, bismillah ya bun." Ya Allah sungguh tidak tahu diri kami waktu itu, mau menambah riba masih pakai bismillah. Inilah orang-orang yang tidak tahu malu.

Deal ! Uang 150 juta ditangan ! 3 bulan pertama kami masih bisa mencicil KPR, mobil dan bayar hutang BANK. Namun setelah itu Allah sumbat keran rejeki kami ! Tidak ada yang membeli motor ataupun mobil yang dijual oleh suamiku. Semua uang sudah berubah menjadi barang. Kami membaca banyak motivasi bahwa bersedekah dapat melapangkan kita dari kesempitan. Kami mulai melakukannya, memang agak mending, satu dua mulai ada pembeli. Aku mulai mengikuti banyak MLM berharap akan dapat bonus yang besar dari usahaku. Banyak training online untuk meledakkan omset aku ikuti. Tapi tetap saja ibarat keran aliran airnya bukan mengucur, tapi hanya menetes. Apa yang salah ini ? Padahal seluruh arahan teknis dari mentor sudah aku lakukan.

Hingga suatu saat mobil kami ditarik leasing karena sudah lebih dari 4 bulan tidak mampu kami bayar. Menyusul surat dari BANK mengancam akan menyegel rumah karena sudah 3 bulan kami belum bayar cicilan. Setiap hari, pihak BANK yang dulu memberi kami pinjaman 150 juta selalu datang menagih ke rumah, sungguh sangat mengganggu. Secara psikologis anak-anakku juga menjadi minder. Hingga suatu ketika Allah menuntun langkah kaki kami pada seorang kiyai.

"Keserakahan dunia telah menyengsarakan kalian ! Kilau dunia telah membutakan kalian ! Kalian sedang diperangi oleh Allah dan RasulNYA. Menyerahlah dan bertaubat ! Karena kalian tidak akan menang. Kembalikan keluarga kalian pada fungsinya. Jangan dibalik ! Allah mewajibkan suami menjadi tulang punggung, menafkahi keluarga adalah wajib baginya, sewajib ia melaksanakan sholat ! Dan kewajiban isteri adalah mematuhi suaminya ! Selama ini kalian telah membolak balik syari'at Allah sekehendak nafsu kalian ! Tahukah kalian Allah SWT berfirman :

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik”.[Al Baqarah : 233].

Jabir mengisahkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Bertaqwalah kalian dalam masalah wanita. Sesungguhnya mereka ibarat tawanan di sisi kalian. Kalian ambil mereka dengan amanah Allah dan kalian halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Mereka memiliki hak untuk mendapatkan rezeki dan pakaian dari kalian”.

Pak kiyai menambahkan : "ingatlah 1 hal. Sebanyak apapun yang dihasilkan seorang isteri, harta itu hanya Allah cukupkan untuk dirinya sendiri. Seberapun jumlahnya walau terhitung sedikit yang dihasilkan seorang suami, Allah akan cukupkan untuk dirinya dan keluarganya. Ini sudah hukumnya !"

"Lantas apa yang harus kami lakukan kiyai ?"
"Selesaikan riba dengan segera ! Setelah itu lakukan sholat taubat !"
"Bagaimana caranya ? Kini kami tidak punya uang."
"Apa yang bisa kalian jual untuk menyelesaikan semuanya ?"
"Rumah, kiyai. Kini kami tinggal memiliki rumah."
"Jual rumah itu ! Menyerahlah ! Tinggalkan riba !"
"Bila rumah itu kami jual, dimana kami tinggal nanti ?"
"Serahkan pada Allah, Allah akan mencarikannya untuk kalian. Bumi ini milik Allah !"

Aku dan suamiku pulang dengan gamang. Harga pasaran rumah dikomplek kami kisaran 600 juta hingga 700 juta. Kami mulai pasang plang untuk jual rumah dengan harga sesuai pasaran. Namun setiap orang yang datang melihat rumah kami selalu menawar kisaran harga 400 juta - 450 juta. Aku mulai putus asa. Antara rela nggak rela. Ikhlas nggak ikhlas. Iblis mulai membisikkan hal-hal buruk di telingaku : "Lihatlah, saat kau ingin patuh pada Tuhanmu, ternyata Tuhanmu justru menyulitkanmu. Bila kau lepas dengan harga dibawah pasaran, uang itu hanya cukup untuk membayar hutang kalian. Lantas bagaimana cara kalian akan membeli rumah lagi. Apakah kalian tidak malu kembali ke rumah kontrakan lagi ?"

Aduh sungguh bisikan iblis membuat aku ragu. Mulai gali lubang tutup lubang untuk membayar cicilan rumah dan cicilan hutang BANK. Kondisi kami tidak makin baik. Kembali kami datang pada pak kiyai. Kami ceritakan lagi semuanya.

"Lepaskan pada penawaran tertinggi yang bersedia membeli cash !"

"Tapi penawaran tertinggi baru sampai 450 juta kiyai. Itupun masih dipotong marketing fee dan pajak. Bila kami lepas segitu kami akan terima bersih sekitar 430 juta. Hutang yang harus kami bayar sekitar 400 juta. Sisa 30 juta, kami tidak akan bisa beli rumah lagi !"


"Itu hitungan matematika kalian. Apakah kalian lebih pintar dari Allah ? Hanya segitu keyakinan kalian pada Allah ? Apakah kalian tidak percaya pada janji Allah, bahwa Allah mampu mendatangkan rizki dari arah yang tidak kalian sangka-sangka dengan satu syarat, hanya akan Allah berikan bagi hambaNYA yang bertaqwa ! Hanya akan Allah berikan bagi hambanya yang memiliki keyakinan penuh padaNYA ! Bukan yang sok pintar berlogika dan lebih yakin pada hitung-hitungannya sendiri. Sekarang terserah kalian. Masalah kalian ini adalah karena terlalu cinta pada dunia ! Saat kalian mengejar dunia, dunia akan berlari sambil tertawa. Saat kalian mengejar akherat, dunia akan berbalik mendekat. Syaratnya hanya 1, miliki nyali untuk taat pada syari'at. Kalian tidak tahu kapan maut akan menjemput. Bayangkan bila esok Allah cukupkan usia kalian, sanggupkah kalian menghadap Allah dengan memikul dosa riba ? Silahkan diulur-ulur, bila kalian siap untuk kekal di neraka. Punya nyalikah kalian ?"

Aku dan suami saling berpandangan. Kami pulang dengan sejuta ketakutan dan kekhawatiran. Sesampainya dirumah suamiku mengatakan :"kita harus sholat taubat bun. Minta ampunan sebesar-besarnya pada Allah atas kengeyelan kita selama ini. Mulai besok kita tekatkan untuk melepas rumah ini seberapapun penawaran tertinggi." Aku mengangguk lemas.

Tidak sampai 1 minggu setelah itu rumah kami laku terjual dengan harga 450 juta. Sesuai hitung-hitungan kami, tinggal tersisa 30 juta ditangan, namun kami sudah bebas riba. Ada rasa sedih saat harus meninggalkan rumah itu. Sejak hari itu kami hidup dirumah kontrakan. Tidak punya rumah, tidak punya kendaraan, tidak punya harta apa-apa yang bisa disombongkan. Dari uang yang tersisa kami gunakan untuk mengontrak rumah dan memulai usaha kuliner. Kami mulai perbaiki ibadah. Kami selalu usahakan sholat 5 waktu jama'ah di masjid. Kami mulai membiasakan diri kami untuk menghidupkan sunnah. Aku mulai membiasakan diri untuk patuh pada suamiku. 6 bulan pertama anakku jatuh sakit. Uang yang tersisa ditangan habis untuk biaya berobat. Hanya tersisa 1 lembar 50rb. Ya Allah...!!! Kami sudah berusaha untuk taqwa, namun masihkah harus menjalani hukumanmu ? Apa yang KAU inginkan ya Allah !!! Jeritan hatiku ditengah malam.

Esok harinya sebelum sholat subuh berjama'ah di masjid terdekat, kulakukan sholat fajar. Selesai sholat subuh berjama'ah hp suamiku berdering.

"Pak, saya baca di OLX bapak ngiklanin mobil truck. Masih ada pak ?"
"Masih pak, datang saja ke lokasi pak, boleh nego di lokasi langsung sama yang punya."
Akhirnya mereka janjian untuk bertemu. Rupanya suamiku membantu temannya memasarkan truck secara online.
"Do'ain trucknya laku ya bun, lumayan ayah bisa dapat komisi 5 juta."
"Aamiin... inshaa Allah yah."


Pukul 07:00 pagi suamiku pergi untuk bertemu dengan pembeli dan langsung ke rumah temannya yang punya truck. Aku mengiringi langkahnya dengan 6 raka'at sholat duha. Hari ini uang kami tinggal tersisa 1 lembar 20 ribu, setelah digunakan untuk belanja tadi pagi sebanyak 30 ribu. Selesai sholat duha, aku mendengar tetangga kontrakanku menjerit-jerit. Aku tergopoh-gopoh datang kesana. Ternyata anaknya yang berusia 2 tahun kejang. Ayahnya sedang tidak ada dirumah. Katanya dari semalam sudah panas tinggi, ayahnya sedang keluar untuk cari pinjaman uang. Tanpa babibu, kuambil motorku, kubonceng dia segera kularikan ke puskesmas. Di puskesmas anaknya sudah tenang. Namun kami harus menebus obat seharga 20rb. Tetanggaku memandangku.

"Mbak maaf, saya sama sekali nggak ada uang. Apa bisa pinjam 20rb ? Nanti kalo suami saya pulang saya ganti."
"Alhamdulillah saya ada ini mbak. Pas 20 ribu. Nggak usah dipikir, yang penting dedeknya sembuh."

Habis sudah 20 ribu semata wayangku. Namun entah mengapa hatiku tetap tenang tidak merasakan gelisah ataupun apa. 30 menit setelah aku sampai dirumah, kudengar suamiku mengucap salam.

"Nih bun. Mohon ridhonya ya, ini rizki ayah hari ini." Suamiku menyerahkan amplop yang cukup tebal padaku. Aku bergetar menerimanya. Kubuka dan kuhitung.
"Masya Allah...7 juta ayah !! Trucknya laku ?"
"Iya alhamdulillah bun, ayah dapat 5 juta dari teman ayah dan 2 juta dari pembelinya."

Masya Allah !!! Aku menangis sujud syukur. Tiba-tiba tetangga kontrakan kami yang tadi anaknya kuantar ke puskesmas datang kerumah kami.

"Maaf mbak, apakah kami bisa pinjam uang 1 juta, kami sama sekali tidak ada uang. Nanti kalau suami saya dapat panggilan mengerjakan proyek lagi akan kami bayar."
Aku langsung menoleh pada suamiku. Suamiku mengngguk. Kuserahkan uang 1 juta pada tetanggaku.
"Nggak usah buat beban mbak, dibayar saja semampunya."
"Mohon maaf ya mbak, dari tadi merepotkan terus. Sebenarnya malu saya."

Begitulah cara kami memulai hidup. Karena belum punya modal banyak, suamiku bekerja serabutan. Berlalu sudah tahun pertama berhijrah. Dari hasil memasarkan produk-produk teman, alhamdulillah setiap hari suamiku mendapat komisi dari barang yang ia pasarkan. Hingga kami mampu membeli mobil CASH. Memang bukan mobil baru, tapi masih tergolong tahun muda. Mobil itu digunakan suamiku untuk usaha rental. Alhamdulillah ada saja yang rental mobil kami. Hingga terkumpul uang kami sekitar 100 juta di tahun ke-4 kami berhijrah.

"Kira-kira ada nggak ya Yah rumah dengan harga dibawah 100 juta ?"
"Inshaa Allah ada. Minta saja pada Allah biar Allah yang pilihkan."

Yang kuminta pada Allah adalah rumah yang mampu lebih mendekatkan kami sekeluarga pada Allah. Pastilah itu rumah terbaik dibumi Allah ini. 2 minggu kemudian kami ditawari rumah sitaan BANK di kota X. Harga pasaran rumah disana masih relatif murah dibandingkan harga pasaran rumah di kota Y tempat kami tinggal sekarang. Awalnya aku ragu. Aku belum familiar dengan kota X. Namun aku dan suami tetap melakukan survey kesana.

"Wah rumahnya sudah banyak yang rusak Yah !" Kataku saat tiba dilokasi. Halaman rumah itu ditumbuhi rumput liar menandakan sudah sangat lama tidak berpenghuni.
"Ini sih ready to renov Yah." Aku menambahkan lagi. Suamiku masih sibuk menelusuri ruangan demi ruangan rumah itu.

"Sabar bun. Nggak masalah kalau harus renov. Kalau mau yang ready to use berarti kita harus sabar menunggu 1 tahun atau 2 tahun lagi." Kemudian suamiku beralih pada orang yang mengantar kami.
"Kurang berapa lagi yang harus dilunasin ke BANK mas ?"
"Kurang lebih sekitar 65 juta pak. Tapi nanti bapak akan saya perkenalkan dengan pihak BANK nya dan akan diberitahu berapa detilnya dan bagaimana prosedurnya. Bila nanti ternyata bapak cocok bapak bisa langsung kasih DP dulu 2 juta, setelah itu kami proses ke BANK."


Kami pulang. Dalam perjalanan masih hunting beberapa rumah yang ditulisi "dijual" memang rumah tadi itu yang paling murah penawarannya.

"Bun, rumah tadi itu statusnya sudah lama tidak ditempati. Inshaa Allah uang yg kita punya cukup untuk melunasi dan merenov rumah itu."
"Kita perlu istikharah yah." Suamiku mengangguk.

Baru 3 hari kami istikharah, pihak marketing menelpon suamiku, mengatakan ada kabar dari BANK pelunasannya cukup 57 juta saja. Kami minta dipertemukan langsung dengan pihak BANK nya. Terjadi tawar menawar DEAL 55 juta. Pelunasan rumah siap diproses. Sungguh aku tidak menyangka prosesnya begitu cepat. Tidak sampai 1 minggu sertifikat sudah ditangan. Allahu akbar. Rumah mulai kami renov. Dari pelunasan hingga renov rumah, keseluruhan kami keluarkan 95 juta ! Masya Allah !

Fa bi ayyi ālā'i Rabbikumā tukażżibān

95 juta ! CASH ! Allah berikan pada kami !! Rumah ready to use. Dimana saat itu setiap orang akan berkata : "Mana ada sekarang rumah ditengah kota dapet harga 200 juta." Tapi kami dapatkan harga dibawah 100 juta. Masya Allah !!

Fa bi ayyi ālā'i Rabbikumā tukażżibān

Saat itu aku bagaikan ada pada masa Ibrahim as, yang berani taat untuk menyembelih putra semata wayangnya dan Allah gantikan dengan seekor domba yang lebih layak untuk disembelih. Allahu akbar !! Ampuni aku yang seringkali meragukan janjiMU ya Allah !! Ampuni aku yang buta bahwa ENGKAU MAHA KAYA !! Ampuni aku yang selalu sok pintar dihadapanMU ! Ampuni aku yang selalu berhitung akan hartaMU !

Ternyata rumah kami yang sekarang dekat dengan mushola. Dekat dengan orang-orang berilmu. Alhamdulillah... lingkungan sehat dan agamis. Allah menjawab do'aku. Inilah rumah terbaik yang Allah berikan pada kami. Rumah yang dekat dengan mushola. Tidak perlu weker untuk bangun subuh. Allah berkenan memilih kami untuk bertetangga denganNYA.

Bagi teman-teman pejuang riba. Riba itu ibarat penyakit yang harus segera disembuhkan. Bila penyakit ini semakin parah, beranilah untuk mengambil tindakan operasi untuk kesembuhan. Sakit memang, sangat sakit bahkan berdarah-darah !! Bertahanlah !! Sampai Allah menaruhmu pada titik terlemah, dimana tidak ada daya untuk membusungkan dada, dimana tidak ada nyali untuk mendongakkan kepala. Namun disaat itulah justru kita sedang berada sangat dekat dengan Allah. Gapai tanganNYA, maka IA akan menarikmu keatas. Rasakan setiap anak tangga yang kau naiki, dimana Allah akan meletakkanmu disana.

Bagi yang sedang bermatematika dengan Allah, dengan selalu berujar :

"Siapa lagi yang mau minjemin uang kalo bukan BANK !"

"Kalo nggak nyicil, nggak akan bisa punya apa-apa !"

Berhentilah untuk sok pintar di hadapan Allah saudaraku.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS Ath-Thalaq : 2-3)
Di tahun ini apakah yang sudah kita kurbankan ? Saat tak mampu berkurban sapi atau kambing, mampukah untuk menyembelih hawa nafsu kita ? Mampukah untuk menyembelih gengsi kita ? Mampukah untuk menyembelih rasa pamer kita ? Mampukah untuk menyembelih....?

Catatan dari seorang hamba yang sangat kapok dengan riba.

🙏 Semoga Bermanfaat 🙏

Jumat, 20 Juli 2018

Berat Badanku Lebih Dari 55 kg Apakah Aku Tidak Sholeha ?

Ramai di sosmed membicarakan bahwa wanita sholeha berat badannya tidak lebih dari 55 kg. Ketawa ajaa sih...
Acuan yang digunakan adalah berat badan Aisyah, ra (salah satu isteri Rasulullah). Berarti isteri Rasulullah bukan hanya Aisyah kan ya ?

Ada suatu riwayat kisah saat Rasulullah menikahi Saudah binti Zam'ah.
Sudah gilakah Muhammad, tuduh sebagian orang Makkah ketika Rasulullah saw menikahi Saudah binti Zam’ah. Pernikahan itu membuat gempar masyarakat Makkah. Bayangkan, meski seorang janda, Saudah bukanlah janda kembang yang menarik. Sebagai janda tua, sama sekali ia tidak menyisakan kecantikan di masa mudanya. Punya anak lagi.

Badannya gemuk, hingga tampak berat jika berjalan. Walau begitu, dia berjiwa periang. Bahkan sering ucapannya menimbulkan gelak tawa orang yang mendengarnya. Tanpa ragu-ragu, Saudah meyakini bahwa apa yang diterima dari Rasulullah suaminya adalah belas kasihan, bukan kemesraan sebagaimana yang diperoleh istri kepada suaminya itu. “Aku telah puas, Rasulullah mengangkat diriku sebagai istri dengan kedudukan semulia ini,” kata Saudah jujur.

Oleh sebab itu, ia menerima apa adanya tentang dirinya sebagai istri Rasulullah. Bahkan giliran untuk dirinya sebagai istri, dengan ikhlas diserahkan untuk ‘Aisyah madunya. Ia sudah merasa puas bisa tinggal di tengah keluarga Nabi, mengurus rumah tangganya, melayani serta membantu putra-putrinya. Ummi mu’miniin ini berusia panjang, dan baru wafat di zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Adakah yang berani meragukan keshalihan Saudah ? 😊

Allah SWT berfirman : "Wanita (istri) shalihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah memelihara mereka." (An-Nisa: 34)



Dan beberapa hadist tentang isteri sholeha :

(1) "Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai." (HR. Ahmad 1/191)

(2) "Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: "Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha." (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257.)

(3) "Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya". (HR. Abu Dawud no. 1417.)
Dipandang menyenangkan ini soal selera. Maka ada yang mengatakan cantik / tampan itu relatif. Ada lho laki-laki yang suka sama perempuan gemuk, katanya lebih empuk hahaha... terlepas dari benar atau salah, soal fisik itu soal selera. Nggak bisa dong memaksakan orang lain seleranya harus sama dengan kita.


Dari ayat Al-Quran dan hadist diatas, sama sekali tidak ada yang tersirat bicara soal berat badan. Mohon maaf tulisan ini bukan untuk mengkritisi dakwah seorang ustadz yang mengatakan wanita sholeha berat badannya tidak lebih dari 55 kg. Tulisan ini adalah murni pendapat saya berdasarkan kisah isteri rasulullah, firman Allah dalam Al-Quran dan hadist shohih.

Saya sih husnudzon saja dengan dakwah tersebut, semoga dakwah tersebut bisa bermanfaat membuat banyak wanita mulai berolah raga. Tapi sebagai seorang wanita, saya sangat paham dengan apa yang dirasakan kaum saya. Tanpa di dakwahi seperti itu, sudah banyak wanita dengan segala macam cara ingin bertubuh kurus. Bahkan ada yang menjalani diet ketat hingga sakit masuk ICU.

Saya jadi ingat dulu saat masih jadi pramugari, saya justru pernah dikomplain oleh chief saya dan terancam grounded (tidak boleh terbang) karena terlalu kurus. Tinggi badan saya 161 cm, berat badan saya 45 kg. Harusnya ini katagori sholeha banget yaaa 😄 tapi dalam dunia pramugari ada yang disebut dengan berat badan proporsional :

Wanita : Tinggi badan - 110 = BB ideal
Pria : Tinggi badan - 105 = BB ideal.

Kalo yang tinggi badannya seperti saya (161 cm) memang idealnya berat badannya 51 - 55 kg. Lha kalo yang tinggi badannya 170 cm trus berat badan maksimal harus 55 kg, artinya cungkring banget dooonnggg.... eh tapi kan ini dunia pramugari yaa... bukan dunianya wanita sholeha hehehe. Just Kidding

Apa mungkin memang sudah masanya, kita hidup pada jaman dimana timbangan berat badan lebih merisaukan dibandingkan timbangan amal. Astaghfirullah.....


Allahualam bishowab

Sabtu, 14 Juli 2018

MENGAPA SHOLAT HARUS MENGGUNAKAN BAHASA ARAB

Bertemu dengan teman lama di Kanada, terlibat dalam sebuah obrolan seru

"Ren, pernah nggak sih tanya sama guru ngaji lu, kenapa sholat harus pakai bahasa arab ? Kenapa nggak boleh pakai bahasa apa aja, kan Allah maha pintar ren, Allah bukan hanya paham bahasa arab, pastinya Allah juga paham bahasa kita dong !"

Sekilas logic juga sih apa yang dikatakan teman saya. Saya berpikir keras untuk memberi jawaban yang juga sama logic nya.

"Non, lu sering baca kan ada beberapa persyaratan untuk melamar pekerjaan, seperti harus bisa berbahasa inggris aktif, harus bisa berkomunikasi dalam bahasa mandarin, harus bisa bahasa jepang, dsb. Pernah tahu ?"

"Pernah, emang kenapa ?"

"Kenapa sih harus ada syarat itu ?"

"Biasanya sih itu perusahaan asing yang sering berhubungan dengan orang-orang asing, maka karyawannya harus bisa beberapa bahasa asing yang dipersyaratkan itu ?"

"Kan sudah ada bahasa Inggris yang dinobatkan sebagai bahasa Internasional, harusnya itu para klien pasti paham dong bahasa inggris, tapi kenapa masih ada persyaratan lain harus bisa bahasa asing lain selain bahasa inggris ?"

"Yaaa perusahaan itu skalanya internasional ren, harus bisa kasih service bagus ke klien mereka, salah satunya berkomunikasi dengan bahasa kliennya. Kan para klien itu ngasih keuntungan ke perusahaan."

"Hemmm... lu pernah tahu nggak ada toko baju dan souvenir di phuket, itu pemilik tokonya bisa fasih bahasa Indonesia, Inggris, Malaysia, China, Arab dan Jepang. Pas gue tanya apa motivasinya belajar semua bahasa itu ? Dia jawab, karena customer saya rata-rata dari negara-negara itu. Dari customer saya itu, saya bisa mendapatkan banyak keuntungan, maka saya harus bisa dekat dihati mereka dengan menggunakan bahasa dari negara mereka."

Sampai disini temanku terdiam, mencoba mencerna arah ceritaku. Aku melanjutkan :


"Lu juga perlu tahu untuk jadi pramugari first class Garuda bukan hanya harus fasih bahasa inggris, bahasa mandarin dan bahasa jepang, tapi saat mereka bicara, aksennya juga harus pas. Kenapa ? Ini first class non, penumpangnya bukan orang sembarangan. Pelayanannya juga harus beda, pramugarinya yang harus mengikuti bahasa mereka, bukan penumpangnya yang harus mengikuti bahasa pramugari ! TKI/TKW aja harus bisa bahasa asing sesuai dengan negara yang akan mereka tuju kok."

Temanku masih terdiam.

"Waktu lu mau kuliah di Kanada, apa mereka mau terima lu apa adanya yang hanya bisa bahasa Indonesia ?"

"Ya nggaklah !"

"Lho kenapa ? Padahal kan lu mau ngasih uang ke universitas mereka ?"

"Kan gue kuliahnya di Kanada. Kalo setiap siswa mau pakai bahasa asal negaranya masing-masing, bisa kacau, bisa salah arti !"

"Yess itulah ! Bahasa Arab adalah bahasa pemersatu umat Islam. Suka tidak suka, mau tidak mau, sudah qodarullah Allah menurunkan firmanNYA menggunakan bahasa Arab ! Maka untuk berkomunikasi dengan Allah harus menggunakan bahasa yang Allah turunkan sesuai bahasa asal firmanNYA. Bukan karena Allah tidak tahu bahasa lain selain bahasa Arab, tapi bila dengan klien asing dan penumpang pesawat first class saja mereka dikatagorikan bukan orang sembarangan, sehingga para karyawan dan pramugari itu tidak boleh memperlakukan mereka dengan sembarangan, lantas bagaimana dengan Allah ? Masa' sama yang punya dunia akhirat, kita merasa bisa suka-suka kita, padahal sama klien asing itu kita nggak boleh suka-suka kita. Universitas lu di Kanada aja boleh nuntut lu harus menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi disana, padahal mereka dapet bayaran dari lu. Masa' Allah nggak boleh nuntut lu sih untuk pakai bahasa yang IA gunakan saat menurunkan firmanNYA. Padahal lu dikasih kehidupan sama Allah, dikasih rizki sama Allah, dikasih segalanya sama Allah. Jadi Allah yang ikutin kita atau kita yang harus ikutin Allah ?"

Temanku tersenyum. "Yayaya, gue paham sekarang."


"Oh iya satu lagi non. Gue ada pengalaman, waktu mampir di sebuah rest area ada pedagangnya yang orang Banten. Saat itu gue jalan bareng suami dan kakak ipar gue. Saat ngobrol-ngobrol sama pedagangnya ternyata si pedagang orang Pandeglang. Suami dan kakak ipar langsung ngomong pakai bahasa Pandeglang dengan bahasa dan aksen yang pas khas Banten. Tahu nggak saat kami mau pulang, dia bawain kami jajanan banyak. Katanya berasa ketemu orang sekampung, berasa deket sama kampungnya. Dia juga minta kami mampir lagi kalo lewat situ. Kenapa dia bisa berlaku seperti itu ? Karena kami bukan hanya bicara bahasa Pandeglang, tapi juga disertai aksen yang pas dengan bahasa tersebut. Kalo cuma pakai bahasa Pandeglang tapi aksennya nggak pas, mana dia percaya kalo kami dari Banten ? Manusia aja bisa begitu. Kebayang nggak sih lu, kira-kira lu bakal dapet kemudahan apa aja nih dari Allah kalo lu mengaji, membacakan setiap do'a dalam sholat dengan bahasa arab dengan tartil yang pas ?"

Mata temanku berbinar.

"Masya Allah... thank you ren, kayaknya gue perlu menghubungi guru tahsin gue lagi nih !"

"Semangat ya non ! Gue juga masih terus belajar kok !"😉


A note from Canada
Sat, July 14, 2018

HANYA BUTUH TAAT DAN ISTIQOMAH

(Nama & tempat dirahasiakan, agar tidak menjadi riya) Dulu saat saya jadi wanita karier, seolah tidak masalah sedikit-sedikit nabra...

Postingan Populer